Pacu Ekspor Hortikultura, Kementan Kembangkan Kawasan Bebas Residu Pestisida
Jakarta – Pestisida pada komoditas hortikultura dapat terserap
tanaman, dan terbawa oleh hasil panen berupa residu yang dapat
dikonsumsi oleh konsumen lewat makanan. Residu pestisida menimbulkan
efek yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Bambang
Sugiharto, dalam keterangannya, mengatakan bahwa solusi yang dapat
diterapkan adalah pengembangan pertanian ramah lingkungan melalui
aplikasi biopestisida.
“Salah satu prospek pengembangan produk hortikultura yang diekspor
adalah adanya permintaan komoditas hortikultura dengan Batas Maksimum
Residu Pestisida (BMR) yang rendah,” ujar Bambang via keterangan
tertulisnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Selasa
(21/7).
Bambang menjelaskan jika beberapa negara seperti Malaysia, Singapura
dan Uni Eropa mempersyaratkan produk dengan persyaratan BMR yang
rendah.”Upaya selanjutnya juga bisa melalui pengembangan pertanian
ramah lingkungan lewat aplikasi biopestisida,” tambah Bambang.
Bambang memaparkan, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Hortikultura akan mulai mengembangkan kawasan hortikultura yang bebas
residu pestisida kimia. Untuk memulai hal tersebut, dilakukan
kunjungan ke lokasi demplot Asosiasi Agro Bio Input Indonesia (ABI).
“Lokasi demplot terletak di Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan
Pangalengan, Kabupaten Bandung, merupakan percontohan tanaman
hortikultura tanpa pestisida kimia,” jelas dia.
Gunawan Sutio, Ketua Asosiasi Bio Agroinput Indonesia mengatakan Bio
pestisida yang digunakan merupakan produksi dalam negeri. Komoditas
yang dikembangkan pada demplot tersebut diantaranya bit merah, lobak,
tomat, buncis, brokoli, wortel, kentang, dan lain-lain.
“Produk yang dihasilkan dengan penerapan bio pestisida tersebut
beberapa sudah diekspor ke negara Vietnam, Kamboja dan Pakistan,”
ungkapnya.
Teknologi Blockchain
Selain itu, untuk membangun kepercayaan konsumen akan diinisiasi
pengembangan Blockchain Technology. Blockchain merupakan suatu model
ketelusuran, transparansi rantai pasokan, pemantauan kesesuaian, dan
auditabilitas.
Ihwal ini Bambang mengatakan kalau Blockchain dimaksudkan untuk
menyajikan informasi mengenai seluruh atau sebagian rantai pasok
produk hortikultura mulai dari budidaya, pemanenan, pengangkutan,
penyimpanan hingga distribusi dan penjualan. Diharapkan kepercayaan
(trust) konsumen terhadap mutu produk hortikultura akan meningkat
dengan adanya informasi tersebut.”
“Konsumen akan mengetahui informasi mengenai petani, lokasi tanam,
sertifikasi, aplikasi pestisida dan lain-lain hanya dengan men scan QR
Code yang tercantum pada kemasan produk hortikultura,” tambah Bambang.
Untuk tahap pertama, akan dikembangkan lokasi percontohan dan secara
bertahap akan dibangun blockchain technology nya.
Ditemui secara terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura,
Retno Mulyandari mengatakan Salah satu kunci produk hortikultura
berdaya saing adalah rendah residu bahkan bebas residu.
Hal ini sebagaimana yang sering disampaikan Menteri Pertanian Syahrul
Yasin Limpo.
“Produk yang telah memenuhi persyaratan Good Agricultural Practices
(GAP) dan Good Handling Practices (GHP) serta bebas residu, mudah
diterima oleh pasar ekspor,” pungkasnya.