INDOAGRIBIZ–Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berhasil mengantisipasi musim paceklik padi yang biasanya terjadi pada awal dan akhir tahun. Strategi yang dilakukan adalah dengan menambah luas areal tanam saat musim tanam yang berlangsung pada bulan Juli-September. Menurut Mentan, menanam itu bukan merupakan hal yang instan, ada persiapan sebelumnya untuk dijadikan solusi permanen hadapi musim paceklik di Indonesia.

“Strategi yang telah kita lakukan adalah menggenjot produksi di bulan Juli-Agustus-September yaitu tidak boleh tanam di bawah 1 juta hektare, kalau dulu yang ditanam hanya 500 ribu hektare. Kalau tanam segitu artinya dikali produksi enam ton (setiap 1 hektare) berarti 3 juta ton dibagi dua jadi 1,5 juta ton beras padahal kebutuhan kita 2,6 juta ton,” kata Amran saat meninjau kegiatan panen di Desa Waru, Kecamatan Kebakkramat, Kab. Karang Anyar, Jawa Tengah, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Kamis (9/11).

Panen di bulan November ini dilaporkan telah mencapai target 1 juta hektare. Hal ini menunjukan bahwa target pada musim tanam kemarin telah berhasil. Sehingga kapasitas produksi beras dapat mencukupi kebutuhan nasional dan harga di pasaran juga dapat dikatakan cenderung stabil.

“Kalau tanam 1 juta hektare dengan produksi 7 ton per hektar maka produksinya dikali 7 ton berarti ada 7 juta ton gabah dan jika dikonversi ke beras akan dibagi dua yaitu 3.5 juta ton produksi beras. Kebutuhan satu bulan 2,6 juta ini artinya ada surplus 900 ribu ton sehingga tidak ada penceklik dan harga stabil,” jelas Mentan.

Selain itu, sesuai laporan yang diterima Mentan menyebutkan bahwa beras sudah masuk di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sebesar 5220 ton. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan pasokan sebesar 100 persen. “Bisanya normalnya yang masuk di PIBC sekitar 2000-2500 ton beras,” sebut Mentan.

Keberhasilan dalam menghadapi musim paceklik ini juga ditandai dengan harga beli gabah petani yang mengalami kenaikan dan harga beras di konsumen yang cenderung stabil bahkan ada yang turun. Baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa secara keseluruhan, kelompok bahan makanan tercatat deflasi pada periode ini sebesar 0,45%, karena turunnya harga sejumlah komoditas. Jika dibandingkan tahun lalu sebesar 0,65. “Deflasi yang terjadi pada musim paceklik ini luar biasa, bisanya yang terjadi sebelumnya adalah inflasi besar-besaran,“ tegas Mentan

Dalam kesempatan tersebut Mentan juga menjabarkan beberapa strategi lainnya yang dilakukan untuk menghadapi musim paceklik, di antaranya melakukan mekanisasi pertanian, membangun pompa, embung, irigasi, sumur dangkal dan dalam, serta membangun Rain Water Harvesting (RWH).

“Berkat mekanisasi pertanian menggunakan combine harvester yang dulunya panen membutuhkan tenaga 20 orang sekarang hanya butuh 1 orang selama 3 jam sehingga dapat mempercepat waktu tanam dan panen,“ jelas Mentan. [moh]

foto : laman resmi Kementan