(Indoagribiz).Permintaan daging itik terus meningkat, peluang ini menjadi bisnis baru yang kian dilirik Pola kemitraan pun dirancang disertai pembangunan RPHU khusus itik yang digadang sebagai penyangga kestabilan harga. Mengutip dari laman Trobos.com,Saiful Arifin,pelaku usaha bidang peternakan Kemitraan Itik menjelaskan, potensi usaha dan pangsa pasar yang masih terbuka lebar, untuk usaha program kemitraan itik.

Ia ingin usaha peternakan itik bisa naik kelas dan mampu meningkatkan kesejahteraan peternaknya. “Saya ingin memberi contoh dan edukasi kepada masyarakat dari beternak itik ini. Dengan skala usaha yang ekonomisdan produktivitas itik yang baik diharapkan sebagai daya tarik masyarakat untuk menjadi peternak dan memperoleh pendapatan yang pasti,” tekadnya.

Arifin pun pada tahap awal ini telah membina sekitar 50 peternak dengan target total untuk kemitraan itik ini sebanyak 4.000 peternak.Wilayah administratif Pati yang terdiri dari 21 kecamatandengan20 kelurahan dan 400 desa ditargetkanada 200 desayang menjadi lokasi kemitraan itik, dimana setiap desa ada 20 peternak, dan 1 peternak memelihara 1.000 ekor. “Bisa dibayangkan jika target ini tercapai 2 tahun ke depan, populasi total kemitraan ini bisa mencapai 4 juta ekor sekali siklus. Namun ini perlu kerja keras yang maksimal dan dukungan perbankan,” kilahnya.

Setiap peternak dalam kemitraan ini akan dimodali Rp 25 juta. Jika dikalikan dengan 4.000 peternak maka ada sekitar Rp 100 miliar uang yang berputar untuk skala ini.

Peternak pun akan disiapkan DOD(itik umur sehari), pakan,dan pasarnya. Ada kontrak harga di muka agar saat harga turun, peternak tidak rugi dan ketika harga naik ada bonus pemeliharaan sebesar 25 % dari selisih harga kontrak. “Harga kontrak Rp 20 ribu per kg tetapi tergantung dengan harga pasardan peternak dijamin untung. Kalau peternak memelihara itik sebanyak 1.000 ekor, kurang lebih akan mendapatkan sekitar Rp 4-5 juta per siklus yang berlangsung sekitar 40-50 hari. Ini sangat menjanjikan karena UMP (Upah Minimum Provinsi) di Pati Kabupaten sekitar Rp 1,5 juta,” ungkapnya.

Ia menyatakan, kemitraan ini untuk pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan masyarakat karena peternak itik umumnya di daerahpinggiran. “Kalau mau untung sendiri saya tinggal membuat peternakan itik dengan populasi yang besar tetapi bukan itu tujuannya. Saya ingin membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraannya dengan berkontribusi dan menikmati bagaimana memelihara itik sebaik-baiknya tanpaperlu memikirkanmodallalu menjualnya dengan harga yang pantas,” terangnya.