INDOAGRIBIZ–Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) mengharapkan kepedulian dan kesadaran terhadap resistensi antibiotik, serta penggunaannya yang benar dapat menjadi bagian kurikulum ajar bagi mahasiswa kedokteran hewan di Indonesia.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Syamsul Maarif mengajak kesadaran semua pihak, yaitu pemerintah, masyarakat umum, akademisi, professional di bidang kesehatan hewan, dan peternak agar dapat terlibat dan berkontribusi dalam mengendalikan laju resistensi antibiotik melalui kesadaran penggunaan antibiotik yang lebih rasional, bijak dan bertanggung jawab.

”Lembaga Perguruan Tinggi merupakan mitra kerja Pemerintah yang sangat berperan penting dalam penyediaan substansi berbasis bukti ilmiah, yang akan menjadi acuan bagi kebijakan pemerintah,” kata Syamsul Ma’arif saat memberikan orasi pada Kuliah Umum (Studium General) ”Peningkatan Pemahaman dan Kesadaran Penggunaan Antimikroba yang Bijak dan Bertanggung Jawab” yang dihadiri oleh Civitas Akademika di Universitas Gajahmada, Jogjakarta, pada Sabtu (18/11/17).

Studium General ini merupakan bagian dari puncak acara ”Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia” atau ”The World Antibiotic Awareness Week”  yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 13 – 19 November 2017.  Kegiatan ini secara bertahap dilaksanakan di 5 Universitas yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran hewan  di Indonesia, yaitu IPB, UNAIR, UNHAS, UDAYANA, dan UGM.

Pada “Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia” ini telah dilaksanakan berbagai rangkaian kegiatan yang merupakan kerjasama antara Ditjen PKH dengan FAO-ECTAD (Food and Agriculture Organization) dan didukung oleh AFKHI (Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia), YOP (Yayasan Orang Tua Peduli), PPN (Pinsar Petelur Nasional), dan CIVAS (Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies).

Menurut Syamsul, Perguruan Tinggi merupakan lembaga yang akan mencetak insan-insan profesional, sehingga diharapkan Fakultas Kedokteran Hewan mampu mencetak tenaga dokter hewan yang memiliki pemahaman tentang resistensi antimikroba, dan prinsip-prinsip good veterinary practices, khususnya terkait dengan bagaimana antimikroba digunakan secara bijak dan bertanggungjawab.

”Kami mengajak calon dokter hewan untuk peduli dalam penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab untuk mengendalikan resistensi antimikroba di Indonesia,” ucap Syamsul Ma’arif.

Pada saat ini laporan di berbagai negara dunia mencatat adanya peningkatan laju resistensi dalam beberapa dekade terakhir, namun disisi lain penemuan dan pengembangan jenis antibiotik (antimikroba) baru berjalan sangat lambat yang artinya pola peningkatan laju resistensi sudah berbanding terbalik dengan penemuan obat antimikroba baru.

”Kita harus mulai waspada dengan adanya rilis sebuah laporan global review pada tahun 2016 yang menggambarkan model simulasi, dimana kejadian resistensi antimikroba diprediksi akan menjadi pembunuh nomor 1 didunia pada tahun 2050, dengan tingkat kematian mencapai 10 juta jiwa per tahun, dan kematian tertinggi terjadi di kawasan ASIA”, jelas Syamsul Ma’arif. [nss]