Kelimpahan SDI Bisa Dijadikan Penggerak Ekonomi Nasional

Bogor (Indoagribiz)—– Potensi lestari sumber daya ikan nasional sebesar 12,54 juta ton/tahun dari perikanan umum dan laut, belum termasuk perikanan budidaya. Bahkan, kelimpahan sumber daya ikan (SDI) ini dapat didayagunakan sebagai penggerak ekonomi nasional, penyedia lapangan kerja, penghasil devisa serta menjadi sumber pangan dan gizi nasional.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), KKP, Artati Widiarti menjelaskan,  sejak tahun 2004 KKP telah melaksanakan Program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang bertujuan meningkatkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia dalam rangka mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sekaligus menguatkan pasar domestik hasil perikanan Indonesia.  Tercatat, konsumsi ikan nasional pada tahun 2020 sebesar 56,39 kg/kapita dan pada tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 58,08 kg/kapita dan tahun 2024 sebesar 62,05 kg/kapita dengan rata-rata tingkat pertumbuhan sebesar 2,43% per tahun.

“Dalam perkembangannya, program Gemarikan menjadi lebih intensif dengan diadopsinya pada program prioritas lainnya, seperti Program Percepatan Penurunan Stunting, Program Penanganan Darurat Bencana, dan Program Penanganan Dampak COVID-19 serta Program Peningkatan Imunitas dalam rangka menghadapi Covid-19,” kata Artati,  pada pembukaan FINA 2021 secara online, Selasa (9/11).

Menurut Artati, penerapan prinsip-prinsip blue economy menjadi agenda yang harus diprioritaskan dalam pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan. Untuk mewujudkan hal tersebut, KKP memiliki 3 program terobosan yang bermuara pada keberlanjutan sumberdaya kelautan dan perikanan nasional. Yaitu, perikanan tangkap terukur dalam rangka peningkatan PNBP dan kesejahteraan nelayan, perikanan budidaya berbasis riset untuk peningkatan ekspor, dan pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal.

Pada kesempatan tersebut, Artati juga memberikan apresiasi atas dukungan HAC IPB dalam program peningkatan konsumsi ikan. “Saya menyampaikan apreasiasi terhadap upaya dari para akademisi, khususnya Himpunan Alumni FPIK Institut Pertanian Bogor (HAC IPB) yang telah mendukung peningkatan konsumsi ikan melalui promosi UMKM perikanan, kampanye makan ikan, dan edukasi pada Festival Ikan Nusantara. Semoga kegiatan ini membawa manfaat bagi kita semua,” katanya.

Kegiatan FINA 2021

Indonesia dengan luas daratan sebesar 1.922.570 km2 dan luas perairan mencapai 3.257.483 km2, hingga saat ini belum mampu menggarap potensi perikanan secara optimal. Padahal,  potensi ekonomi perikanan dan kelautan Indonesia mencapai US$1.388 miliar per tahun. Apabila potensi itu sudah digarap, nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat akan sejahtera.

Sebagai upaya membangkitkan raksasa ekonomi yang tengah tertidur ini, Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (HAC IPB) menyelenggarakan kegiatan Festival Ikan Nusantara (FINA) 2021 yang bertujuan mengajak masyarakat Indonesia meningkatkan produksi dan konsumsi ikan sekaligus memperingati Hari Ikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 21 November.

Nelly Oswini, Ketua Pelaksana FINA 2021 mengatakan,  kegiatan ini merupakan program kerja HAC IPB yang kolaborasi dengan KKP serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University. FINA 2021 yang mengusung tema “Ikan, Masa Kini dan Masa Depan Kita” ini berlangsung pada 9-25 November 2021 secara hibrid.

Rangkaian acara FINA 2021 meliputi webinar perikanan dengan topik Peningkatan Konsumsi Ikan Lokal untuk Ketahanan Pangan; Kupas Tuntas Industri Udang Vaname di Aceh; dan Lawan Stunting dengan Gizi Ikan. Kemudian,  peluncuran website FINA dan pameran virtual yang diikuti UMKM dan perusahaan swasta bidang perikanan dan nonperikanan, kegiatan Ayo Makan Ikan Sedunia secara luring dan daring, serta aneka lomba berupa lomba cover lagu “Ayo Makan Ikan”; lomba video kreasi olahan ikan; dan lomba cerita anak dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial.

Menurut Nelly, perhelatan FINA 2021 bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang industri perikanan dan produk turunannya, mendorong masyarakat untuk lebih gemar mengkonsumsi ikan sebagai sumber gizi dalam mengatasi stunting. Kemudian,  mempercepat pertukaran informasi dan teknologi perikanan tangkap dan budidaya terkini yang adaptif dan inovatif baik dari dalam maupun luar negeri.

“ Yang tidak kalah penting, menarik minat investor untuk memanfaatkan peluang berinvestasi dalam industri perikanan budidaya di Indonesia,” ujar Nelly, dalam siaran persnya, di Bogor, Selasa (9/11).

