Menteri KKP Ingin Tingkatkan Produktivitas Budi Daya Lahan Tradisional
Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menginginkan
berbagai budi daya kelautan dan perikanan di lahan-lahan yang digarap
secara tradisional dapat ditingkatkan produktivitasnya.
“Beberapa hari lalu saya baru melakukan kunjungan kerja di Pulau
Sulawesi. Di sana, satu keluarga bisa memiliki 4-5 hektare tambak
udang, namun hasilnya hanya 1-2 ton saja per tahun. Sedangkan tambak
yang dikelola secara modern dengan sistem intensifikasi, per
hektarenya bisa menghasilkan 5-6 ton,” kata Menteri Edhy dalam siaran
pers yang diterima di Jakarta, Kamis (9/7).
Menurut dia, perikanan budi daya di Indonesia masih belum tergarap
optimal, baik dari sisi pengelolaan maupun hasilnya, khususnya
lahan-lahan budi daya yang dikelola secara tradisional oleh
masyarakat.
Berkaca dari kondisi tersebut, Menteri Edhy menginginkan tambak-tambak
di Indonesia dikelola secara modern dengan lahan yang tak begitu luas,
namun hasil produksinya lebih banyak.
Ia berpendapat bahwa penggunaan lahan yang lebih sedikit namun hasil
panennya lebih banyak, akan mendorong keberlanjutan. Selain itu,
menurut dia, sisa lahan dapat dipakai untuk menanam mangrove dan pohon
vegetasi pantai sehingga kondisi alam tetap terjaga.
Sejalan dengan itu, lanjutnya, masyarakat dapat menggunakan pula area
mangrove untuk berbudi daya udang lokal dan kepiting sehingga aspek
ekonomi tetap didapat.”Produktivitasnya dapat, keberlanjutannya juga
dapat,” ujar Edhy.
Sebelumnya, KKP optimistis bahwa ekspor berbagai komoditas sektor
kelautan dan perikanan bakal bangkit kembali pada masa normal baru
yang ditandai dengan menggeliatnya kembali perekonomian nasional.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan
optimistis bahwa ekspor hasil produksi budi daya akan kembali bangkit
memasuki era normal baru yang terindikasi dari tren permintaan pasar
yang sudah mulai naik dan terbuka.
“Market (pasar) mulai ada titik terang mulai ke buka. Mudah-mudahan di
era new normal ini sumbatan rantai pasok bisa lancar, dengan demikian
proses produksi di hulu akan kembali bergeliat,” ucapnya.
Ia juga memastikan bahwa permintaan untuk pasar ekspor komoditas
kelautan dan perikanan akan naik, bahkan bisa jadi akan lebih tinggi
dibanding sebelumnya.
Hal tersebut, lanjutnya, karena pandemi COVID-19 dinilai telah
memberikan dampak negatif pada suplai pangan. Oleh karena itu, saat
mulai masuk normal baru, diprediksi ada efek kejut terhadap
permintaan, khususnya untuk komoditas ekonomi tinggi seperti ikan
kerapu.
“Era new normal saya prediksi akan memberikan daya ungkit bagi
permintaan ekspor. Tentu, saat ini konsumen global sangat membutuhkan
pangan termasuk ikan setelah sebelumnya suplai terganggu akibat
penerapan lockdown di berbagai negara,” katanya.