Amankan Produksi Padi, Kementan Fokus Kawal Gerdal Wilayah Endemis
Tikus Di Subang
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai
upaya agar budidaya padi berhasil dipanen dengan produksi tinggi.
Salah satu kendala yang dihadapkan petani adalah hama tikus, sehingga
Kementan fokus mengawal Gerakan Pengendalian (Gardal) wilayah endemis
tikus, yakni Kabupaten Subang.
Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT)
Enie Taruslina mengatakan tikus merupakan Organisme Pengganggu
Tumbuhan (OPT) utama yang menyebabkan kerusakan pada tanaman padi dan
kehilangan hasil yang diakibatkan OPT tersebut cukup tinggi. Salah
satu wilayah yang selalu mengalami permasalahan tikus adalah Desa
Pusakajaya, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang.
Lebih lanjut Enie menjelaskan pengendalian hayati yang memanfaatkan
burung hantu dilakukan dengan pembuatan Rubuha. Rubuha sebagai tempat
tinggal burung hantu dan membawa mangsanya. Rubuha harus kuat dan
tidak mudah roboh, tiang harus terbuat dari beton dengan pondasi cakar
ayam sehingga tidak mudah roboh di tanah persawahan yang lembek.
“Tinggi Rubuha sekitar 4 meter dari permukaan tanah untuk memudahkan
burung hantu mengintai buruannya dan efektif membawa hasil buruannya,”
demikian jelas Enie saat mengunjungi lokasi panen padi di Desa
Pusakajaya bersama Staf Khusus Menteri Pertanian Firdaus Hasan,
dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Selasa (7/7). Hadir
dalam acara panen tersebut Korsatpel Wilayah 2 Subang, Koordinator
Wilayah Endemis Tikus Subang
“Rubuha ini efektif, tidak memerlukan biaya besar, mudah dilakukan dan
ramah lingkungan. Dengan pendampingan Tim kami, akhirnya kelompok tani
tersebut berhasil panen. Semua berkat kerjasama yang baik antara
petani, dinas, petugas setempat dan juga tim POPT,” sambung Enie.
Yadi Kusmayadi, salah seorang petugas pengamat OPT dan tim telah turun
ke lapangan sejak awal serangan tikus di daerah tersebut. Ia
menagatakan dalam mengatasi permasalahan tikus tersebut, maka
dilaksanakan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan
melakukan kegiatan Pengelolaan Ekosistem Sawah di Daerah Endemis
Tikus. Keberhasilan kegiatan ini untuk pengendalian tikus di kelompok
tani ditandai dengan panen yang berhasil. Kegiatan tersebut merupakan
kegiatan penelitian tentang pengelolaan tikus oleh Tim.
“Kita telah melakukan berbagai upaya pengendalian tikus antara lain
melakukan gerakan pengendalian dengan gropyokan, emposan, pemasangan
Trap Barrier System (TBS) dan Linear Trap Barrier System (LTBS) serta
pembuatan rubuha dengan teknologi pegendalian hayati menggunakan
burung hantu. Kita lakukan pendampingan hingga panen,” ucap Yadi.
Bahagia tampak dari petani yang berhasil panen setelah beberapa kali
hasil panennya tidak memuaskan bahkan gagal akibat serangan tikus.
“Musim ini kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertanian
dan BBPOPT yang telah memberikan bantuan benih dan juga pendampingan
sehingga berhasil panen. Mudah-mudahan musim tanam berikutnya ada
bantuan dari pemerintah, kami dari Desa Pusakajaya sebanyak tujuh
kelompok siap dengan tangan terbuka menerimanya, mudah-mudahan Allah
meridhoi, terima kasih,” tutup salah satu petani.
Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian
(Kementan), Suwandi mengatakan Kementan melalui BBPOPT Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan terus berupaya mengendalikan hama tikus yang
menyerang pertanaman padi. Petugas pengendali OPT memberikan bimbingan
tentang upaya pengendalian tikus kepada petani, sehingga komitmen
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk menjadi ketersediaan beras
benar-benar terwujud.
“Kunci keberhasilan pengendalian tikus ini adalah bagaimana cara
menggerakkan kekompakan para petani. Kalau dilakukan sendiri-sendiri
sama saja hasilnya karena jangkauan habitat tikus ini cukup luas, maka
dari itu penting untuk melakukan gerakan pengendalian secara
bersama-sama,” ujar Suwandi.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian