KKP Ajak Pengusaha Kelautan dan Perikanan Manfaatkan KUR
Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak para
pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan di berbagai daerah untuk
memanfaatkan program kredit usaha rakyat (KUR) yang didukung antara
lain oleh sejumlah bank BUMN yaitu BNI, BRI, dan Bank Mandiri.
Siaran pers KKP yang diterima di Jakarta, Sabtu (20/6), mengingatkan
bahwa KUR sektor kelautan dan perikanan baru terserap Rp1,39 triliun
dengan persentase terbesar di bidang usaha budidaya perikanan disusul
usaha penangkapan ikan, perdagangan, jasa, pengolahan dan pergaraman.
Data mencatat, sejak Januari hingga April 2020, realisasi KUR di
sektor kelautan dan perikanan mencapai 44.431 debitur atau orang,
sedangkan jumlah pelaku usaha berdasarkan data Kartu Pelaku Usaha
Kelautan dan Perikanan (KUSUKA) KKP, tercatat 1.075.488 orang atau
unit usaha yang tervalidasi.
Terkait hal tersebut, Program and Partnership Business Division Bank
BRI, Djoko Purwanto menilai kartu KUSUKA sangat membantu lembaga
perbankan guna mengetahui profil pelaku usaha kelautan dan perikanan.
Menurut dia, selain sebagai identitas tunggal, baik individu maupun
korporasi, kartu KUSUKA juga dapat menjadi database program
perlindungan dan pemberdayaaan, termasuk pemberian modal kerja, baik
melalui KUR maupun non-KUR.”Kartu KUSUKA menjadi sangat penting,
karena perbankan menjadi lebih percaya dalam menyalurkan KUR,” kata
Djoko.
Tak hanya itu, adanya profil pelaku usaha tersebut memudahkan BRI
menyusun pembiayaan yang tepat sebagaimana profil pelaku, sehingga
unit cost yang dibutuhkan pelaku usaha bisa diberikan sesuai dengan
kebutuhannya, berikut struktur, syarat dan pola pembiayaan bisa
disesuaikan dengan pola usaha perikanan, apakah musiman atau bulanan.
Senada, BNI juga akan memberikan pola pembiayaan yang menjadi
kebutuhan dari para nelayan dan petambak. Bahkan, Group Head Goverment
Program Divisi Bisnis Usaha Kecil Bank BNI, Chandra Bagus Sulistyo
menyebut pihaknya siap berkolaborasi dengan menyediakan market place
penjualan hasil tangkapan/panen dan kebutuhan melaut serta usahanya.
“BNI mencoba untuk melakukan kolaborasi dengan beberapa start up.
Tujuannya untuk memberikan tools dan ekosistem sehingga membantu
nelayan/petambak meningkatkan produktivitasnya. Saat ini BNI telah
melakukan sinergi dengan start up Aruna, FisTx, dan FishON,” ujar
Chandra.
Sementara itu Senior Vice President Bank Mandiri, Nila Mayta Dwi
Rihandjani menjabarkan strategi inovasi penyaluran KUR sektor KP
dengan mengembangkan klaster tertentu berbasis pengembangan
masyarakat.
Dijelaskannya, Bank Mandiri telah membagi empat klaster, di antaranya
budidaya perikanan seperti udang vaname di Muara Gembong, Bekasi yang
bekerja sama dengan Lembaga Masyarat Desa Hutan (LMDH) dan Perum
Perikanan Indonesia sebagai off-taker.
Berikutnya klaster perikanan tangkap seperti yang dilakukan di
Lamongan, Madura, dan Cirebon bekerja sama dengan PT Kelola Mina Laut
sebagai off-taker.
Klaster ketiga ialah pengolahan hasil perikanan, yakni pembuatan dan
pengembangan produk KUR melalui skema kerja sama dengan Perusahaan dan
UMKM yang bergerak pada Pengolahan Hasil Perikanan. Tujuannya agar ada
kepastian bagi nelayan bahwa hasil tangkapannya dibeli dan diolah
dengan nilai yang lebih baik.
Terakhir, klaster pergaraman, yakni pembuatan dan pengembangan produk
KUR skema kerjasama dengan perusahaan dan UMKM terkait untuk produksi
garam di Madura dan Cirebon.
Nila menambahkan, pihaknya pun membangun pola value chain, di mana ada
kerja sama antara Bank Mandiri dengan perusahaan inti sebagai off
taker dan juga dengan debitur KUR. Bahkan, saat ini Bank Mandiri
menyiapkan aplikasi Instant Approval KUR yang masih dalam proses
pengembangan bernama LMS (Loan Micro Sales atau Mikro Kredit Sales).
Aplikasi tersebut, lanjutnya, akan memudahkan mekanisme penyaluran
kredit menggunakan smartphone atau ponsel pintar sebagai inovasi
mempercepat proses penyaluran KUR kepada masyarakat yang membutuhkan.