Ketua Komisi IV DPR RI Edi Prabowo bersama Dirjen PB Slamet Soebijakto saat panen patin di Muaro Jambi, Jambi.

INDOAGRIBIZ–Provinsi Jambi dinilai memiliki potensi besar untuk digarap sebagai sentra budidaya patin nasional. Dengan potensi pengembangan budidaya ikan air tawar yang besar, Provinsi Jambi dapat didorong menjadi lumbung ikan nasional, utamanya komoditas patin.

Ketua Komisi IV DPR RI, Edi Prabowo saat meninjau sentral kawasan budidaya patin di Desa Pudak, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi,  pada Kamis (26/10) mengatakan, DPR sangat mendukung Ditjen Perikanan Budidaya, KKP, yang telah konsisten menggenjot produksi perikanan budidaya untuk mesuplai kebutuhan pangan nasional.

“Kami apresiasi perkembangan subsektor perikanan budidaya khususnya di Provinsi Jambi ini. Dukungan konkrit KKP telah memberikan dampak positif bagi pengembangan usaha budidaya ikan guna memperkuat ketahanan pangan nasional,” kata Edi.

Turut serta dalam kunker tersebut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Wakil Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno.

Terkait pemasaran hasil produksi patin, lanjut Edi, perlu segera dilakukan tata niaga dengan memutus rantai distribusi pasar. Ia menyarankan Pemerintah Daerah turun tangan untuk memfasilitasi terbentuknya kelembagaan koperasi di sentra produksi patin yang nantinya bisa menjalin kemitraan langsung dengan industri pengolahan atau pasar-pasar modern, sehingga peluang pasar lebih terbuka luas.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri, KKP terus mendorong pengembangan usaha budidaya melalui klasterisasi kawasan berbasis komoditas unggulan daerah. Menurutnya, strategi ini sangat ampuh untuk percepatan pengembangan kawasan, karena setiap komoditas yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas sesuai kondisi lokasi.

“Provinsi Jambi saya rasa sangat pas menjadi sentra pengembangan patin nasional. Ini nanti akan kita prioritaskan untuk kebutuhan domestik. Di hulu nanti akan kita genjot produksinya, sementara di sisi lain kita akan perbaiki sistem tata niaga dan hilirisasinya. Dengan demikian nilai tambah ekonomi patin dapat dirasakan masyarakat,” jelas Slamet.

Slamet juga mengungkapkan, kasus impor ilegal produk ikan patin/dori yang terbukti mengandung tripolyphosphate, di mana produk tersebut ternyata berasal dari Vietnam dipastikan akan menyebabkan hilangnya kepercayaan konsumen terhadap produk patin Vietnam. Dipastikan produk patin Vietnam akan turun drastis di pasar global. Tidak hanya itu, peluang ekspor fillet patin akan sangat terbuka lebar khususnya ke Amerika Serikat, seiring dikeluarkannya kebijakan negara Amerika Serikat untuk menghentikan impor patin dari Vietnam.

“Ini jadi peluang pasar buat produk patin lokal. Kita akan mulai genjot produksi, dan mendorong upaya diversifikasi produk seperti fillet/dori, sehingga bisa masuk ke pasar-pasar modern bahkan jika kebutuhan domestik terpenuhi kita bisa masuk pangsa pasar Amerika Serikat yang sebelumnya sekitar 90 persen dipasok dari Vietnam,” imbuhnya.

Dalam kegiatan kunker juga dilakukan penyerahan berbagai bantuan langsung kepada pembudidaya untuk mendukung kegiatan usaha budidaya. Dukungan tersebut antara lain: mesin pembuat pakan sebanyak 2 unit, benih ikan sebanyak 4,6 juta ekor, pakan mandiri sebanyak 5 ton, sarana dan prasarana budidaya sebanyak 12 paket, dan pengembangan minapadi seluas 10 hektar. [NSS]