Mentan Perkuat Regenerasi Petani dengan Penerapan “Smartfarming”

Indoagribiz – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memperkuat regenerasi petani dengan mengajak petani muda bergiat menerapkan teknologi smartfarming dalam pengembangan budi daya pertanian.

Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (27/6), mengatakan pertanian berbasis teknologi memudahkan petani dalam budi daya yang lebih efisien dan modern.

“Petani Bali dan petani muda keren Bali adalah sesuatu lompatan yang kita coba lakukan untuk tidak saja membiarkan pertanian itu berjalan apa adanya, sama dengan yang kemarin tidak berarti yang kemarin jelek, tetapi kita harus ada loncatan untuk naik kelas di masa pandemi ini,” kata Mentan dalam acara “Program Millenial Smartfarming” di Kabupaten Buleleng, Bali.

Mentan mengatakan Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen menyiapkan SDM pertanian yang berjiwa wirausaha. Oleh karenanya salah satu program utama Kementan dalam menjamin produktivitas, kontinuitas, dan ketahanan pangan, adalah penumbuhan 2,5 juta pengusaha pertanian milenial sampai  tahun 2024.

“Hari ini pemuda millenial kita di Buleleng ini mencoba aplikasi bersama BNI yang kita support bersama dan ini sesuai arahan Bapak Presiden membangkitkan petani petani muda kita untuk bisa tertarik pada dunia pertanian, kita akan dorong ini,” ujar Mentan Syahrul.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan pendapatan daerah Kab upaten Buleleng 64 persen bersumber dari sektor pertanian sehingga perlu dilakukan perbaikan tata guna pertanian sehingga pembagian lahan untuk pengembangan khusus hortikultura atau pertanian berkelanjutan.

Sementara itu Ketua Komunitas Petani Muda Keren (PMK) Gede Agung Wedhatama mengaku penggunaan smartfarming dengan Internet of Things (IoT) mendukung pertanian dari hulu sampai ke hilir.

“Terkait smartfarming ini kami memang dari petani muda keren memberdayakan, menstimulasi, teman-teman kita untuk menggunakan IoT sebagai supporting aktivitas pertaniannya,” kata Agung.

Agung mengaku efisiensi bertani dengan penerapan smartfarming hampir 90 persen. Tidak hanya itu, aktivitas menyiram, memupuk, menyemprot biopestisida maupun hayati menjadi lebih murah dan efisien karena bisa dilakukan dari jarak jauh dan bisa lebih tepat sasaran.

“Harapannya smartfarming ini benar benar-benar bisa menjadi solusi bagi petani kita, petani muda sehingga semakin banyak anak anak Bali yang semangat menjadi petani,” kata Agung.