Konsumsi Pangan Lokal Jadi Gaya Hidup Sehat

Jakarta (Indoagribiz)— Pangan lokal menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam mewujudkan gaya hidup sehat. Kementerian Pertanian (Kementan) pun terus mendorong konsumsi pangan lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, aktif, dan produktif.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Agung Hendriadi mengatakan, saat ini semakin banyak yang meminati pangan lokal sebagai gaya hidup sehat. “Salah satu hasil survei mengatakan bahwa alasan utama orang mengurangi mengonsumsi nasi dan ke pangan lokal sumber karbohidrat non beras adalah karena gaya hidup, artinya konsumsi pangan lokal saat ini menjadi tren di kalangan masyarakat,”  kata  Agung dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (24/6).

Kecenderungan ini, lanjut Agung, mendukung masyarakat untuk melakukan diversifikasi pangan, dan tidak bergantung pada satu jenis pangan pokok saja. “Negara kita ini terbesar ketiga di dunia yang memiliki keanekaragaman pangan. Kita punya sagu, kentang, talas, pisang, singkong, dan lainnya. Ada 77 jenis sumber karbohidrat yang dapat dimanfaatkan, belum lagi berbagai sumber protein, rempah, buah-buahan, dan sayuran,” paparnya.

Menurut Agung, pemanfaatan pangan lokal ini memberi kontribusi positif terhadap ketahanan pangan. Artinya kita terus mendorong masyarakat untuk melakukan diversifikasi pangan. Di samping itu, diversifikasi pangan ini membawa hidup lebih sehat.

Hal ini diamini oleh Chef Wira Hardiyansyah yang juga sebagai narasumber dalam sebuah webinar tersebut. Dikatakan, jaman sekarang pangan telah menjadi gaya hidup, termasuk beragam pangan lokal serta inovasinya. Berbagai olahan produk pangan lokal misalnya dari singkong mudah ditemukan dan menjadi inovasi yang mengikuti perkembangan zaman.

Sementara itu, pakar makanan sehat, Gwen Winarno mengajak masyarakat untuk menjadikan konsumsi pangan lokal untuk hidup lebih sehat.

“Perbanyak konsumsi bahan pangan lokal, ada banyak jenis karbohidrat yang menyehatkan, membantu meredakan inflamasi, yaitu umbi-umbian, contohnya singkong, kentang, talas, ini jenis karbo yang tinggi serat, baik untuk pencernaan, kaya vitamin dan mineral,” ujarnya.

Diversifikasi pangan  telah ditegaskan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan. Mentan SYL menekankan pentingnya diversifikasi pangan dengan mengoptimalkan potensi dan keragaman sumber daya pangan lokal sebagai salah satu strategi ketahanan pangan di tengah pandemi.

“Jadi pangan itu tidak harus beras, kita melakukan juga upaya diversifikasi pangan. Beberapa pangan lokal kita intervensi seperti singkong, talas, dan umbi-umbian lainnya,” pungkas Mentan SYL. (ind)