Cangkang buah sawit selama ini mungkin hanya dipandang sebagai limbah dan hanya dibuang. Kalau pun dimanfaatkan hanya sebatas sebagai bahan bakar alternatif dalam industri pengolahan kelapa sawit. Namun ternyata permintaan cangkang kelapa sawit asal Indonesia ke negara Jepang begitu tinggi seiring negara tersebut mengembangkan pembangkit listrik tenaga biomassa.

Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Senin (24/7) mengatakan, setelah sektor energi menjadi perhatian penting di negara tersebut, maka permintaan terhadap sumber energi juga meningkat.

Pengembangan energi biomassa di negara Jepang, lanjutnya, membutuhkan sumber energi yang diproduksi dari cangkang kelapa sawit, tandan buah kosong, pelepah sawit maupun pohon kelapa sawit.

“Dalam 3-4 tahun terakhir permintaannya (terhadap cangkang sawit Indonesia) meningkat pesat yakni lebih dari 40 persen dari kebutuhan di negara tersebut,” ungkapnya.

Bayu mengatakan, potensi permintaan cangkang sawit tersebut mencapai 7-8 juta ton per tahun, sedangkan untuk tandan kosong sebanyak 12-15 juta ton per tahun.

Kedua produk tersebut, lanjutnya, selama ini hanya menjadi limbah yang dibuang, atau dijadikan bahan bakar alternatif bagi industri pengolahan minyak sawit, selain batu bara.

Mantan Wakil Menteri Pertanian itu menyatakan, harga cangkang sawit di Jepang sebesar 80 dolar AS/ton FOB atau setara 110-120 dolar AS/ton CIF.

Dikatakannya, ekspor minyak sawit Indonesia ke Jepang masih sangat rendah dibandingkan ke negara lain seperti China, Pakistan, India dan Eropa.

Di sejumlah wilayah di Jepang, tambahnya, seperti Sendai, Oita dan Ibaraki saat ini sedang mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga bioenergi, yang mana cangkang sawit menjadi bahan bakar sumber bionergi.

Ekspor sawit Indonesia ke China, Pakistan dan India pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan industri pangan, sedangkan ke Eropa dan Jepang untuk biofuel atau bahan bakar nabati.

Ketua Asosiasi Pengusaha Cangkang Kelapa Sawit Indonesia (Apcasi) Dikki Akhmar mengatakan, ekspor cangkang kelapa sawit nasional pada saat ini mencapai 1,8 juta ton ke pasar internasional yang mana 800 ribu ton untuk mengisi pasar Jepang.

Dia menuturkan kendala yang dihadapi terkait ekspor cangkang kelapa sawit yakni tak ada jaminan harga karena fluktuasi pajak atau pungutan ekspor komoditas tersebut.

“Pemerintah menerapkan Bea Keluar (BK) sebesar 5 persen dan tahun depan 10 persen. Kami minta agar diturunkan besarannya. Malaysia menerapkan bebas pajak untuk ekspor biomassa,” ucapnya.

Saat ini kontribusi cangkang sawit Indonesia terhadap kebutuhan dunia sebesar 60 persen, sedangkan 40 persen sisanya diisi oleh Malaysia. [BAG]