Jepara(IndoAgribiz). Ketersediaan benur berkualitas menjadi keniscayaaan yang harus terpenuhi dan tentunya mampu menjangkau sentral-sentral produksi udang nasional. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto saat memberi sambutan pada peresmian naupli center di Jepara, Selasa (22/5).

Slamet menegaskan pentingnya membangun mata rantai proses produksi secara terintegrasi. Untuk itu, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya tengah menata sistem logistik perbenihan melalui pembangunan naupli center yang ke depannya diharapkan akan menjangkau sentral-sentral produksi udang. Mekanismenya menurut Slamet, UPT seperti BBPBAP Jepara yang akan memproduksi Nauplius udang berkualitas, dan Hachery Skala Rumah Tangga (HSRT)/panti benih masyarakat tinggal beli nauplius tersebut untuk dibesarkan sampai ukuran siap tebar di tambak.

“Naupli center ini nantinya akan terkoneksi dengan panti benih/ HSRT milik masyarakat disentral-sentral produksi budidaya udang. Melalui naupli center ini, akan ada jaminan kualitas benur yang dihasilkan, disisi lain keberadaan naupli center ini juga akan memicu segmen usaha HSRT semakin bergairah. Paling penting adalah, para pembudidaya udang tidak harus repot-repot mendatangkan benur dari luar daerah”, jelas Slamet.

Slamet berharap pembangunan naupli center BBPBAP Jepara ini akan mampu mensuplai kebutuhan benur berkualitas, sekaligus sebagai embrio bagi pembangunan naupli center lainnya di daerah lain, dengan demikian ketersediaan benur bermutu akan mampu terpenuhi di seluruh Indonesia. Naupli center ini merupakan bagian upaya untuk membangun sistem logistik benih yang lebih tertata dan terintegrasi.

Selama ini menurut Slamet mata rantai benih kurang tertata dengan baik dan masih bersifat parsial, dampaknya ketersediaan benur seringkali tersendat dan kualitas benur juga sulit dikontrol. Apalagi menurutnya, sentral produksi budidaya udang seringkali juga berjauhan dengan sentral produksi benih. Disisi lain HSRT juga kesulitan mencari induk bermutu, sehingga produksi benih tidak berkelanjutan.