INDOAGRIBIZ–Optimalisasi lahan menjadi lahan produktif menjadi salah satu langkah pemerintah dalam peningkatan produksi, khususnya lahan pertanian. Dengan proyeksi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045, pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri menjadi tolak ukur yang nantinya berujung pada ekspor pangan.

Peningkatan produksi terus dilakukan mulai dari pemilihan benih berkualitas, upaya peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT), sampai optimalisasi lahan seperti memberdayakan lahan rawa menjadi area persawahan.

Di Desa Palabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan Induk, Kabupaten Ogan Illir, misalnya, lahan rawa “disulap” menjadi lahan pertanian. Areal rawa seluas 500 hektare disulap menjadi lahan produktif pertanian yang mampu tanam hingga 3 kali dalam setahun.

“Hari ini jujur kami agak demam, begitu melihat keberhasilan Pak Bupati, Pak Kadis, kami langsung sembuh, kami pakai jaket tadi kami terasa masih demam tadi subuh, begitu tadi berdiri di pojok sana, dulu ini seperti lautan, hari ini menjadi lautan padi,” seloroh Amran saat meninjau lahan rawa tang dijadikan lahan pertanian tersebut, pada Minggu (15/10).

Menurut Amran, potensi lahan rawa di Provinsi Sumatera Selatan mencapaI 483.000 hektare. Nantinya lahan tersebut akan dioptimalkan untuk lahan pertanian. Dengan produktifitas yang mampu mencapai 8 ton per hektar, jika hal ini mampu dicapai maka mampu memproduksi hampir 2 juta ton beras sekali panen atau hampir setara dengan kebutuhan beras nasional per bulan yakni 2,6 juta ton.

“Teknologi menjadi kunci keberhasilan inovasi ini. Akan tetapi, teknologi dan mekanisasi pertanian yang dikembangkan tidak menghilangkan atau mengesampingkan para buruh tani,” ujar Amran.

Teknologi pertanian memang membantu petani dalam meningkatkan taraf hidupnya. Juriah, salah satu buruh tani yang hadir, mengaku di depan Menteri Amran, dalam sehari memperoleh penghasilan Rp 50.000. Namun dengan menggunakan alat mesin pertanian nanti penghasilannya mampu melonjak hingga 300% atau Rp 6 juta per bulan.

“Biasanya kalau bulan Oktober di sini paceklik terkenal tidak ada panen disini, kita lihat (sekarang) hijau panen, dengan teknologi baru, kita membuat kanalisasi, semua kita kanalisasi, sehingga banjir tidak masuk. Kalau masuk ada pompa, kalau musim kering kita pompa masuk, kalau musim hujan kita pompa keluar. Hasilnya 3 kali panen yang dulunya tidak ada panen,” jelas Menteri Amran.

Foto : laman resmi Kementerian Pertanian