Menteri Edhy Ingin Pelajari Teknologi Ekonomi Perikanan Norwegia
Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ingin
mempelajari kecanggihan teknologi akuakuktur dan manajemen ekonomi
perikanan budidaya dari Norwegia, dengan mengirim jajarannya guna
menimba ilmu ke negara di kawasan Skandinavia itu.
“Norwegia dikenal dengan teknologinya yang canggih dalam akuakultur,
terutama untuk akuakultur lepas pantai,” kata Menteri Edhy dalam
siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (24/7).
Menteri Kelautan dan Perikanan RI telah menerima Dubes Norwegia Vegard
Kaale di kantor KKP, 29 Juni. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Edhy
menyebut keberhasilan Norwegia memproduksi salmon berskala besar.
Salmar dan Norax adalah dua contoh perusahaan swasta Norwegia yang
sudah menggunakan teknologi dengan total kapasitas produk sekitar
10.000 ton per tahun.
“Kami kirim ahli-ahli untuk belajar tentang akuakultur, masing-masing
direktorat jenderal dua orang. Bagaimana melakukan produksi yang pada
akhirnya meningkatkan kualitas hasil yang akan kami pasarkan,”
ucapnya.
Menteri Edhy memastikan Indonesia dan Norwegia memiliki kerja sama
yang sudah berlangsung lama, khususnya di bidang kelautan dan
perikanan.
Bahkan kedua belah pihak telah menandatangani Letter of Intent (LoI)
tentang Kerja Sama Kelautan dan Perikanan pada Oktober 2018 di Bali.
Karenanya, dengan mempertimbangkan posisi strategis dan kepemimpinan
kedua negara dalam forum global, Menteri Edhy ingin mengambil
kesempatan ini untuk mendorong kedua belah pihak untuk memperkuat
kerja sama bilateral di masa depan.
Menteri Edhy berharap, kesesuaian bisnis antara sektor swasta dari
kedua negara perlu juga dipromosikan di masa depan.
Menurut dia, kerja sama ini adalah salah satu tindakan nyata yang
dapat dilakukan untuk implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi
Komprehensif Indonesia-EFTA (IE CEPA), yang ditandatangani pada
Desember 2018 dan saat ini sedang menunggu ratifikasi.
“Saya berharap untuk melihat kolaborasi dan kerja sama di masa depan
dalam industri perikanan antara perusahaan Norwegia dan Indonesia,
terutama dengan PT. Perinus,” urainya.