INDOAGRIBIZ–Kebijakan impor gula mentah seharusnya dapat dikurangi atau bahkan diberhentikan. Pasalnya, selama ini impor tersebut dinilai mengancam produksi yang telah dihasilkan oleh petani tebu nusantara.

“Kami di Komisi VI sedang berjuang bagaimana impor gula dikurangi, jika perlu disetop,” kata Anggota Komisi VI DPR Khilmi dalam rilis, Minggu (15/10).

Menurut politisi Partai Gerindra itu adanya impor gula mentah berpotensi mengancam hasil produksi petani tebu dalam negeri. Ia mengingatkan di saat yang bersamaan masih ada indikasi keberadaan gula rafinasi yang marak beredar di pasaran yang mengeyampingkan gula kristal putih lokal karena harganya lebih murah.

Untuk itu, ujar dia, seharusnya Kementerian Perdagangan juga bisa menghitung berapa kebutuhan riil masyarakat akan komoditas gula. Sunghuh ironis, di satu sisi gula produksi dalam negeri tidak bisa diserap, namun gula rafinasi membanjiri pasar.

Khilmi juga menegaskan agar pemerintah segera merevitalisasi beragam pabrik gula milik BUMN agar semua hasil produksi gula domestik terpakai. Dengan demikian, produksi gula juga diharapkan ke depannya membuka industri turunan baru dan dapat mencapai swasembada gula. Dia mengemukakan harus ada keberanian untuk menghentikan impor dalam rangka melindungi petani di berbagai daerah.

Sebelumnya, Pemerintah membuka peluang importasi gula mentah dari Australia dalam kerangka ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area, dan disepakati bahwa besaran bea masuk (BM) komoditas tersebut sebesar lima persen.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan? meski pemerintah membuka peluang impor gula mentah dari Australia tersebut, bukan berarti jumlah importasi bahan baku akan meningkat.

“Jumlahnya tetap, tidak berubah. Tetapi sumber bisa bertambah, dengan demikian harga bisa turun, kita tidak tergantung, tidak monopoli dari satu negara,” kata Enggartiasto, seusai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia 2017 di Jakarta, Selasa (3/10).

Enggartiasto mengharapkan kesepakatan dengan Australia tersebut bisa menjadi alternatif pemasukan gula mentah oleh pelaku usaha. Dengan pasokan bahan baku berasal dari negara yang relatif lebih dekat, diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri dalam negeri. (MOH)