Kementan Perkenalkan Model Kampung Buah Naga Organik Ramah Lingkungan
Indoagribiz – Buah naga merupakan salah satu komoditas hortikultura yang
saat ini cukup diminati baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri
maupun untuk ekspor. Buah eksotis ini termasuk ke dalam kategori
glowing food, yaitu buah dan sayur beraneka warna yang
direkomendasikan untuk banyak dikonsumsi selama pandemi Covid-19
karena memiliki kandungan vitamin yang baik untuk menjaga imunitas
tubuh.
Untuk memenuhi permintaan buah naga dan komoditas hortikultura
lainnya, Direktorat Jenderal Hortikultura menentukan arah kebijakan
pembangunan hortikultura adalah meningkatkan daya saing, salah satunya
dengan mengembangkan kawasan Kampung Hortikultura. Kampung
Hortikultura ini merupakan program prioritas yang diharapkan dapat
menjadi solusi peningkatan produksi dan pemenuhan pangan, sekaligus
juga menjadi legacy Direktorat Jenderal Hortikultura untuk pertanian
Indonesia, sesuai dengan arahan dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin
Limpo.
Tujuan dikembangkannya kawasan Kampung Hortikultura adalah agar
Indonesia memiliki daerah terkonsentrasi yang menjadi sumber budidaya
hortikultura, sehingga mampu menghasilkan produk segar dan olahan
berdaya saing serta memudahkan akses pemasarannya.
“Kampung Hortikultura ini bertujuan agar kita memiliki daerah yang
menjadi sumber budidaya hortikultura yang terkonsentrasi. Kenapa perlu
terkonsentrasi? Yakni untuk memudahkan akses pasarnya,” papar Direktur
Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto dalam bimbingan teknis
(bimtek) bertajuk Model Pengembangan Kampung Buah Naga Organik secara
daring, dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Senin (12/7).
Pengembangan Kampung Buah Berbasis Ramah Lingkungan
Direktur Buah dan Florikultura Liferdi Lukman memaparkan, untuk
mengembangkan sebuah desa menjadi kawasan Kampung Buah Naga dan
Kampung Buah lainnya diperlukan 4 (empat) syarat utama. Pertama,
kesesuaian agroekosistem terhadap komoditas yang dikembangkan; kedua,
semangat dan dukungan dari masyarakat setempat; ketiga, komitmen
pemerintah daerah untuk pendampingan dan pengawalan; dan keempat,
terbangun dalam satu kesatuan administrasi desa.
“Kami hanya akan memberikan bantuan kepada masyarakat yang punya
komitmen dan antusiasme tinggi untuk mengembangkan buah tersebut.
Kemudian, komitmen pemerintah daerah. Ini menjadi keharusan bagi kami,
hanya untuk daerah-daerah yang pemerintahnya juga sejalan akan
menjadikan desa tersebut sebagai sentra buah-buahan,” jelas Liferdi.
Pada 2021, telah ada 802 Kampung Buah yang tersebar di seluruh
Indonesia dan siap dikembangkan. Untuk Kampung Buah Naga sendiri,
hingga saat ini baru terdapat 2 kawasan kampung di Banyuwangi dan
Bali. Kedua kawasan kampung ini sedang mempersiapkan produksi untuk
memenuhi permintaan ekspor dari Cina.
Dari sisi budidaya, Kampung Buah akan menerapkan budidaya sesuai
dengan standar operasional prosedur (SOP) dan pengendalian OPT yang
ramah lingkungan. Khusus untuk buah naga, Liferdi menjelaskan
Direktorat Jenderal Hortikultura telah melakukan Area-Wide Management
(AWM) dan gerakan pengendalian (gerdal) untuk mengendalikan OPT.
“Pada konteks buah naga, kita telah melakukan AWM pada tahun 2019 dan
2020 untuk mengendalikan lalat buah, kutu putih, dan kanker batang.
Untuk tahun 2021, telah dilaksanakan gerdal OPT pada buah naga di
Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Mengenai budidaya buah naga secara organik dan ramah lingkungan, Guru
Besar Fakultas Pertanian IPB sekaligus peneliti Pusat Kajian
Hortikultura Tropika IPB, Sobir memaparkan syarat utama tumbuh buah
naga adalah kecocokan agroklimat.
“Dalam menanam buah naga, agroklimatnya harus benar-benar
diperhatikan. Apakah sudah sesuai atau belum. Pernah ada yang menanam
buah naga di tanah yang asam seluas 50 ha dan gagal. Jadi, harus
diperhatikan benar agar penanaman secara organiknya tidak gagal,” ujar
Sobir.
Selain agroklimat, Sobir menyatakan bahwa benih sangat krusial dalam
menentukan keberhasilan. Untuk menanam buah naga secara organik, pilih
bahan perbanyakan dari pohon induk yang sehat dan dari populasi yang
sehat. Kemudian, celup batang benih ke dalam PGPR selama 30 menit
untuk merangsang perakaran dan menekan serangan penyakit tular tanah.
“Banyak petani buah naga yang terburu-buru sehingga malah menyebabkan
kehancuran. Contohnya di Batam. Dulu Batam merupakan pusat buah naga.
Tapi karena penggunaan benih yang tidak terkontrol, sekarang sudah
selesai. Tidak ada lagi,” tukasnya.
Budidaya Buah Naga Organik Tingkatkan Kesejahteraan Petani dan Masyarakat
Wahyu Tulus Nugroho bersama Gapoktan Beji Makmur Wonogiri merupakan
salah satu kelompok tan yang sukses membudidayakan buah naga secara
organik. Pada bimtek ini, Wahyu menyatakan bahwa petani tidak memiliki
nilai tawar. Salah satu senjata yang bisa digunakan petani untuk
menjadi nilai tawarnya adalah sertifikasi organik. Para petani di
Gapoktan Beji Makmur sendiri akhirnya berhasil mendapatkan sertifikasi
organik komoditas hortikultura pada 2018.
“Petani itu tidak memiliki nilai tawar. Saat panen dan dijual, kalau
tidak laku, ya dibeli dengan harga murah. Oleh karena itu, senjata
yang bisa digunakan untuk nilai tawar adalah sertifikasi organik,”
ujar Wahyu.
Gapoktan Beji Makmur memanfaatkan lahan pekarangan untuk
membudidayakan buah naga organik. Meskipun sempit, tapi saat musim
kemarau kering, lahan pekarangan ini dapat sangat dimaksimalkan.
Alhasil, pendapatan pun bisa meningkat. Pada 2018-2019, Gapoktan Beji
Makmur berhasil mengekspor 2,5 ton buah naga organik dan pada 2021,
Kelurahan Beji berhasil menjadi desa wisata organik.
“Kami mengonsepkan pekarangan yang tadinya hanya pelengkap rumah
diubah menjadi lahan yang menghasilkan. Selanjutnya, kami telah
menjadi wahana pembelajaran, dibuktikan dengan kunjungan dari berbagai
pihak. Ini telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara bertahap
dan semoga terus meningkat,” pungkasnya.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian