Atasi Dampak Banjir Rob, Kementan Dorong Indramayu Tingkatkan Luas Tanam Padi
Indoagribiz – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong daerah
meningkatkan luas tambah tanam padi guna menjamin ketersediaan beras,
utamanya agar pasca pandemi virus corona (covid 19) tidak terjadi
defisit beras atau krisis pangan. Indramayu sebagai sentra produksi
padi terbesar di Indonesia turut mendapat perhatian serius dari
Kementan dengan memberikan bantuan benih, alat mesin pertanian seperti
traktor dan pompa air, asuransi pertanian dan dana Kredit Usaha Rakyat
(KUR) sehingga percepatan olah tanah dan tanam tercapai.
“Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo selalu mewanti-wanti
ancaman kekeringan dari FAO sehingga potensi krisis pangan cukup
besar. Maka dari itu, kami hari ini terjun ke lapangan respon cepat
banjir rob yang melanda lahan pertanian 1.500 hektar agar segera bisa
ditanami padi,” demikian dikatakan Direktur Jenderal saat meninjau
lahan pertanian yang terkena banjir rob di Desa Ilir, Kecamatan
Kandanghaur, Indramayu, dikutip dari laman resmi Kementerian
Pertanian, Jumat (19/6).
Suwandi menyebutkan dalam mengatasi langsung lahan yang terkena banjir
rob agar cepat ditanami padi yakni Kementan memberikan bantuan benih
padi varietas yang tahan salinitas seluas 1.500 hektar dan akan
diusahakan bantuan pupuk. Selain itu, Suwandi meminta pihak Dinas
Pertanian Indramayu agar mengajukan permohonan pembuatan tanggul pintu
air irigasi sehingga jika terjadi banjir rob ke depan tidak masuk ke
lahan pertanian.
“Jadi kita respon cepat jangan sampai ada lahan pertanian yang tidak
tertanami. Kami siap memberikan bantuan kepada petani. Ini sesuai
komitmen Pak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, jangan biarkan
masalah,” sebutnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Indramayu, Takmid
mengungkapkan optimis dapat meningkatkan luas tambah tanam Juni hingga
September 2020. Luas tanam padi oktober 2018-Mei 2019 seluas 203.091
hektar sementara Oktober 2019-2020 seluas 201.953 hektar. Kekurangan
luas tanam dibanding 2019 ini dapat dipenuhi dengan mendongkrak luas
tanam di bulan Juni 2020.
Adapun Dinas Pertanian Indramayu menargetkan luas tanam padi bulan
Juni 2020 ini sebesar 37.120 hektar, sementara Kementan memberikan
target luas tanam padi sebesar 46.373 hektar. Dengan produktivitas
padi 7,3 ton per hektar, maka diperoleh gabah kering panen 338.523
ton.
“Realisasi tanam padi Kabupaten Indramayu per tanggal 20 Juni 2020
seluas 20.017 hektar. Target luas tanam sampai 46.373 hektar pun kami
optimis bisa,” ujar Takmid.
Takmid menjelaskan pihaknya optimis meningkatkan luas tanam padi
Juni-September 2020 karena masif melakukan percepatan olah dan tanam,
ketersediaan air masih cukup, kesiapan sarana seperti traktor
tersedia, pompa air tersedia sehingga terjadi kekeringan tidak
kesulitan air.
“Selain itu, bantuan benih dari Kementan pun turun tepat waktu
sehingga siap digunakan petani saat mau tanam,” tuturnya.
Perlu diketahui, banjir rob di Indramayu ini melanda lahan pertanian
seluas 1.500 hektar. Berdampak pada lahan pertanian di 6 desa yakni
Desa ilir, Eretan Wetan, Eretan Kulon, Kerta Winangun, Bulak, Parean
Girang di Kecamatan Kandanghaur.
Korporasi Petani
Takmid menyebutkan Dinas Pertanian Indramayu menyambut baik program
Kementan yakni mengembangkan korporasi petani sehingga kegiatan
pertanian dalam lebih maju, mandiri dan modern. Korporasi petani
dengan fokus utamanya komoditas padi dan pengembangan komoditas
penunjangnya yakni jagung, ternak dan komoditas hortikultura di
antaranya sayuran dan semangka.
“Pembentukan korporasi ini berada di 3 kecamatan yakni Lelea, Trisi
dan Cikedung yang mencakup 27 desa. Korporasi petani mengoptimalkan
gabungan kelompok tani (gapoktan,- red). Satu desa satu korporasi
dengan konsentrasi yang berbeda-beda, dimana ada korporasi beras,
korporasi benih dan ada korporasi yang mengelola unit pengelola jasa
alsintan,” ucapnya.
Menurut Takmid, dengan pembentukan korporasi petani ini maka dapat
menjadi solusi juga bagi petani terkait harga padi saat musim panen.
Artinya, hadirnya korporasi petani memberikan atau menjamin harga
gabah yang menguntungkan petani.
“Melalui model korporasi, petani menghasilkan beras dengan kuantitas
dibutuhkan banyak dengan kualitas yang seragam dan kontinuitas. Karena
dalam satu kawasan, secara agroklimat dan agrosistem akan seragam.
Untuk kemudian berkembang keberlanjutan komoditas di daerah tersebut,”
tuturnya.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian