Jelang Nataru, Daerah Penyangga Siap Suplai Cabai

Jakarta (Indoagribiz)—- Menjelang hari natal dan tahun baru (Nataru) biasanya terjadi fluktukasi harga sejumlah komoditas pertanian, khususnya cabai. Guna mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Hortikultura menyiapkan stok cabai dari sejumlah daerah produsen.

Beberapa daerah penyangga produksi cabai seperti Sumedang, Bandung dan Banyuwangi serta di lokasi Gerakan Tanam di Pacitan, Badung, dan Temanggung akan diinstruksikan untuk melakukan suplai cabai ke wilayah Jabodetabek. Suplai cabai dari daerah produsen tersebut untuk penambahan stok menjelang natal dan tahun baru sekaligus stabilisasi harga. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis (22/12).

Prihasto menyatakan, Kementan menaruh perhatian besar atas fluktuasi dan upaya stabilisasi harga cabai. Harga aneka cabai meningkat di akhir tahun merupakan hal yang kerap terjadi dalam satu tahun musim tanam.

“Beberapa penyebab meningkatnya harga aneka cabai antara lain curah hujan ekstrim yang terus terjadi sejak awal November mengakibatkan berkurangnya hasil petikan panen petani, dengan kata lain produksi tidak optimal sehingga terjadi penurunan supply,” katanya.

Menurunnya suplai, lanjut Prihasto, berdampak pada kondisi surplus dan minus secara nasional. Indikator surplus di bawah 10.000 ton per bulan selalu sensitif atas pergerakan harga.

“Beberapa langkah konkrit yang terus dilakukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini antara lain terus menginformasikan Early Warning System (EWS) kepada daerah daerah sentra maupun non sehingga secara bersama sama melakukan langkah antisipasi. Selain itu bersama dengan Badan Ketahanan Pangan untuk terus memantau stok panenan dan di pengepul secara mingguan di lapangan. Jika diperlukan biasanya dilakukan operasi pasar,” kata  Prihasto.

Prihasto juga menyebutkan, peningkatan konsumsi cabai disebabkan karena  membaiknya penanganan  Covid 19 di seluruh wilayah dan telah dimulainya sektor pariwisata dan tempat tempat hiburan masyarakat sudah mulai dilakukan relaksasi.

Sementara itu, terjadinya erupsi Semeru Kab. Lumajang sebagai salah satu sentra Cabai penyangga Jawa Timur dan wilayah Jawa lainnya turut mempengaruhi sehingga harga terkontraksi khususnya di pasar induk cabai Pasar Pare Kediri, karena ada sekitar 110 ha panenan aneka cabai yang terdampak.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha mengatakan,  psikologi pasar akhir tahun mendekati natal dan tahun baru juga secara simultan memberi tekanan pada pasar. Meskipun demikian, data dari daerah sentra menyebutkan pasokan cabai hingga akhir tahun terpantau aman.

Dikatakan, data luas tanam yang bersumber dari Statistik Pertanian Hortikultura  (SPH online BPS RI), prognosa produksi cabai besar pada bulan November 2021 sebesar 94.016 ton, kebutuhan 81.011 ton, terjadi surplus sebesar 13.005 ton. “ Sementara pada Desember 2021 sebesar 94.576 ton, kebutuhan 84.082 ton, terjadi surplus 10.494 ton,” ujar Tommy.

Sedangkan,  untuk cabai rawit, prognosa November 2021 sebesar 99.629 ton, kebutuhan 77.740 ton, terjadi surplus sebesar 21.889 ton. Pada Desember 2021 diprediksi sebesar 88.001 ton, kebutuhan 80.764 ton, sehingga diperkirakan terjadi surplus 7.237 ton.

Kampung Cabai

Ditjen Hortikultura telah mengalokasikan pengembangan kawasan aneka cabai seluas 3.339 ha pada  tahun 2021 dalam bentuk kampung cabai. Kampung cabai yang dikembangkan secara bertahap dan saat ini tidak kurang dari 336 kampung dalam proses registrasi.

Selain itu, penyediaan biaya sewa gudang penyimpanan, bantuan subsidi transportasi angkut produk dan penyediaan cold storage 110 unit. Disamping itu juga turut menyediakan stok benih cabai yang didistribusikan ke kelompok-kelompok tani yang membutuhkan melalui Dinas pertanian daerah.

“Program dan kegiatan pemerintah hanya bersifat stimulan, belum mampu mencover kebutuhan luas tanam ideal untuk kondisi panenan akhir tahun,”  kata Tommy.

Saat ini produsen (petani cabai) sedang menikmati harga jual yang bagus setelah hampir 8 bulan mengalami penurunan harga sejak bulan Maret 2021, bahkan sempat menembus Rp 3.000,-/kg di beberapa sentra Jawa. Kenaikan harga saat ini sudah berlangsung sekitar 3 minggu sejak akhir November dan per lahan menembus angka Rp30.000 – Rp 35.000  di tingkat petani dan Rp 60.000 /kg di pasaran. (dar)

Sumber foto. Dok: Humas Kementan