Kementan Akan Intensifikasi Kebun Aren 140 Ribu Ha

Jakarta (Indoagribiz).  Selain sebagai tanaman konservasi, aren sudah banyak dimanfaatkan petani untuk diambil niranya. Bahkan, sejumlah petani dan produsen aren sudah mampu ekspor gula aren ke sejumlah negara. Guna mendukung petani aren, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2021 berencana melakukan intensifikasi kebun aren seluas 140 ribu ha dengan anggaran Rp 1 miliar.

Direktur Perlindungan Perkebunan Ardi Praptono mengatakan, aren memiliki potensi yang besar sebagai penyumbang devisa negara dan kegiatan ekonomi produktif petani. Tercatat, luas kebun aren 64.881 ha  dengan poduksi 96.000 ton/tahun. Sedangkan, produktivitas kebun aren yang dikelola petani sebanyak 49.000 kg/ha.

“ Untuk mendukung kegiatan aren, kami berencana mengembangkan komoditas tersebut dari hulu-hilir. Di hulu ada intensifikasi seluas 140 ribu ha dengan anggaran Rp 1 miliar dan untuk perbenihan juga akan dikembangkan kebun induk benih. Kemudian di hilirnya ada bantuan 24 unit alat pengolah aren senilai Rp 2,2 miliar,” kata Ardi Praptono saat  menyaksikan langsung pelantikan pengurus Serikat Petani dan Produsen Aren Indonesia (SPPAI) periode 2021-2025, secara virtual, di Jakarta, Rabu (20/1).

Dalam kesempatan tersebut Ardi mengapresasi terbentuknya SPPAI yang nantinya menjadi wadah para petani dan produsen aren. Pembentukan serikat ini akan menguatkan kelembagan petani. Diharapkan,  SPPAI nantinya akan menjadi korporasi petani.

“ Setelah berkorporasi, akan jadi kekuatan petani aren  dan bisa bersaing di pasar ekspor,” ujarnya.

Diharapkan, SPPAI menjadi kekuatan dan setiap kendala bisa disinergikan dengan Ditjen Perkebunan. Agar mampu bersaing, petani dan produsen aren akan didukung melalui pengembangan produk terkait dengan  gerakan tiga kali ekspor (Gratiek) dan Grasida.

“ Kami harapkan, dengan adanya SPPAI, petani dan produsen aren akan lebih berkembang demi kemajuan aren Indonesia,” katanya.

Harapan yang sama diungkapkan, Pembina SPPAI Gamal Nasir. Menurut Gamal, aren merupakan tanaman multi fungsi, sekaligus sebagai tanaman bernilai ekonomi tinggi yang bisa mensejahterakan petani. “Wadahnya saat ini sudah terbentuk, pengurus tinggal membuat profil kelembagaan ke Kementerian terkait. Juga dibuatkan keanggotaannya. Jangan hanya pencitraan dan perlu lakukan konsolidasi terkait lahan dan produksi arennya,” kata Gamal.

Menurut Gamal, dengan membentuk wadah, petani dan produsen aren, kalau ada program pemerintah akan lebih mudah implementasinya. “Jadi, kami harap pak Anwar sebagi ketua segera lakukan konsolidasi dengan pengurus,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua SPPAI, Anwar mengatakan, pembentukan SPPAI merupakan sejarah bagi petani dan produsen aren. Sebab, dari dulu petani dan produsen aren belum memiliki asosiasi. Dengan terbentuknya asosiasi, SPPAI akan menjadi mitra pemerintah dalam mengoptimalkan potensi aren di tanah air.

“ Melalui SPPAI,  kami dapat mengetahui potensi aren dan informasi penting tentang aren, dan kapasitasnya di masing-masing wilayah  maupun pemasarannya,” kata Anwar.

Menurut Anwar, SPPAI juga akan mengembangkan perkebunan aren di sejumlah lahan kritis, sepanjang DAS. Kemudian, melakukan diversifikasi aren (dengan sawit, coklat atau kopi). “ Seperti di Bengkulu sudah dilakukan diversifikasi aren dengan kopi. Karena itu, kami siap melakukan kolaborasi dengan pemerintah,” pungkasnya. (ind)