Klaster Tambak Udang di Cidaun Serap Tenaga Kerja

Jakarta (Indoagribiz)—- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), telah menggulirkan program Klaster Budidaya Tambak Udang Vaname di Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Selain sudah panen secara parsial, klaster tambak udang ini juga  berhasil mendorong kegiatan padat karya pemberdayaan tenaga lokal, dimana upaya ini sejalan dengan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) di tengah pandemi Covid-19.

“Tambak yang ada saat ini masuk siklus kedua dan berhasil panen parsial pertama. Dari hasil siklus pertama menunjukan tren yang positif. Karena, adanya Klaster Budidaya Tambak Udang Vaname ini telah berhasil memberdayakan tenaga lokal di daerah Cidaun, dan ini sangat bagus guna meningkatkan pendapatan warga sekitar di tengah pandemi seperti sekarang ini,” kata  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu dalam keterangan persnya, di Jakarta , Jumat (24/9).

Klaster Budidaya Tambak Udang Vaname, lanjut Dirjen yang akrab disapa Tebe, merupakan kerja sama dengan pihak Perhutani yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mandiri. Kebetulan lahannya sangat potensial untuk dioptimalkan guna pengembangan usaha budidaya udang vaname berkelanjutan. Pemanfaatan lahan ini sangat bagus sekali, khususnya untuk warga Kecamatan Cidaun yang ingin memulai dan mengembangkan budidaya udang vaname.

“ Klaster tambak udang ini menjadi alternatif bagi masyarakat mendapat pekerjaan selama pandemi Covid-19 ini. Otomatis ekonomi masyarakat sekitar bisa terbantu,” ujar Tebe.

Menurut Tebe, dalam 1 hektare lahan bisa melibatkan minimal 5 Kepala Keluarga (KK). Hal ini sangat membantu sekali bagi warga sekitar di tengah sulitnya pekerjaan di tengah pandemi Covid-19.

Dalam kesempatan tersebut, Tebe juga meminta langsung pada Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang  untuk terus memberikan pengawalan dan pendampingan berupa penguatan teknologi serta  peningkatan kapasitas SDM masyarakat di Cidaun. “Meski sudah berjalan dan hasilnya bagus, tapi saya minta Balai jangan berpuas diri, pendampingan harus terus dilakukan agar produktivitas terus ditingkatkan, dan pengetahuan atau skill penerima manfaat dalam hal ini LMDH Mandiri lebih bagus lagi sehingga dapat mentransfer ilmunya kepada masyarakat lainnya,” kata Tebe.

Klaster tambak udang tersebut harus terus menerapkan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Sehingga udang yang dihasilkan terus terjamin kualitas dan _traceability_-nya. Selalu menggunakan benih yang bisa ditelusuri, sudah bersertifikat atau belum, bebas penyakit atau tidak. Demikian juga pakannya sudah terdaftar atau belum. Karena Ini semua merupakan persyaratan _food safety, food security_ sebagai produk berkualitas ekspor.

“Kalau Kabupaten Cianjur pada umumnya sudah banyak yang berhasil dalam budidaya tambak udang vaname. Maka minat masyarakat Cianjur khususnya yang ada di pesisir selatan, untuk menekuni budidaya tambak udang otomatis juga akan sangat tinggi. Sebab tidak hanya potensi pasarnya yang besar, proses produksinya juga lebih mudah lantaran sudah ada teknologi pendukung. Upaya ini sejalan dengan upaya pencapaian target peningkatan nilai ekspor udang nasional sebesar 250% di tahun 2024,” kata Tebe.

KKP terus meminimalisir masalah-masalah produksi  seperti terkait permodala. KKP memfasilitasi pinjaman modal melalui BLU LPMUKP yang memiliki bunga ringan sekitar 3%. KKP siap memberikan pendampingan teknis kepada masyarakat yang ingin terjun ke bidang ini. Selain itu, pihaknya memiliki program pinjaman modal berbunga ringan melalui Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) yang dapat diakses oleh masyarakat.

“  Kita punya misi bahwa tambak budidaya udang yang kita buat ini dicontoh masyarakat hingga berkembang secara berkelanjutan baik dari sisi ekosistem, lingkungan maupun berkelanjutan secara sosial ekonomi. Jadi apa yang ingin kita kejar, mudah-mudahan sesuai dengan apa yang kita harapkan,” kata Tebe.

Di berbagai kesempatan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, selalu meminta agar mampu menggenjot produktivitas udang nasional. Agar peningkatan produksi udang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.  ”Saya sangat apresiasi LMDH Mandiri di Cidaun ini bisa berhasil secara mandiri dan berkelanjutan dalam budidaya tambak udang serta dapat meluas ke LMDH Mandiri lainnya yang berada di Kabupaten Cianjur ini.  Harapannya ke depan Kecamatan lain bisa mengikuti sehingga upaya meningkatkan produktivitas dan produksi pelaku usaha perikanan di Kabupaten Cianjur dan menjadi bagian dari percepatan pemulihan ekonomi masyarakat di masa pandemi Covid 19 bisa terwujud,” katanya.

