TOS Digelar Kembali, Sosialisasikan Pelaksanaan Kurban Di Masa Pandemi
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Peternakan
dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) melaksanakan Sosialisasi Kurban Dalam
Masa Pandemi Covid-19, di pelataran parkir Gedung C Kementerian
Pertanian, Selasa (21/7). Acara ini didukung oleh Biro Humas dan
Informasi Publik melalui platform Talk Show, Tani on Stage (TOS) dalam
rangka menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi tentang kebijakan
pemerintah terkait pelaksanaan kurban di tengah pandemi covid-19.
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kuntoro Boga Andri mengatakan
meskipun perubahan dalam berbagai hal terjadi di masa pandemi termasuk
kebiasaan di masyarakat dalam pelaksanaan kurban, Kementan ingin
memastikan kehidupan secara normal diterapkan dengan pendekatan yang
lebih aman.
“TOS ini kita optimalkan untuk mensosialisasikan segala macam program
dan event khusus termasuk bagaimana pelaksanaan kurban yang sesuai
dengan protokol kesehatan dan ketentuan pemotongan hewan kurban,” kata
Kuntoro dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Rabu (22/7).
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut
Diarmita menyampaikan, pelaksanaan Hari Raya Idul Adha tahun ini akan
sedikit berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, pelaksanaan
pada tahun ini berada di tengah pandemi covid-19 dengan
mempertimbangkan situasi new normal.
Pada masa new normal ini, masyarakat Indonesia menurutnya harus patuh
terhadap protokol kesehatan untuk melakukan tindakan pencegahan.
Misalnya rajin cuci tangan pakai sabun, atau menggunakan hand
sanitizer, menerapkan etika batuk/pakai masker, meningkatkan daya
tahan tubuh, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.
“New normal ini dilakukan agar masyarakat tetap produktif dan aman
dari Covid-19 di masa pandemi,” ungkap Ketut.
Adaptasi new normal dalam pelaksanaan kegiatan kurban juga dituangkan
dalam panduan Kementan tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban Dalam
Situasi Wabah Bencana Nonalam Covid-19. Panduan ini tertuang dalam
Surat Edaran Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor
008/SE/PK.320/F/06/2020 tanggal 8 Juni 2020.
Secara garis besar, panduan ini mengatur tentang upaya penyesuaian
terhadap pelaksanaan new normal dalam kegiatan penjualan hewan kurban
dan pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan-Ruminansia (RPH-R)
maupun di luar RPH-R dengan memperhatikan faktor jaga jarak fisik
(physical distancing), penerapan higiene personal, pemeriksaan
kesehatan awal (screening) dan penerapan hygiene sanitasi.
“Dalam pelaksanaan kurban, kita tetap harus memperhatikan tiga hal
pokok, yaitu kesehatan dari hewan yang akan dikurbankan, proses
penyembelihan hewan kurban, dan distribusi daging hewan kurban kepada
mustahiq,” jelas Ketut.
Supratikno, narasumber yang juga Kepala Tim Peneliti Penyembelihan
Halal HSC IPB mengatakan bahwa ada empat (4) kriteria hewan kurban
yang baik, yaitu: sehat, tidak cacat, tidak kurus, dan cukup umur.
“Persyaratan hewan sehat ini menjadi sangat penting mengingat banyak
sekali penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis),”
sambungnya.
Jaminan Kesehatan Hewan dan Daging
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Syamsul Ma’arif mengatakan,
penyediaan hewan kurban yang sehat memang menjadi tanggung jawab
bersama. Untuk itu, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat yang akan
berkurban agar membeli hewan kurban sehat di tempat-tempat penjualan
yang telah mendapat izin dari pemerintah daerah.
“Belilah hewan kurban yang sehat di tempat-tempat penjualan hewan
kurban yang telah mendapat izin dari pemerintah daerah untuk
mendapatkan hewan yang dijamin kesehatannya oleh dokter hewan dan
petugas kesehatan hewan,” papar Syamsul.
Ia menjelaskan, penjaminan kesehatan hewan kurban ini sangat penting
dalam upaya mencegah penularan penyakit hewan ke manusia. Dalam hal
penyelenggaraan kurban juga harus memperhatikan ketentuan teknis yang
diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor
114/Permentan/PD.410/9/2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban.
Peraturan tersebut telah mengatur persyaratan minimal yang harus
dipenuhi mulai dari tempat penjualan hewan kurban, pengangkutan dan
penampungan sementara di lokasi yang akan dipergunakan untuk
pemotongan hewan kurban. Selain itu dijelaskan juga tata cara
penyembelihan hewan kurban dan distribusi daging kurban sesuai aspek
teknis dan syariat Islam.
Dengan memenuhi ketentuan teknis tersebut diharapkan daging kurban
yang akan dibagikan kepada masyarakat telah memenuhi persyaratan
keamanan, kesehatan, keutuhan dan kehalalan (ASUH).
“Saya berharap pelaksanaan pemotongan hewan kurban sebagai salah satu
ritual Idul Adha tahun ini, meski dalam situasi pandemi Covid-19 dapat
berjalan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” harapnya.
Dengan melaksanakan pola hidup bersih dan sehat sesuai protokol
kesehatan dalam pandemi covid-19 serta melaksanakan protokol
penyembelihan hewan kurban ia berharap semua pihak bisa tetap sehat
dan menghasilkan daging kurban yang layak.
“Manusia sehat, hewan sehat. Food safety from farm to spoon. Semoga
Allah SWT meridhoi dan memberikan kemudahan atas usaha-usaha baik kita
semua,” tutupnya.
Sementara itu, Denny Widaya Lukman, Pakar Kesehatan Masyarakat
Veteriner FKH IPB menyarankan dalam penanganan hewan kurban, daging
dan jeroan, alat dan tempatnya dipisahkan.
“Terdapat dua pembagian jeroan yaitu jeroan merah, seperti, jantung,
hati, limpa, ginjal dan paru. Sedangkan jeroan hijau perut-an dan
usus, yang jauh lebih banyak bakteri zoonosis nya. Untuk itu kita
harus memperhatikan pembuangannya, limbahnya. Limbah darah dan isi
jangan dibuang ke aliran air yang umum mengalir, namun dimasukkan ke
dalam tanah. Umat islam itu bersih dan cinta lingkungan,” ungkapnya.
Ada empat narasumber dalam Sosialisasi Kurban Dalam Masa Pandemi,
yaitu Denny Widaya Lukman, Pakar Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH
IPB, Supratikno, Kepala Tim Peneliti Penyembelihan Halal HSC IPB,
Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan,
dan Syamsul Ma’arif, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian