INDOAGRIBIZ–Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) berupaya memberdayakan petani lewat pembiayaan Qardhul Hasan tanpa beban bagi hasil dan angsuran untuk mendorong kemajuan sektor pangan dan kesejahteraan para petani lewat program Gerakan Tani Bangkit.

“Pemberian modal menggunakan skema pembiayaan Qardhul Hasan membuat para petani tidak dikenai beban bagi hasil dan angsuran tapi mereka akan didampingi untuk menunaikan zakat pertanian produktif,” kata Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan MEK Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten Wahyudi Nasution dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Sabtu (20/1).

Dia mengatakan, zakat pertanian adalah sebesar lima persen dari hasil panen bersih yang akan dikelola melalui Lazismu di daerah Klaten. Program akan mendampingi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Dewi Sri Makmur dalam memperluas lahan pertanian organik yang sudah ada saat ini dengan luas 12 hektare. Proyek percontohan itu akan berlangsung selama tiga tahun dengan lokasi di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.

Wahyudi mengatakan hasil yang dihimpun dari zakat pertanian itu akan dipergunakan kembali untuk melaksanakan pelatihan-pelatihan dan perluasan lahan pertanian organik di Desa Gempol dan sekitarnya yang berada di kecamatan berbeda.”Mudah-mudahan pada Muktamar Muhammadiyah ke-48 tahun 2020 di Solo nanti, Gempol akan menjadi destinasi kunjungan studi banding para muktamirin dan penggembira,” ujar dia.

Dalam tiga tahun ke depan, kata dia, agar ada penambahan lahan minimal 16 hektare. Program itu akan mendampingi pemberdayaan 80 petani melalui pendekatan kelompok berikut dengan pemberian modal bertani.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hajriyanto Y. Thohari mengatakan, Gerakan Tani Bangkit merupakan upaya Muhammadiyah dalam memaknai secara luas soal dakwah. Dakwah tidak hanya sekadar ritual dan bersifat personal tapi harus bermanfaat sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat.

Dia mengatakan program yang diluncurkan di Klaten, Jawa Tengah pada 14 Januari itu merupakan proyek percontohan dengan melibatkan dukungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan MEK PDM Klaten.

Menurut dia, program itu merupakan gerakan emansipasi. Upaya pemberdayaan yang dilakukan Muhammadiyah berupaya mengangkat harkat dan martabat masyarakat, khususnya petani. Dengan demkikian, petani memiliki kedudukan yang terhormat di tengah masyarakat. [moh]