Kembangkan Komoditas Perkebunan Lain Sehebat Sawit

Jakarta (Indoagribiz)—- Perkebunan merupakan penyumbang utama devisa sektor pertanian. Pada tahun 2020 ekspor pertanian mencapai Rp 451,8 triliun. Dari jumlah tersebut, penyumbang terbesar berasal dari  subsektor perkebunan yaitu 94%. Komoditasnya yang paling besar adalah kelapa sawit.

“Sebagai orang perkebunan kita bangga dengan capaian ini. Tidak ada yang tidak bangga dengan ekspor perkebunan. Tetapi disisi lain harus berpikir keras lagi. Setelah sawit apa lagi yang harus didorong supaya bisa sehebat sawit. Apakah karet, kakao, kopi, kelapa ,” kata Plt Dirjen Perkebunan, Ali Jamil , di Jakarta, Senin (20/12).

Ali Jamil pada peringatan Hari Perkebunan yang dilaksanakan Media Perkebunan dengan tema Pemulihan Ekonomi Perkebunan, Pasca Pandemi, Jumat (17/11) lalu, di Jakarta menyebutkan, sawit bisa seperti sekarang bukan serta merta tetapi lewat proses panjang karena sudah dikembangkan secara komersial sejak tahun 1910, sudah seratus 111 tahun. Lewat kebijakan pemerintah periode sebelumya seperti kebijakan PBSN, PIR dan lain-lain generasi sekarang menikmati kejayaan sawit.

Menurut Ali Jamil, Komoditas perkebunan lain perlu didorong. Kakao misalnya dengan luas tanaman 1.5 juta Ha saat ini Indonesia produsen nomor 3 dunia. “Posisi nomor 3 dengan luas sebesar itu tidak membanggakan. Produktivitas kita masih jauh lebih rendah dibanding negara lain,” katanya.

Ali Jamil minta semua stakeholder menyusun road map pengembangan komoditas perkebunan sehingga bisa menyamai kelapa sawit. Hal ini tidak bisa diserahkan begitu saja pada Kementan, perlu pemikiran dan masukan serta aksi dari komponen masyarakat lain.

Kelapa dengan luas 3,6 juta Ha setelah ditelisik ternyata produktivitas semakin menurun.Dari jaman dulu Indonesia merupakan eksportir kopra dan kelapa bulat. Jangan terus seperti itu sekarang dengan pengembangan UMKM ekspor ada ada 12-15 jenis produk kelapa yang sudah diekspor. Santan, arang tempurung kelapa, tepung kelapa dari dulu juga sudah diekspor, perlu lebih banyak produk lain yang diekspor.

Salah satu faktor sawit menjadi besar adalah banyak perusahaan besar yang terlibat. Sedang di komoditas lain relatif tidak ada atau sedikit. Kalaupun ada yang besar tidak sebesar sawit. Sedang pembiayaan APBN jelas sangat tidak cukup untuk pembangunan komoditas lain.

Masih banyak potensi misalnya gula merah dan gula semut baik yang berasal dari kelapa atau aren permintaanya di Eropa dan Amerika unlimited. Tetapi siapa yang mau mengembangkan kelapa dan aren secara besar-besaran untuk diambil niranya.

Dalam kesempatan tersebut, Ali Jamil mengatakan, lahan untuk pengembangan perkebunan masih banyak tersedia. Sampai tahun 2024 KLHK megalokasikan 12 juta ha untuk perhutanan sosial. Saat ini realisasi baru 5 juta ha. Memang tidak bisa untuk kelapa sawit tetapi bisa untuk kopi, kakao, kelapa, kemiri dan tanaman perkebunan lainnya. Masa berlaku 35 tahun dan setelah itu bisa diperpanjang.

Menurutnya, untuk mengembangkan sub sektor perkebunan dengan mengandalkan pembiayaan APBN jelas sangat tidak cukup. Pemerintah sudah membuat KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk membiayai pertanian. Dari alokasi Rp 70 triliun tahun ini realisasi Rp 83 triliun, perkebunan terbesar Rp 30 triliun.

“ Saya minta semua stake holder untuk ikut serta supaya KUR ini semakin banyak diserap untuk meningkatkan produktivitas. Produktivitas kopi, kakao, kelapa masih menjadi tantangan untuk ditingkatkan,” katanya.

Dikatakan, ekspor tahun 2020 nilainya meningkat tetapi volumenya menurun. Artinya memang harga komoditas naik, tetapi ada masalah di produksi. “Untung harganya naik sehingga kita masih tertolong. Masih ada masalah produktivitas yang harus diselesaikan,” ujar Ali.

Pada kesempatan yang sama, Gamal Nasir, Pemimpin Umum Media Perkebunan menyatakan saat ini dengan Covid dunia masuk dalam ketidakpastian. Pasokan pupuk dunia berkurang karena negara produsen bahan baku mengurangi ekspor. Akibatnya harga pupuk global naik. Di Indonesia petani kelapa sawit paling merasakan dampaknya dan paling kencang berteriak. Petani harus disiapkan menghadapi situasi ini.

Saat ini yang harus dilakukan adalah meningkatkan efisiensi di hulu dan meningkatkan hilirisasi. Seperti kata Wapres jangan selalu menjadi eksportir bahan mentah. (Humas Ditjenbun)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjenbun