Kawasan Pesisir Tangguh di Bombana

Jakarta (Indoagribiz). Kawasan pesisir turut memberikan andil dalam kerentanan bencana alam dan perubahan iklim. Apabila kawasan pesisir ini tak ditangani dengan baik dan benar, masyarakat di kawasan pesisir pun akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim.
Di pesisir Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara misalnya, telah terjadi perubahan garis pantai yang disebabkan perubahan alih fungsi mangrove. Di kawasan tersebut juga kerap terjadi banjir pesisir (rob) dari laut.
Guna mengatasi kerentanan pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) melaksanakan program Pengembangan Kawasan Pesisir Tangguh (PKPT) di tiga desa yang terdapat di Bombana.
Plt. Dirjen PRL TB. Haeru Rahayu mengatakanProgram PKPT merupakan implementasi pengelolaan pesisir terpadu skala kecil, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di kawasan pesisir. Program ini juga menyiagakan masyarakat pesisir dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim, memfasilitasi sarana prasarana dan pentingnya meningatkan kemampuan usaha sehingga kesejahteraan masyarakat pesisir menjadi lebih baik lagi.
Menurut Tb Haeru, program PKPT yang dilakukan adalah wujud intervensi KKP dalam penguatan di wilayah pesisir di Indonesia. ” Saat ini PKPT fokus pada tiga aspek,” ujar Tb Haeru, di Jakarta, Selasa (12/1).
Langkah pertama, aspek manusia, yaitu KKP melakukan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana dan dampak perubahan iklim yang terjadi. Kedua, aspek siaga bencana dan perubahan iklim. Pada aspek ini, KKP membangun sarana – prasarana siaga bencana.
“Aspek kelembagaan yang bertujuan agar masyarakat dapat aktif dan mandiri dalam organisasi,” ujarnya.
Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Kecil, Muhammad Yusuf mengatakan, pada tahun 2020, KKP telah melakukan kegiatan pembangunan sarana prasarana sebagai upaya pengurangan risiko bencana dan dampak dari perubahan iklim.
Sarana yang dibangun diantaranya adalah peninggian jalan (embankment) sepanjang 560 meter, jalur evakuasi rabat beton sepanjang 331 meter yang dilengkapi dengan 4 unit rambu evakuasi sebagai perangkat kesiapsiagaan, pembangunan 1 unit pondok informasi mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim dengan luas bangunan 22 meter persegi.
“Bantuan program PKPT yang disalurkan KKP ini diberikan pada tiga kelompok penerima, yaitu Kelompok Bulu Sipong di Desa Tunas Baru, Kelompok Tunas Harapan di Desa Watumentade, dan Kelompok Harapan Baru di Desa Lantowua,” kata Yusuf.
Menurut Yusuf KKP telah melakukan peningkatan kesiapsiagaan bencana agar masyarakat memperoleh pengetahuan tentang bencana dan perubahan iklim di kawasan pesisir, mengetahui cara simulasi evakuasi korban, dan pemahaman mengenai informasi cuaca. (ind)