KKP Gelar Pelatihan Budidaya Udang dan Lele

Jakarta (Indoagribiz)— Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Medan – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) menyelenggarakan dua pelatihan sekaligus. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perikanan budidaya sebagai penopang ekonomi nasional dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Pelatihan pertama pada 22-23 Juni 2021, yakni Pelatihan Pembenihan Ikan Lele di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu yang diikuti oleh 50 peserta. Pelatihan kedua pada 24-25 Juni 2021, yakni Pelatihan Budidaya Udang Vaname di Kabupaten Aceh Barat Daya yang diikuti oleh 100 peserta. Kedua pelatihan ini diadakan secara daring dan luring.

Pelatihan budidaya udang vaname ini terlaksana untuk menggenjot produksi udang di Kabupaten Aceh Barat Daya.  Provinsi Aceh memiliki potensi yang besar dalam pengembangan tambak udang, dengan luasan lahan untuk kegiatan tambak air payau mencapai lebih dari 1.200 hektare yang dinilai efektif, yakni terhindar dari potensi sumber cemaran serta didukung oleh sarana dan prasarana seperti jalan, listrik dan saluran irigasi.

Sebagaimana disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, yang menyebutkan bahwa target KKP dari pertumbuhan tambak udang nasional yaitu 2,5 kali lipat setiap tahunnya. Diharapkan, pada tahun 2024, produksi udang nasional bisa mencapai 1,2 juta ton.

Tercatat,  nilai ekspor udang nasional pada tahun 2020 , menempatkan Indonesia di urutan kelima eksportir udang dunia, di bawah India, Ekuador, Vietnam dan Tiongkok, dengan market share_sebesar 7,1 persen. Sedangkan total volume produksi udang sebesar 239.227 ton, nilai ekspor udang Indonesia mencapai USD 2,04 miliar atau Rp 29,49 trilliun. Hasil inilah yang akan terus ditingkatkan oleh KKP ke depannya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BRSDM KP, Sjarief Widjaja mengatakan,  pelatihan diadakan dalam rangka mendukung program proritas KKP, yaitu peningkatan produktivitas perikanan budidaya berbasis ekspor yang didukung riset perikanan. “Melalui pelatihan ini, kami berharap dapat mewujudkan program prioritas KKP. Peningkatan produksi udang vaname di Kabupaten Aceh Barat Daya, tentunya dapat menjadi suatu bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakatnya,” kata Sjarief, dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin (28/6).

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan,  sesuai laporan Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada tahun 2021 konsumsi ikan perkapita penduduk dunia akan mencapai 19,6 kg per tahun, dan sebagian besar konsumsinya merupakan pasokan hasil perikanan tangkap. “Meski saat ini konsumsi ikan lebih banyak dipasok oleh perikanan tangkap, para peneliti dunia memprediksi pada tahun-tahun mendatang produksi perikanan budidaya akan menyalip produksi perikanan tangkap. Hal ini didasari oleh penurunan produksi perikanan tangkap akibat _overfishing_, sementara _demand_ konsumsi ikan terus meningkat,” katanya.

Menurut Lily, udang termasuk salah satu makanan laut yang baik untuk kesehatan. Di dalam daging udang terkandung kalsium, potassium, dan fosfor yang merupakan vitamin A dan E, dan mengandung asam lemak dan omega 3. Pihaknya pun berharap, melalui pelatihan ini, permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya udang vaname selama ini dapat teratasi dengan baik sehingga Kabupaten Aceh Barat Daya menjadi penghasil udang vaname yang besar di kemudian hari.

Turut menginisiasikan pelatihan ini, Anggota Komisi IV DPR RI Irmawan. Menurut Irmawan,  kapasitas dari SDM kelautan dan perikanan merupakan hal utama yang perlu ditingkatkan di masa pandemi Covid-19. Untuk itu, strategi pelatihan jarak jauh (online), _blended system_, dan tatap muka dengan menaati protokol kesehatan, perlu terus dilakukan. Irmawan berharap agar ke depan, pelatihan dapat dikembangkan lagi ke berbagai daerah.

“Potensi kekayaan alam yang beraneka ragam tentunya perlu dikawal dengan baik oleh masyarakat dan seluruh unit kerja KKP.  Nantinya pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan dapat dirasakan manfaatnya,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Barat Daya, Chalid Hardani, mengatakan, pelatihan budidaya udang vaname ini merupakan salah satu sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Aceh Barat Daya periode 2017-2022. Turunan ini memiliki keluaran berupa peningkatan produksi sektor budidaya di daerahnya.

“Semoga masyarakat kami mendapat _output_ berupa bertambahnya informasi dan _skills_ dalam membudidayakan udang sehingga produksi udang di daerah ini pun meningkat,” tuturnya.

Menurutnya,  pelatihan ini dirasa bermanfaat oleh salah satu peserta dari Desa Lampoh Drien, Kecamatan Susoh, Marizal, yang mengaku akan menyebarkan materi pelatihan lantaran manfaat yang didapatnya. “Materinya dapat langsung diaplikasikan dalam usaha budidaya saya, jadi saya tertarik untuk ikut menyebarkannya ke tetangga,” ujarnya.

Terkait dengan pelatihan pembenihan lele yang digelar oleh BP3 Medan di Kabupaten Seluma,  bertujuan untuk meningkatkan produksi lele pada daerah tersebut. Mengingat Kabupaten Seluma merupakan sentra dari olahan ikan lele asap. Hal ini dibuktikan dengan adanya 270 kepala keluarga di Desa Lawang Agung yang menggeluti usaha tersebut.

Plt. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Seluma, Jumadi, mengucapkan rasa terima kasih akan hadirnya pelatihan pembenihan lele, walau diterpa hambatan pandemi Covid-19. “Kami sangat berterima kasih Kabupaten Seluma ditunjuk untuk mendapatkan pelatihan. Walaupun harus berlangsung secara online, tentunya tidak mengurangi ilmu yang kami dapat. Semoga ilmu yang dibagikan dapat berarti bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan taraf ekonomi bagi pembudidaya ikan,” jelasnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali berbagai materi yang mendukung usahanya, yaitu penyiapan media pembenihan ikan lele, pemijahan induk ikan lele, penetasan telur ikan lele, pemeliharaan larva, sampai dengan pemanenan benih. Hadirnya pelatihan diharapkan dapat menumbuhkembangkan wirausahawan baru sehingga menjadi solusi alternatif untuk mengurangi angka pengangguran dan memperluas lapangan kerja di daerah pedesaan.  Turut hadir dalam kesempatan ini, Kepala BP3 Medan, Natalia; Kordinator dan Sub Kordinator Lingkup BRSDM KP dan BP3 Medan; serta jajaran penyuluh BP3 Medan. (ind)