Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono (ketiga dari kiri) saat memberikan keterangan pers terkait pengembangan hortikultura tahun 2018.

INDOAGRIBIZ–Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, menginisiasi sedikitnya enam wilayah perbatasan yang akan menjadi lumbung pengembangan hortikultura di Indonesia. Keenam lokasi itu sejatinya akan lebih diprioritaskan untuk produk ekspor ke beberapa negara tetangga.

Dirjen Hortikultura, Kementan, Spudnik Sujono mengungkpakan, pengembangan di wilayah perbatasan menjadi penting di saat Indonesia telah melakukan swasembada untuk beberapa komoditas holtikultura seperti bawang merah. “Tahun 2018 di enam lokasi wilayah perbatasan itu nantinya akan kita kembangkan komoditas dengan tujuan ekspor ke sejumlah negara tetangga,“ kata Spudnik dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, pada Rabu (27/12/17).

Keenam daerah kawasan perbatasan tersebut ialah, pertama, di Kepulauan Riau, di mana pangsa pasar yang akan dibidik adala Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kedua, Pontianak-Kalimantan Barat di mana pasar yang dibidik adalah Brunei Darussalam dan Malaysia. Ketiga, Kalimantan Utara, pangsa pasarnya Brunei Darussalam dan Serawak-Malaysia. Keempat, Sulawesi Utara pangsa yang dibidik adalah Filipina. Kelima, Papua pasar yang dibidik adalah Papua Nugini. Dan keenam Nusa Tenggara Timur di mana pasar yang dibidik adalah Timor Leste.

“Untuk NTT tahun 2017 kita sudah ekspor bawang merah ke Timor leste. Pada tahun 2018 nanti kita tetap akan mengembangkan komoditas bawang merah dengan pangsa pasar Timor Leste,” kata Yasid Taufik dir Pengolahan dan Pemasaran menambahkan.

Menurut Yasid, tiap lokasi wilayah perbatasan berbeda-beda komoditas yang akan dikembangkan. Di Kepulauan Riau (Kepri), misalnya, akan lebih focus pada sayuran daun dan buah-buahan. Bahkan di Kepri untuk jenis nanas siap diekspor ke Malsyisa dan Singapura. “Di Kaltara malah beras yang jadi komoditas pengembangan unggulan dan di Jayapura untuk bawang merah dan bawang putih,” katanya.

Sementara untuk pengembangan hortikultura pada tahun 2018, seperti halnya pada 2017, akan lebih focus pada tiga prioritas antara lain prioritas 1 terdiri cabai, bawang merah dan jeruk. Prioritas 2 dengan komoditas bawang putih dengan target pada 2019 bisa sudah swasembada seperti halnya bawang merah. Dan prioritas 3 terdiri dari buah dan florikultura.

“Bahkan kami ke depan tidak hanya pada APBN saja dalam pembiayaannya. Kami juga akan menggandeng stakeholders serta dana CSR dari para pedagang benih,” ujar Spudik.

Dijelaskan, khusus untuk bawang putih, sudah ada 60 perusahaan yang sudah melakukan kemitraan dengan para petani skala kecil. Dari 60 perusahaan tersebut 40 di antaranya sudah melaporkan realisasi tanam dan 20 perusahaan sudah melaksanakan penanaman pada areal 542 ribu hektar. “Targetnya kita pada 2019 sudah swasembada bawang putih,” katanya. [nss]