Jakarta (Indoagribiz).Wajah Petta Tassa (60 th) tampak sumringah saat sejumlah orang menurunkan genting-genting rumahnya. Perempuan berdarah Bugis itu ikut sibuk juga mengangkati barang-barang yang sekira dianggap perlu untuk dikeluarkan dari dalam rumah. Sesekali anak perempuannya, Nurhasanah, turut membantunya. Ya, hari itu (15/7/17) rumah yang dihuninya, yang berlokasi di Kampung Karang Mulya, Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten, mendapat program bantuan “Bedah Rumah Nelayan” dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sebenarnya yang mendapatkan bantuan dari program Direktorat Perizinan dan Kenelayanan, Ditjen Perikanan Tangkap KKP, itu adalah Andriyanto. Ia seorang nelayan dan menjadi tulang punggung keluarga Petta Tassa. Keluarga Andriyanto memang layak mendapatkan bantuan bedah rumah. Sebagai nelayan kecil, jangankan membangun rumah, untuk kebutuhan sehari-hari pun ia harus bertarung dengan kondisi laut yang tidak bisa dipanen tiap waktu. Seperti saat ini, di saat musim ombak tenang, paling banter ia hanya mendapatkan antara dua sampai tiga kilogram rajungan setiap harinya. Hasilnya nyaris impas oleh biaya melautnya.

“Saya sangat senang dengan bantuan bedah rumah dari pemerintah. Lihat saja kondisi rumah saya seperti ini, sementara yang mencari uang hanya seorang. Suami saya sudah tua, sudah tidak mampu melaut lagi. Ya, terpaksa anak saya yang laki-laki yang meneruskan pekerjaan bapaknya sebagai nelayan,” ujar Petta Tassa di sela acara Bedah Rumah Nelayan di Kampung Karang Mulya, Kasemen, Serang, Banten, pada Sabtu (15/7/17).

Petta Tassa berharap ke depan pemerintah (KKP) terus memperhatikan nasib keluarga nelayan kecil seperti dirinya. Bantuan yang diberikan tidak sekadar untuk bedah rumah, tetapi memberdayakan keluarga nelayan agar bisa membantu mencari nafkah. “Saya sebenarnya kasihan sama anak saya, tapi saya bingung mau usaha apa tidak memiliki keterampilan apa-apa,” akunya. Sukurlah, anaknya yang perempuan, Nurhasanah, bisa sampai kuliah lantaran ada bea siswa bidik misi. Saat ini Nurhasanah kuliah di Fakultas Pertanian, Jurusan Perikanan, di Untirta Serang, Banten.

Program Bedah Rumah Nelayan merupakan program baru dan menjadi salah satu andalan Direktorat Perizinan dan Kenelayanan, Ditjen Perikanan Tangkap, KKP. Direktur Perizinan dan Kenelayanan KKP Ir. Saifuddin MMA mengungkapkan, program Bedah Rumah Nelayan adalah program baru yang kali pertama diluncurkan di Provinsi Banten. Tahun ini ada 20 titik perkampungan nelayan yang akan mendapatkan bantuan dari program ini. Dari masing-masing titik akan diambil 5 rumah yang dinilai tidak layak huni. 19 titik lainnya akan ditentukan setelah diakukan penilaian apakah layak mendapatkan bantuan bedah atau tidak.

“Untuk di Banten sudah ada 5 rumah nelayan yang telah ditentukan, sehingga kami berharap rumah yang tadinya tidak layak huni menjadi layak huni. Kami telah anggarkan untuk program bedah rumah nelayan tahun ini ada di 20 titik lokasi perkampungan nelayan, di mana masing-masing titik diambil 5 rumah yang dinilai paling tidak layak huni,” ungkap Saifuddin di sela acara Bedah Kampung Nelayan di Serang, Banten (15/7/17).

Saifuddin menjelaskan, untuk program bedah rumah nelayan KKP hanya membantu bahan material bangunan serta biaya tukang untuk pengerjaan rumah. Menurutnya, biaya masing-masing rumah akan berbeda tergantung kebutuhan dan kondisi rumah yang dilakukan pembedahan. Namun Saifuddin tidak menyebutkan berapa biaya bedah per rumah. “Jadi kami tidak memberikan berupa uang, tapi bentuk material bangunan dan biaya tukang,” terangnya.

Menurut Saifuddin, pengerjaan bedah rumah tidak bisa dilakukan dalam satu hari, tetapi bisa memakan waktu antara tiga sampai lima hari. Untuk pengawasan dan finalisasi, selanjutnya akan dilakukan oleh pihak UPT KKP yang ada di daerah Banten, dalam hal ini Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu.

“Nah, ke depan karena keterbatasan anggaran pemerintah (KKP), kami berencana melakukan kerjasama dengan perusahaan atau BUMN untuk memanfaatkan dana CSR dalam program ini, sehingga bedah rumah nelayan dapat berjalan dengan baik dan kontinyu,” tutup Saifuddin. (NS)