KKP  Latih Masyarakat Jatim Buat Pakan Mandiri

 

 

Jakarta (Indoagribiz)— Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) komitmen dalam mengejar peningkatan produksi perikanan budidaya. KKP, melalui Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) menggelar  “Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan” bagi masyarakat di lima kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, meliputi Kabupaten Madiun, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Mojokerto pada Rabu (30/6) lalu.

 

Pelatihan disambut antusias oleh masyarakat. Tercatat sebanyak 300 peserta mengikuti pelatihan tersebut secara _blended learning_, dimana pelatih berada di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi dan peserta berada di lokasi masing-masing didampingi penyuluh perikanan. Hal ini dilakukan demi menekan angka penyebaran Covid-19.

 

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BRSDM KP, Sjarief Widjaja mengatakan, pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari program terobosan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya berbasis komoditas ekspor dan mengembangkan kampung-kampung perikanan budidaya air tawar, payau, dan laut berbasis kearifan lokal.

 

Tentunya produktivitas usaha budidaya sangat ditunjang oleh ketersediaan pakan. Apabila masyarakat membuat pakan mandiri, maka ketersediaan pakan ikan dapat memenuhi target produksi budidaya.

 

“Di sisi lain, kita perlu menyadari bahwa sekitar 60-70% dari kebutuhan usaha budidaya dialokasikan untuk pakan. Tak bisa dielakkan, harga pakan pabrikan cukup tinggi dan membuat margin keuntungan semakin kecil. Kendati demikian, masih banyak pembudidaya yang menggantungkan usahanya dari pakan pabrikan,” kata  Sjarief, dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat (2/7).

 

KKP mendorong masyarakat untuk membuat pakan mandiri demi menekan biaya pakan yang dibutuhkan untuk usaha budidaya di sekitarnya.  Dalam kesempatan ini, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilia Pregiwati mengungkapkan, pelatihan ini telah disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan sosial ekonomi masyarakat di Jawa Timur yang mempunyai potensi bahan baku pembuatan pakan ikan melimpah.

 

“Kami mengajak peserta untuk mengetahui cara pembuatan pakan ikan yang ramah lingkungan serta tentunya mudah diaplikasikan oleh pembudidaya. Hal ini bermanfaat untuk menyiasati tingginya harga pakan pabrikan,” ujar Lilly.

 

Masyarakat  juga didorong untuk mengembangkan teknologi pembuatan pakan ikan lebih lanjut dengan pendampingan pelatih dan penyuluh perikanan di wilayahnya. Dengan begitu akan muncul wirausaha penjual pakan ikan berbahan baku lokal yang lebih ekonomis. Nantinya dapat didorong penjualannya melalui _e-commerce_.

 

Dalam kesempatan ini peserta dibekali materi penyiapan peralatan dan bahan pembuatan pakan ikan, pemilihan dan penghitungan bahan baku, pencampuran pakan, hingga pembuatan laporan hasil pembuatan pakan ikan.

 

Anggota Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar turut mengapresiasi terobosan penyelenggaraan pelatihan dengan metode _blended learning_. Selain mengantisipasi adanya penyebaran Covid-19, metode ini dinilai efisien karena mampu menekan biaya operasional ketimbang harus mengadirkan ratusan peserta dari berbagai wilayah.

 

Mindo mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan ini guna meningkatkan usaha budidaya air tawar di Jawa Timur. Menurutnya, keuntungan usaha budidaya lele tidak lebih dari 15% jika masih bergantung terhadap pakan pabrikan.

 

“Saya mendorong pelatih dan penyuluh perikanan untuk memastikan komposisi bahan baku pakan dapat disubstitusi dengan ketersediaan di masing-masing kota. Jika tidak ada bungkil kedelai atau bonggol jagung, dapat memanfaatkan bahan baku lainnya seperti dedak halus,” kata  Mindo.

 

Mindo mengusulkan agar pakan ikan memanfaatkan _azolla_ karena mengandung tinggi protein dan ekonomis karena banyak tersedia di alam. Sebagai informasi, _azolla_ mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama _lisin_ 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah.

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Jombang, Murti Cahyani mengucapkan terima kasih atas dipilihnya Kabupaten Jombang dalam kegiatan ini. Menurutnya, Jombang sangat potensial karena memiliki jumlah pembudidaya air tawar yang cukup banyak.

 

”Semoga pelatihan ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan,” ujarnya.

 

Pelatihan juga disambut dengan antusias oleh peserta, salah satunya Eliat Joko Samboto yang tergabung dalam Komunitas Mari Sejahterakan Petani Kabupaten Mojokerto. Dia mengaku baru mengetahui beberapa bahan baku lokal pembuat pakan.

 

“Semoga pelatihan ini dapat secara rutin diselenggarakan di tempat kami. Jika diberi kesempatan kami ingin belajar tentang pembuatan pakan ikan maggot. Mengingat Mojokerto memiliki potensi budidaya maggot,”  pungkasnya. (ind)