Jakarta(Indoagribiz). Pembangunan sektor agribisnis berkelanjutan hanya dapat dipertahankan dengan menjaga lahan pertanian agar tetap subur dan produktif. Salah satu faktor penentu tingkat kesuburan lahan pertanian yakni pupuk organik penggunaannya masih terus digalakkan di tingkat petani. Dalam Forum Diskusi Agrina yang digelar (27/2) di Hotel Sahati Ragunan, Jakarta Selatan mengemuka pembahasan Penggunaan Pupuk Organik, Hayati, dan Pembenahan Tanah untuk Meningkatkan Produktivitas Padi Berkelanjutan.

Bungaran Saragih Dewan Redaksi Agrina yang juga Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) mengemukakan bahwa pembangunan pertanian khususnya padi sebagai komoditas pangan utama, saat ini menjadi sangat strategis karena menyangkut kedaulatan pangan nasional berkelanjutan. “Tidak saja untuk peningkatan produksi dan produktivitas padi tetapi juga bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani serta upaya pengentasan kemiskinan di pertanian,” kata Bungaran pada saat membuka Forum Diskusi Agrina. Untuk itu menurutnya diperlukan penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenahan tanah dalam upaya meningkatkan produktivitas padi berkelanjutan.

Namun sejumlah tantangan masih menyeruak dalam penggunaan pupuk organik. Diungkapkan Muhrizal Sarwani, Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian, bahwa pemerintah terus mendorong penggunaan pupuk organik sejak 2008 lalu. “Awalnya memang kualitas dikeluhkan. Sekarang mutu lebih baik. Penyerapan pupuk organik oleh petani melalui subsidi selama tiga tahun terakhir, 2016-2018 rata-rata sudah mencapai 700 ribu ton/tahun,” ungkap Muhrizal.
Tidak dapat dipungkiri penggunaan pupuk organik terbilang masih rendah pasalnya sebagian petani masih mempertanyakan kualitas dan standarisasi pupuk organik yang ada saat ini. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian juga tengah berupaya mengatasi persoalan mutu pupuk organik, hayati dan pembenah tanah, Kementan telah menelurkan Permentan 01/2019 tentang Pendaftaran Pupuk Organik dengan pendekatan persyaratan teknis minimal.
Menurut Muhrizal, selain menerapkan standar, upaya tersebut diharapkan petani mendapatkan jaminan kualitas pupuk organik dan pemerintah bisa melakukan pengawasan. Ia mengakui, sosialisasi penggunaan produk tersebut kepada petani masih kurang. Penyuluhan dan pelatihan perlu ditingkatkan.
Hal ini diakui Winarno Tohir, Ketua Umum Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan, bahwa perlunya gerakan penggunaan pupuk organik di tingkat petani.”Lahan kita sudah mengalami leveling off. Apalagi berdasarkan BPS terbaru lahan baku pangan kita turun 600 ribu ha, menjadi 7,1 juta ha. Kita perlu tambahan penyuluh untuk sosialisasi penggunaan pupuk organik, hayati dan pembenah tanah. Bahasanya ke petani harus beda. Harus bikin bahasa petani,” tutur Winarno.
Upaya mendorong peningkatan penggunaan pupuk organik di tingkat petani juga didukung produksi pupuk organik yang mumpuni. Diungkapkan Arif Fauzan, Direktur Teknik dan Pengembangan PT Petrokimia Gresik, bahwa Petrokimia Gresik mempunyai kapasitas produksi pupuk organik 1,6 juta ton tetapi karena kekurangan bahan baku sehingga realisasinya baru setengah. “Kami siap memproduksi pupuk organik dengan standar-standar yang baik dan jumlah yang memadai sesuai kebutuhan di tingkat petani,” ujar Arif.
Dukungan serupa juga datang dari Asosiasi Bio Input (ABI), disampaikan Dhini Yulliantika, Asosiasi Bio Input yang beranggota 11 perusahaan juga ikut mendukung penggalakkan penggunaan pupuk organik di tingkat petani. “Kamu juga sudah mengaplikasikan demplot budidaya padi sehat dan padi rawa. Kami juga tidak hanya jualan tetapi juga memberikan pendampingan kepada petani,” tandas Dhini. (Indoagribiz/DS)