Lebih lanjut, Nelly mengatakan, yang membedakan FINA 2021 dengan tahun-tahun sebelumnya adalah acara diselenggarakan secara hibrid sehingga kegiatan pameran bisa diakses 24 jam secara global. Dengan demikian, para pengunjung memiliki waktu leluasa untuk mengikuti pameran dan para peserta bisa menjalin kerja sama dengan stakeholder perikanan dari seluruh dunia.

“ Selain itu, pembuatan Road Map Makan Ikan yang berisi usulan rencana strategis untuk meningkatkan konsumsi ikan hingga 2045, bertepatan dengan Indonesia Emas atau 100 tahun kemerdekaan Indonesia,” ujar Nelly.

Road Map disusun oleh tim ahli gabungan akademisi dan praktisi yang dipimpin oleh Prof. Dr. Uju, MSi, Guru Besar FPIK IPB University. Road Map ini akan diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan pada hari puncak acara FINA 2021 tanggal 25 November 2021.

Sedangkan peserta kegiatan ditargetkan mencapai 1.000 orang,  meliputi pelaku usaha, masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa, serta kalangan akademisi dan pemerintah.
Pembukaan FINA 2021 secara ofline bertempat di Raiser Ikan Hias Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Hadir memberikan sambutan dalam kegiatan pembukaan FINA 2021 yaitu Ketua HAC IPB, Hikmat Rusdi, Ketua HA IPB, Fathan Kamil, Fredinan Yulianda, Dekan FPIK IPB University, Arif Satria, Rektor IPB University, dan Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, KKP, Artati Widiarti.

Ketua HAC IPB, Hikmat Rusdi mengatakan, FINA menjadi kegiatan tahunan himpunan alumni FPIK IPB. “Selayaknya alumni FPIK ikut serta mendukung kegiatan-kegiatan kelautan dan perikanan,” ujarnya.

Ketua HA IPB, Fathan Kamil mengatakan, Festival Ikan Nusantara merupakan kegiatan penting yang punya makna strategis sebagai komitmen mendorong penguatan ketahanan pangan nasional. “Ikan bagian integral dari produksi pangan yang dihasilkan dari laut. Oleh karena itu kami terus mendorong agar kampanye ini berkelanjutan, agar kesadaran di masyarakat dalam mengonsumsi ikan terus berlanjut dan meningkat kebutuhannya dan didorong lebih jauh produksinya,” kata Fathan.

Sementara itu, Fredinan Yulianda, Dekan FPIK IPB University menjelaskan, perlu upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan ikan segar, ikan bermutu, mudah diperoleh, dan dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, diperlukan dukungan semua stakeholder terkait mewujudkan hal tersebut.

“Mari kita bangun budaya makan ikan, budaya penyedia ikan, budaya menciptakan mutu ikan, dan budaya melahirkan insan-insan yang sehat dan cerdas melalui Festival Ikan Nusantara tahun 2021. Hari ini akan mencatat momentum itu untuk membangkitkan raksasa ikan yang selama ini tertidur,” kata Fredinan,  dalam sambutan secara daring.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor IPB, Arif Satria mengatakan, peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia sangat ditentukan oleh pola konsumsi. Karena itu kita harus terus meningkatkan konsumsi ikan per kapita agar kualitas SDM Indonesia benar-benar unggul, memiliki kecerdasan dan skil yang diperlukan untuk merespon masa depan.

“Sangat penting memikirkan jangka panjang SDM Indonesia. Kita berada dalam satu kondisi di mana ada mega disruption, climate change, revolusi industri 4.0, dan pandemi Covid-19. Oleh karena itu, kita harus menciptakan SDM yang benar-benar bisa merespon itu sebagai seorang pembelajar yang cepat, lincah dan andal,” papar Arif.

Menurut Arif,  dengan fokus pada konsumsi makanan bergizi, khususnya ikan, dapat membantu meningkatkan kualitas SDM Indonesia yang unggul.  Masyarakat juga dituntut untuk bisa terus menjaga keberlanjutan sumber daya ikan.

“ Sumber daya ikan kita sangat-sangat beragam, sangat-sangat kaya, dan sangat penting sekali dikelola dengan lestari menggunakan prinsip-prinsip berkelanjutan dan bersifat inklusif yang artinya membuka akses bagi maysrakat untuk mengelola. Karena, kunci peningkatan konsumsi ikan per kapita bagaimana kita bisa meningkatkan dan menyediakan persediaan ikan untuk dikonsumsi,” katanya.

Industri pengolahan juga berperan andil menyajikan ikan dalam aneka bentuk yang sehat, cepat saji, dan nyaman untuk konsumen. “Kita tidak perlu mempertenangkan produk ikan beku, fresh (segar), atau olahan. Semua penting untuk dikonsumsi. Tugas kita bagaimana menyediakan ikan-ikan dalam bentuk hidup, segar, beku, asin, kaleng, dan aneka proses lainnya,” kata Arif. (ind)

Sumber Foto. Dok: istimewa