Mentan SYL Ajak Tujuh Rektor Perkuat Sistem Perkarantinaan
Jakarta – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengajak tujuh rektor
dari Perguruan Tinggi di Wilayah Timur tanah air untuk memperkuat
sistem perkarantinaan pertanian.
Hal ini disampaikan pria yang biasa disapa SYL ini saat menyaksikan
penandatangan kerjasama Badan Karantina Pertanian (Barantan) dengan
perguruan tinggi tersebut secara virtual di Agriculture War Room,
Jakarta, Jumat (28/8).
“Saya sangat mengapresiasi kerjasama ini karena Barantan dalam
menjalankan tugasnya harus terus memperkuat pengawasan keamanan pangan
dan pengendalian mutu baik produk pangan maupun pakan asal produk
pertanian di pintu-pintu tanah air, ” kata Mentan dikutip dari laman
resmi Kementerian Pertanian, Minggu (30/8).
Menurutnya, pesatnya perkembangan saat ini, maka Barantan tidak lagi
hanya menjaga sumber daya alam hayati dari hama penyakit hewan dan
tumbuhan. Dan kini potensinya meningkat akibat arus lalu lintas
manusia dan media pembawa baik hewan dan tumbuhan yang juga terus
meningkat.
Dan ini, tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa-biasa, harus ada
terobosan, harus ada inovasi. Untuk inilah kerjasama dengan dunia
pendidikan baik nasional maupun internasional sangat dibutuhkan.
“Inovasi biosensor untuk mendeteksi cepat hama penyakit hewan dan
tumbuhan sangat dibutuhkan, karena dengan lalu lintas yang tinggi,
pemeriksaan juga harus akurat, jika tidak maka hama penyakit bisa
masuk dan mengancam sumber daya alam hayati kita,” papar Mentan lagi.
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu yang
hadir sebagai salah satu dari tujuh perguruan tinggi menyampaikan
kesediaannya untuk turut mendukung harapan Mentan terkait pengembangan
inovasi dibidang biosensor.”Kami siap berkolaborasi Pak Menteri baik
dengan Barantan dan Balitbangtan, terlebih diwilayah timur ini kaya
akan sumber daya alam hayati yang harus dilindungi,” ujarnya.
Sementara, Dr. Meky Sagrim, Rektor Universitas Papua menyebutkan saat
ini petani diwilayahnya sangat menbutuhkan bantuan akibat serangan
hama pada tanaman Kakao.”Beberapa tahun lalu kami bisa ekspor,
sekarang tidak lagi karena hama.
Untuk itu kerjasama dengan Barantan ini sangat kami apresiasi, semoga
petani di Papua dapat segera kembali bersemangat bertanam Papua dan
bisa ekspor lagi,” katanya.
Selain dua perguruan tinggi tersebut, berikut lima perguruan tinggi
yangbmenandatangi nota kesepahaman yakni Universitas Cendrawasih,
Universitas Gorontalo, Universitas Sam Ratulangi, Universitas
Alhaairat dan Universitas Tadulako.
Implementasi Kerjasama untuk Pertanian Modern
Kepala Barantan, Ali Jamil yang didampingi Kepala Pusat Kepatuhan,
Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Juanedi sesaat setelah
melakukan penandatanganan kerjasama ini menyampaikan bahwa
implementasi kerjasama juga berupa penguatan laboratorium dan
peningkatan kompetensi SDM dikedua belah pihak.
Lebih lanjut Jamil menyebutkan pelaksanaan tindakan karantina dalam
kegiatan ekspor dan impor perlu didukung dan didasari oleh justifikasi
ilmiah yang bersumber dari lembaga-lembaga riset diantaranya perguruan
tinggi.
Penguatan justifikasii ilmiah juga digunakan untuk pelaksanaan
perkarantinaan dalam rangka perlindungan sumber daya alam hayati
seperti IAS (Invasive Alien Species) dan SDG (Sumber Daya Genetik).
“Era sekarang ini kebijakan tarif tidak lagi populer sehingga
kebijakan teknis sanitari dan fitosanitari menjadi penentu dalam
ekspor produk pertanian. Untuk itu Barantan yang bertugas menjamin
pemenuhan persyaratan SPS negara tujuan ini berperan sangat
strategis,” tutup Jamil.