Kopi Malabar Rambah Pasar Ekspor

Jakarta (Indoagribiz)—-  Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong generasi milenial membangun pertanian,  dengan berwirausaha di sektor pertanian. Diantaranya dengan berwirausaha kopi, yang saat ini banyak digandrungi kalangan milenial.  Bahkan, usaha kopi yang dikembangkan sejumlah kalangan milenial sudah merambah pasar ekspor.

Melalui  kegiatan TIK-Talk (Tani Inspiratif Kekinian Talkshow), dengan tema Pertanian Itu Keren, Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, pada tanggal 1 Oktober 2021 lalu berupaya mendorong generasi milenial untuk menekuni wirausaha pertanian. Acara yang digelar di  Ruang Selasar, Lantai I, Gedung PIA, Kantor Pusat ( Kanpus ) Kementan menyajikan tiga topik utama wirausaha.

Tiga topik utama tersebut,  antara lain  menampilkan Manajer Kopi Malabar , yang membahas cara keren memasarkan hasil pertanian, dan Influencer/CEO @ternaq.indonesia membahas bisnis pertanian keren pilihan selebriti. Sedangkan Founder S3 Farm membahas usaha keren sayuran hidroponik.

Tiara Dwi Rahayu selaku Manajer Kopi Malabar,  menyampaikan kisah perjuangannya menggeluti usaha kopi. Berawal dari orangtuanya yang semula berprofesi petani sayuran, ia dikenalkan budidaya kopi dan diajak tanam kopi sejak kelas 3 SD oleh sang ayah.

Menurut Tiara, pada tahun 2008, kopi belum setenar sekarang. Sejak saat itulah,  ia mulai mengenal dan terjun belajar tentang pengolahan dan budidaya kopi bermula dari kunjungan turis ke daerahnya. Bahkan, hingga kini komitmen menekuni pengembangan kopi terus berlanjut

Tiara melalui brand Kopi Malabar berhasil melakukan ekspor pertama kali pada tahun 2009 ke Kuwait kurang lebih sebanyak 6 ton.  “Saya mengenal dan belajar tentang kopi sejak kelas 3 SD dengan kebun kopi seluas 1 ha. Dengan 1 ha kopi ini bisa membiayai sekolah hingga kuliah, dan memenuhi kebutuhan hidup kami,” ujar Tiara, di Jakarta, Jumat (5/11).

Kopi Malabar ada 4 proses. Namun, yang  paling favorit dikembangkan  Kopi Malabar yaitu dry hull, yang  cita rasanya masih masuk ke lidah semua orang.

Menurut Tiara, di Indonesia, penyebaran Kopi Malabar semakin meluas,  dan sudah cukup banyak. Sedangkan untuk pasar luar telah menjangkau Singapura, Taiwan, dan Jepang. “ Sesuai rencana, kami akan  coba tembus negara Eropa ,yaitu London,” ujarnya.

Wirausaha kopi, lanjut Tiara, banyak menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah, fase perubahan dari kebun sayur ke kopi.  Mengolah dan mengembangkan kopi yang dilakukan orang tuanya pada 2002 tentu saja tidaklah mudah. Persoalannya sangat kompleks, namun ia dan keluarganya giat mencoba selama dua tahun. Meski  ketika itu menemui banyak kegagalan, hal itu tak mematahkan semangatnya.

Setelah jatuh banguan,  titik terang usaha kopi mulai terlihat pada 2004. Pada saat itu, Tiara dan keluarganya berhasil mendapatkan benih kopi berkualitas dari daerah Medan. Berkat benih berkualitas tersebut, bisnis kopi yang ditekuninya semakin bersinar hingga saat ini.

“Terjun bisnis kopi ini harus siapkan mental, berani rugi, aktif mencari peluang pasar. Ketika menghadapi kegagalan harus bangkit, fokus usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan sebisa mungkin bermanfaat bagi sekitarnya,” kata Tiara.

Bagi Tiara, kopi sangat berarti dalam hidupnya. Menurutnya, kopi itu berkualitas.  Orang yang minum kopi, orang yang menghargai kopi, orang yang mengerti bagaimana proses kopi hingga bisa dikonsumsi masyarakat adalah orang yang berkualitas. Hal itu dikarenakan,  kopi tidak mudah diolah. Untuk memulai mengolahnya harus diperhatikan baik-baik saat di kebun, pengolahan, tempat penyimpanan, kualitas sampai packagingnya turut diperhatikan.

Menurut Tiara, untuk mendapatkan kualitas kopi yang baik tidak mudah. Karena,  pernah ditemui kopi yang palsu atau asalan,  ada yang dicampur dengan jagung dan bahan campuran lainnya yang bisa merusak rasa dan kualitas kopi.

Lantas bagaimana menjaga kualitas kopi? Menurutnya,  pihaknya selalu berkoordinasi dengan tim yang mengurus kebun, pengolahan dan sortasi.  “ Kami sangat memperhatikan  tanaman yang dikebun dirawat dengan baik, pengolahannya di sortasi dengan memilih  biji yang baik dan mana yang kurang baik, double sortasi maupun tempat penyimpanan juga turut diperhatikan, seperti kelembaban dan sirkulasi harus baik dan bersih karena akan mempengaruhi kualitas kopi,” kata Tiara.

Tiara juga mengatakan, apabila kopi yang asli dan diolah dengan baik tidak akan menyebabkan maag. Akan tetapi,  apabila kopi dicampur dengan bahan lain, justru bisa menyebabkan maag atau penyakit lainnya.

Dalam acara tersebut, selain menampilkan kiat sukses usaha Kopi Malabar, juga diselenggarakan sharing dengan para petani terkait budidaya kopi maupun pengolahan kopi yang baik. Dalam kesempatan tersebut juga dikenalkan kebun kopi yang berkualitas dan turut memberikan benih berkualitas.

Dalam bebagai kesempatan, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Kementan, Dedi Junaedi mengatakan, usaha kopi banyak diminati kalangan milenial. Khususnya café kopi yang umumnya dikelola anak-anak milenial terus berkembang.

“Karena itu pengembangan kopi ke depan tak hanya persoalan produksi, produktivitas dan mutu. Namun, bagaimana menciptakan produk kopi bernilai tambah,” kata Dedi. (dap/Humas Ditjen Perkebunan)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perkebunan