KKP Latih Warga Buat Mi dari Rumput Laut untuk Cetak Wirausahawan Baru
Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan
pelatihan daring kepada warga di berbagai daerah membuat mi dari
rumput laut sebagai upaya mencetak lebih banyak wirausahawan baru di
Indonesia.
“KKP melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan
Perikanan (BRSDM) terus melakukan terobosan-terobosan guna
menghidupkan ekonomi masyarakat, salah satunya melalui penyediaan
berbagai pelatihan sektor kelautan dan perikanan daring secara
gratis,” kata Kepala BRSDM KKP Sjarief Widjaja dalam siaran pers di
Jakarta, Senin (11/8).
KKP melakukan pelatihan membuat mi rumput laut secara gratis pada 22
Mei dengan kerja sama antara Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan
(BP3) Medan dengan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan
(P2MKP) Winner Perkasa Indonesia Unggul.
Pelatihan disambut antusias oleh masyarakat luas, di mana tercatat
sebanyak 804 peserta dari beragam profesi di seluruh wilayah Indonesia
mengikuti pelatihan.
Sjarief mengungkapkan, rumput laut merupakan salah satu produk
perikanan unggulan Indonesia yang menjanjikan untuk dikembangkan
sebagai peluang usaha. Hal tersebut, lanjutnya, karena sedikitnya
terdapat 550 jenis rumput laut dari sekitar 8.000 jenis yang ada di
dunia dapat tumbuh dengan baik di wilayah Indonesia.
Fakta itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut
nomor satu di dunia, khususnya untuk jenis Eucheuma Cottoni.”Produksi
rumput laut nasional tahun 2019 mencapai 9,9 juta ton. KKP menargetkan
produksi ini meningkat hingga 10,99 juta ton pada tahun 2020 dan 12,33
juta ton pada tahun 2024,” ujar Sjarief.
Berdasarkan data FAO (2019), Indonesia menguasai lebih dari 80 persen
pangsa pasar ekspor. Beberapa negara peminat di antaranya ialah China
dan Filipina. Baru-baru ini, Vietnam juga membuka pasarnya menjadi
potensi ekspor baru.
Pada tahun 2019, nilai ekspor rumput laut Indonesia mencapai 324,84
juta dolar AS. Angka ini tumbuh 11,31 persen dibanding tahun
sebelumnya yang mencapai 291,83 juta dolar. Adapun selama tahun
2014-2019, ekspor rumput laut nasional tercatat tumbuh rata-rata
sebesar 6,53 persen per tahun.
“Meskipun begitu, patut disayangkan bahwa rumput laut yang kita ekspor
saat ini umumnya masih berupa bahan baku mentah atau produk bernilai
tambah rendah,” ungkap Sjarief.
Ia mengutarakan harapannya agar dengan pelatihan membuat mi rumput
laut kali ini dapat berkontribusi sebagai terobosan untuk meningkatkan
nilai tambah rumput laut.