Tingkatkan Kualitas dan Lindungi dari Serangan Hama, Kakao Pun
Mengenakan Masker
Gorontalo–Tak hanya manusia, untuk menjaga kesehatan, tanaman kakao
pun memerlukan masker. Setidaknya itulah yang dilakukan Regu
Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (RPO) Gotong Royong asal
Provinsi Gorontalo dalam melindungi tanaman kakao dari serangan hama
dan penyakit. Masker untuk tanaman penghasil bahan baku cokelat ini,
merupakan sarung yang digunakan untuk membungkus buah kakao agar
terlindung dari hama penggerek buah kakao.
Upaya yang dilakukan RPO Gotong Royong tersebut sejalan dengan arahan
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Mentan sebelumnya
mendorong agar seluruh jajaran Kementerian Pertanian dan petani
berupaya menggenjot produktivitas komoditas pertanian termasuk
perkebunan, sehingga memiliki kualitas yang bernilai tambah dan
berdaya saing dipasar dunia.
Menurut penggerak RPO Gotong Royong, Slamet, upaya pemasangan sarung
pada buah kakao tersebut tetap dilakukan meski saat ini terjadi
pandemi covid 19. Tentu saja, upaya perlindungan tanaman kakao
dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.“Di tengah pandemi ini,
kami tetap gerak. Lha wong bukan hanya kita yang mau sehat tho, kakao
ne juga kudu sehat, jadi OPT ne harus dibasmi, kalo dibiarin aja
kakaonya mati kita malah jadi pusing malah jadi ga sehat kabeh,” ujar
Slamet dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari laman resmi
Kementerian Pertanian, Rabu (23/9).
Sementara itu Tim Pendamping Petani Kakao, Gusti mengatakan OPT yang
banyak menyerang kakao di lahan sekitar yaitu hama Penggerek Buah
Kakao (PBK). Oleh karena itu, pihaknya menerapkan pemasangan sarung
pada buah kakao.“Jika tidak dikendalikan, larva PBK mampu menyebabkan
biji buah kakao saling lengket sehingga menyebabkan kualitas dan
kuantitas produksi buah menurun hingga 70%. Kita lakukan sarungisasi
biar ulatnya ga bisa masuk ke buah, kita aja disuruh pake masker,
kakaonya jadi nya dimaskerin juga,” katanya.
Metode sarungisasi ini dilakukan saat buah masih sangat muda, pentil
berukuran kurang lebih 8 cm. Dengan berbekal peralatan sederhana yang
terdiri dari karet gelang, pipa paralon, dan plastik, metode
sarungisasi ini dapat mencegah imago PBK meletakkan telur pada kulit
buah kakao sehingga larva tidak akan menggerek ke dalam buah. Kedua
ujung plastik dilubangi agar udara dapat bertukar dan tidak lembab.
Menurutnya, metode tersebut merupakan salah satu komponen Pengendalian
Hama Terpadu (PHT) yang cenderung ramah lingkungan karena tidak
menimbulkan residu kimiawi, resurgensi dan resistensi hama, serta
sangat mudah dilakukan. Pemakaian plastik dapat berulang pada musim
buah selanjutnya.
Dengan pemasangan sarung pada buah kakao, Slamet menyebutkan dari 1
hektar lahan bisa dihasilkan lebih dari 1 ton kakao. Harganya juga
cukup baik, Rp. 38.000 untuk kakao fermentasi dan Rp. 20.000 untuk
yang non fermentasi.
Ia berharap kerjasama dengan pihak pemerintah ini terus berjalan dan
ditingkatkan dalam membangun kemandirian petani. Dengan semangat
gotong royong, pengendalian kesehatan kakao dan menjaga kesehatan diri
bisa dilakukan secara bersamaan.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian