Jakarta(Indoagribiz). Garam merupakan salah satu komoditas strategis yang masih bergantung pada impor. Produksi garam dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan industri.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti menjelaskan dalam konfresi pers di Kementerian Kelautan dan Perikanan (1/3) lalu, pada 2018 lalu impor garam tercatat sekitar 2,6 juta ton. “Realisasi impor ini lebih kecil dari rencana impor garam yang mencapai 3 ton lebih, tahun 2019 kita masih harus impor sekitar 2,7 juta ton rencananya,” ungkapnya.

Sedangkan untuk produksi garam rakyat Tahun 2018 mencapai 2.350.768,02 ton, PT. Garam mencapai 367.260 ton, total sebesar 2.718.028 ton (data BPS) atau naik 145 % dari produksi tahun 2017 sebesar 1.111.395 ton.

Menurut Brahmantya garam merupakan komoditas strategis  yang diperlukan baik untuk pangan dan non pangan termasuk industri makanan dan farmasi. Karena itu penerapan manajemen stok melalui gudang penyimpanan diperlukan untuk menjamin stok. Termasuk pengaturan jumlah impor garam yang masuk.

“Kami kawal terus¬† jumlah garam impor yang masuk sesuai kebutuhan agar tidak over supply dan membuat harga garam ditingkat petani jatuh, terutama di masa panen mulai sekitar Juli jangan sampai garam impor masuk membanjiri pasar lokal,” ucap Brahmantya.

Kualitas Garam

Salah satu alasan masih tingginya impor adalah secara kualitas produksi garam rakyat belum mampu memenuhi standar kualitas garam yang dibutuhkan industri.

Karena itu KKP berusaha mendorong peningkatan kualitas garam produksi lokal.Salah satu upaya yang dilakukan  KKP dengan integrasi lahan dan pembangunan gudang garam.

Kementerian yang digawangi Susi Pudjiastuti ini masih konsisten menjalankan Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR). PUGAR bertujuan untuk mensejahterakan dan meningkatkan penghasilan petambak garam dan sudah dimulai sejak tahun 2011. Salah satu program PUGAR yaitu dibangunnya GUDANG Garam Nasional (GGN).

Dalam implementasinya, hingga tahun 2018 KKP telah membangun Gudang Garam Nasional (GGN) sejumlah 18 unit yang tersebar di Kab. Pidie Jaya, kab. Karawang, Kab. Indramayu, Kab. Cirebon, Kab. Brebes, Kab. Demak, Kab. Pati, Kab. Rembang, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Sumenep, Kab. Bima, Kab. Sumbawa, Kab. Kupang, Kab. Jeneponto dan Kab. Pangkep.

Gudang ini akan digunakan sebagai tempat penyimpanan garam hasil produksi petambak garam dengan kapasitas 2.000 ton yang dikelola oleh koperasi garam di masing-masing sentra garam rakyat. Ke depan Program PUGAR akan mengembangkan Kawasan Ekonomi Garam (KE-Garam) yang bertujuan selain untuk meningkatkan kualitas garam dan penetrasi pasar dimana mencakup Integrasi sistem stok berbasis pasar dan keunggulan wilayah, sehingga hulu hilir industri garam rakyat akan tersambung. (DS)