INDOAGRIBIZ–Kapal khusus angkutan ternak Camara Nusantara I (CN 1) merupakan salah satu wujud implementasi Tol Laut yang mengangkut ternak dari daerah sentra produsen ke daerah konsumen. Dengan adanya kapal ternak ternak ini, diharapkan distribusi daging sapi melalui angkutan laut lancar dan cepat.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Fini Murfiani mengatakan, keberadaan kapal ternak bertujuan untuk mendukung program pemenuhan pangan asal ternak, dan menjamin kelangsungan pendistribusian ternak melalui angkutan laut dengan kaidah animal welfare dari Provinsi NTT sampai ke DKI Jakarta dan sekitarnya.

Panjangnya rantai tata niaga ternak tersebut, kata Fini, berdampak terhadap farm share (keuntungan) yang diterima peternak kecil. Biaya distribusi ternak dari daerah produsen ke daerah konsumen sangat tinggi terutama perdagangan antar pulau. Selain itu, belum terintegrasinya antara kegiatan produksi dengan kegiatan pasca panen dan pemasaran seperti pasar ternak, Rumah Potong Hewan (RPH), pasar ritel dan industri pengolahan dengan peternak/gapoktan/koperasi peternak dalam suatu sistem supply chain management yang baik.

Fini juga menjelaskan, saat ini distribusi sapi potong dari daerah sumber ternak ke wilayah Jabodetabek umumnya menggunakan kapal kargo dan dilanjutkan dengan angkutan truk yang membutuhkan waktu cukup lama. Kondisi pengangkutan hewan ternak dengan menggunakan kapal kargo penangannya belum maksimal, sehingga hewan ternak yang diangkut mengalami penyusutan bobot cukup besar umumnya mencapai 15% sampai 22%.

“Untuk meningkatkan bobot sapi diperlukan recovery/pemulihan, sehingga menambah biaya pengeluaran yang harus ditanggung pedagang dan akhirnya sebagai kompensasinya harga ikut dibebankan kepada konsumen,” kata Fini Murfiani pada acara diskusi tentang Efektifitas Operasional Kapal Ternak Dalam Mendukung Swasembada Daging Sapi, di Jakarta, pada Senin (16/10/17).

Fini Murfiani menambahkan, setiap pelayaran CN1 mampu mengangkut ternak sebanyak 500 ekor dan di tahun 2017 pada pelayaran ke-15 tanggal 2 Oktober 2017 telah mengangkut ternak sebanyak 7.500 ekor. “Animo pemanfaatan kapal cukup tinggi, sehingga jumlah 1 unit kapal yang sudah ada dirasakan kurang, hal ini terlihat dari 66.300 ekor target kuota pengeluaran ternak sapi dari NTT tahun 2017, Kapal ternak CN 1 hanya dapat mengangkut 12.000 ekor atau 18%,” kata Fini Murfiani.

Di tempat yang sama, sebelumnya Menteri Perhubungan Budi karya Sumadi mengatakan, kapal ternak menjadi inisiatif pemerintah untuk membangun keekonomian Indonesia bagian Timur, di mana Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur memiliki potensi  ternak sapi yang tinggi.

“Kapal ternak bisa memberi stimulus Indonesia bagian Timur untuk kembangkan ternak sapi. Kalau ada itu mereka akan bangun karena ada margin. Selama ini mereka pakai sendiri, harga kurang bagus kalau ke Jawa jadi bagus. Sekarang ada disparitas harga akan beri keuntungan bagi peternak-peternak,” ujar Menhub Budi Karya saat menyampaikan Keynote Speech pada acara tersebut.

Menhub juga mendorong pihak swasta untuk turut serta dalam penyelenggaraan kapal ternak ini agar memaksimalkan tujuan pemerintah dalam program kapal ternak. “Harus memanfaatkan swasta untuk potensi yang luar biasa ini. Jadi tidak bergantung pada angkutan tertentu, apalagi kadang-kadang kapal swasta ada kapasitas kosong saat balik,” ucap Menhub Budi Karya.

Menhub menambahkan, evaluasi akan dilakukan nantinya, jika memang kapal ternak dibutuhkan dan memiliki efektifitas yang tinggi akan dibangun kembali kapal ternak. Pemerintah, kata Menhub, akan menambah kapal dan rute. “Sejak tahun 2015 kita sudah membangun satu kapal ternak dan akan kita tambah lima kapal lagi, semoga di tahun ini lima kapal itu selesai dibangun,” ujar Menhub.

Fini Murfiani menambahkan, kapal ternak memiliki prospek bagus dan pengaruh positif sebagai salah satu komponen untuk mendukung pencapaian swasembada daging sapi, karena. Pertama, adanya kepastian fasilitas transportasi laut yang reguler jadwalnya. Kedua, memenuhi aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) karena kapal didesain dengan memenuhi standar Internasional.

Ketiga, mengurangi penyusutan bobot sapi selama perjalanan. Keempat, menambah nilai nominal yang sampai ketangan peternak, sehingga lebih menggairahkan bisnis sapi. Selain itu juga diperkuat dengan program Upsus Siwab dapat meningkatkan populasi dan supply sapi local. Kelima, mulai terpantau dan terdokumentasinya pergerakan sapi dengan lebih baik. Dan keenam, membantu pendataan sapi (dengan memberikan prioritas pemanfaatan kapal ternak bagi pengguna kapal yang memberikan laporan rutin pemutahiran data).

“Kedepan dengan bertambahnya jumlah kapal ternak, dapat tersusun sistem pemantauan pergerakan sapi yang dapat membantu mengendalikan harga dan persediaan menuju ke sistem yang lebih efisien pada rantai niaga sapi,” ucap Fini Murfiani.

Hadir dalam acara tersebut Direktur Utama PT. PELNI Insan Purwarisya L. Tobing, Kepala  Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur Dani Suhadi dan Direktur Utama PD Darma Jaya Marina Ratna Dwi Kusumajati [NSS]