Semantara itu, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Ikhsan Kamil, mengatakan,   potensi yang dimiliki Kabupaten Cianjur sendiri luar biasa dan berpeluang menjadi daerah penghasil udang vaname. Hal ini didukung ketersediaan lahan dan juga kondisi alam yang cocok untuk aktivitas budidaya tambak udang.

“BLUPPB Karawang berkomitmen penuh untuk bersinergi, baik itu dengan pemerintah daerah, penyuluh, tenaga ahli, maupun akademisi bersama sama mendampingi dan memberikan pembinaan baik teknis maupun manajerial agar bisa berproduksi secara maksimal dan memanfaatkan bantuan yang diberikan secara optimal dan berkelanjutan,” papar Kepala Balai yang biasa dipanggil Emil.

Menurut Emil, keberlanjutan klaster tambak udang di Cidaun ini sangat tergantung pada penerapan SOP yang telah disampaikan oleh BLUPPB Karawang selama mengawal dan membina masyarakat LMDH Mandiri. BLUPPB Karawang siap untuk selalu hadir dalam mendampingi dan membina masyarakat LMDH Mandiri dan juga transfer teknologi serta terkait manajeman teknologi apabila masyarakat LMDH Mandiri menemui kendala dalam mengembangkan usaha budidaya tambak udangnya.

“Teknologi budidaya tambak udang mutlak harus diterapkan seperti penggunaan benur udang yang _Specific Pathogen Free_ (SPF), pemberian pakan udang yang bermutu dan tepat serta penerapan _biosecurity_ yang ketat serta ketersediaan IPAL yang efektif. Selain itu juga dilakukan panen parsial. Kami sangat apresiasi kepada LMDH Mandiri di Cidaun yang telah berhasil mandiri melanjutkan usaha budidaya tambak udang siklus kedua, dan bisa panen parsial pertama dengan size sesuai yang ditargetkan yakni size 80,”  kata Emil.

Dikatakan,  keberhasilan LMDH Mandiri dalam usaha budidaya udang vaname juga terlihat dengan adanya masyarakat lainnya yang sekarang ini terjun dalam usaha budidaya udang vaname. Masyarakat LMDH Mandiri lainnya saat ini mulai menekuni budidaya udang vaname dengan mencoba melalui kolam bundar.

“ Meskipun ukurannya kecil dan padat tebarnya sedikit yang penting produktif dan kontinu serta semangatnya yang luar biasa untuk mau memulai menekuni usaha budidaya tambak udang. Dan ini tentunya menjadi usaha baru bagi masyarakat Cidaun di tengah pandemi Covid-19,” jelas Emil.

Pendapatan Meningkat

Ahmad Hidayat selaku penanggung jawab klaster tambak udang di Cidaun, mengungkapkan rasa syukur karena pendapatan mereka saat ini bisa meningkat kurang lebih Rp 2 juta per bulan, yang sebelumnya pendapatannya hanya Rp 800 ribu per tahun. Harapannya dengan hasil yang diperoleh ada masyarakat lain yang terus bisa ikut berbudidaya udang.  “Banyak masyarakat sekitar saat ini mendaftar untuk ikut bersama budidaya udang vaname dan mulai tertarik budidaya udang vaname,” kata Ahmad.

Ahmad mengatakan,  kelompok memanfaatkan bantuan yang diberikan oleh pemerintah, dari berhasil siklus pertama, tidak berlama-lama langsung lanjut ke siklus kedua, dengan pekerja 100 % masyarakat lokal. “Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Ini juga berkat bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang selalu hadir mendukung kami sampai ke tahap penjualan. Sehingga aset kami selalu aman, dan udang produksi kami tidak pernah berhenti permintaan pasarnya,”  katanya

Menurut Ahmad panen parsial pertama pada siklus kedua ini, diambil sekitar kurang lebih 5 ton, yaitu dari petak 1 hingga petak 7 diambil sekitar 300 kg per petak dan petak 8 hingga petak 15 diambil sekitar 400 kg, dengan size 80. “Alhamdulillah kami bisa berhasil, berat rata-rata udang yang kami peroleh pada siklus kedua ini bisa lebih 10 gram dibandingkan pada siklus pertama dengan masa pemeliharaan yang sama,” ungkapnya.

“Apa yang kami usahakan juga berkat pendampingan dari BLUPPB Karawang. Karena awalnya, kami tidak tahu apa-apa tentang budidaya udang vaname. Tapi setelah ada pendampingan diberikan informasi dan dikasih teknologinya, Alhamdulillah kami bisa berhasil seperti saat ini. Meskipun kami sudah mandiri, tapi BLUPPB Karawang tetap selalu mengirimkan timnya apabila kami ada masalah. Alhamdulillah udang kami sampai dengan saat ini tidak ada kematian dan dari awal kami budidaya udang, tidak ada yang terinfeksi virus,” pungkasnya. (ind).

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perikanan Budidaya