Dengan  penuh semangat, Haji Artim Yahya (54 tahun), bercerita tentang kondisi beberapa desa Nusa Tenggara Barat yang sekarang banyak berubah. Sebut saja Desa Santong yang udaranya sejuk seperti Bogor, kini menjadi pusat buah-buahan seperti durian, manggis, alpukat, dan kakao. Desa Salut dan Desa Tangga mulai terkenal sebagai desa penghasil kemiri, sedangkan Desa Mumbul Sari yang  mengembangkan madu.

Menurut petani yang tahun lalu terpilih sebagai Tokoh Perubahan sebuah media nasional ini, desa-desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani tersebut sangat intensif mengembangkan pengelolaan potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK). “Alhamdulillah, desa-desa di sini sekarang sering menjadi lokasi pembelajaran bagi daerah-daerah lain, termasuk tamu-tamu dari luar negeri,” ujar Artim bangga.

Saat ini, untuk memberikan nilai tambah pada beberapa potensi HHBK yang dikembangkan di desa-desa tadi, kata Artim, telah dibangun dua rumah produksi yang terletak di Desa Mumbul Sari untuk Rumah Produksi Madu dan Desa Salut Rumah Produksi Kemiri di Kabupaten Lombok Utara. Sedangkan satu rumah produksi lainnya dibangun di Desa Lantan Kabupaten Lombok Tengah yaitu Rumah Produksi Keripik.

Desa Mumbul Sari, juga telah mendapat bantuan 2000 sarang lebah serta koloninya yang pada Agustus 2017 ini siap dipanen. Menurut Artim perkembangan Desa Mumbul Sari sangat luar biasa. Dari awalnya hanya memiliki  sekitar  285 sarang madu, sekarang sudah menjadi lebih dari 2000.

Pembangunan rumah produksi dan bantuan sarang lebah tersebut merupakan bagian program yang diinisiasi WWF-Indonesia dan difasilitasi Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia). Dimulai sejak Agustus 2016, program ini bermaksud meningkatkan perekonomian masyarakat lokal dengan pemanfaatan HHBK secara berkelanjutan di lansekap Gunung Rinjani. Program yang mendapatkan Hibah Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat MCA-Indonesia ini memadukan peningkatan kesejahteraan penduduk dengan konservasi keanekaragaman hayati di lingkungannya.

Koordinator Program WWF-Indonesia Syafruddin mengatakan, salah satu kegiatan program adalah pembangunan tiga rumah produksi untuk madu, kemiri, dan keripik. Rencananya, setelah Lebaran nanti tiga rumah produksi itu telah siap beroperasi dan akan diresmikan oleh Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar. Rumah produksi berukuran sekitar 40 meter persegi  dilengkapi dengan mesin pengemasan yang akan meningkatkan kualitas produk. Keberadaan rumah produksi diharapkan akan menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas kemasan HHBK.

Nantinya, rumah produksi akan menjadi pusat pemrosesan dan standardisasi mutu produk. Kita akan menggandeng dan mengajak desa-desa lain juga untuk melakukan standardisasi mutu di rumah produksi ini, “ tutur Syafruddin.

Pengelolaan rumah produksi, nantinya akan diserahkan kepada koperasi dan kelompok usaha bersama yang sejak awal sudah terlibat aktif dalam program berjalan. Mereka sudah teregistrasi di Dinas Perindustrian masing-masing kabupaten karena  telah mempunyai kelengkapan tanda daftar industri. Sebagai inisiator program, WWF sedang mendorong mereka  menyiapkan prosedur operasional standar serta sumber daya manusia yang bisa bekerja penuh waktu untuk mengelola rumah produksi.  Selain itu, untuk keberlanjutan rumah produksi, WWF telah menggandeng pemerintah daerah untuk membantu perawatan bangunan rumah produksi dan mesin pengemasan. Saat ini,  beberapa inisiatif lain juga tengah dirancang seperti kerja sama dengan Rumah Kemasan di Mataram dan juga pengembangan pasar ke para pelaku usaha..

Keberadaan rumah produksi ini, kata Syafruddin, rupanya telah membuat Dinas Perindustrian Kabupaten Lombok Utara terdorong turut serta  mengembangkan industri kecil dan menengah di desa-desa sekitar Gunung Rinjani. Inisiatif tersebut disambut dengan strategi berbagi tugas sehingga lebih banyak lagi desa-desa  yang mempunyai standar mutu produk HHBK seperti yang telah dikerjakan WWF. Dalam program yang saat ini sudah berjalan, WWF sudah memfasilitasi 12 desa, sedangkan sekitar 90 desa yang ada di sekitar Gunung Rinjani dapat difasilitasi oleh pemerintah daerah.

“Sejak awal, kami sudah merancang 12 desa ini bisa menjadi best practice (praktik cerdas) pengelolaan HHBK yang bisa ditularkan ke desa-desa lain di sekitar Gunung Rinjani. Pemerintah daerah bisa memfasilitasi desa-desa lain yang belum kami sentuh,” ujar Syafruddin.

Selain pembangunan rumah produksi, dalam program pemanfaatan berkelanjutan HHBK, WWF juga melakukan kegiatan peningkatan kapasitas petani pengelola, membuka akses permodalan, termasuk membuka akses jaringan pasar. Syafruddin mengatakan, program pemanfaatan berkelanjutan HHKB berlangsung di tiga  kabupaten yaitu Lombok Timur, Lombok Utara dan Lombok Tengah, terdiri dari tiga kecamatan dan 12 desa. Penerima manfaat program ini diperkirakan mencapai 3.590 petani pengelola hutan kemasyarakatan serta 1.507 petani di empat desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Rinjani.

“Ke depan, kami berharap melalui program ini pengelolaan HHBK dengan akan terintegrasi  dengan agenda pembangunan daerah,” tutur Syafruddin.

Dari sisi ekonomi, Etty (36 tahun) salah seorang petani kemiri di Desa Salute merasakan manfaat program yang diinisiasi oleh WWF. Menurutnya sejak mengikuti program peningkatan perekonomian masyarakat lokal, dia dapat membantu ekonomi keluarganya. Setiap bulannya, kata Etty, dia bisa menerima tambahan penghasilan sekitar Rp 200 ribu dari hasil mengolah kemiri.

Hal senada juga dikatakan Artim Yahya, program yang dikelola WW punya beberapa manfaat. Selain mampu menambah penghasilan para petani pengelola, program ini juga mampu mendorong pihak-pihak terkait untuk terlibat. “Sekarang desa-desa mulai ikut mendukung program. Itu artinya, program WWF di sini sudah bisa mengintervensi kebijakan lembaga desa, suatu hal yang selama ini tidak ada pada program-program sebelumnya,” ujar Artim mengakhiri pembicara.