Jagung Nasa Terbukti Mampu Berproduksi 11 Ton/Ha

Jakarta(Indoagribiz) – Varietas jagung Nasa 29 yang diberi nama demikian oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu terbukti mampu berproduksi hingga 11 ton per hektare saat dibudidayakan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Bupati Kabupaten Sigi Muhammad Irwan mengatakan Sigi mampu mendongkrak produksi jagung hingga 11 ton per hektare.”Kami baru saja melakukan Panen Raya Jagung NASA 29 dan Temu Lapang di Desa Kalawara, Desa Bombasa, Kabupaten Sigi, Sulteng pada 8 Agustus 2018. Jagung ini menandai sukses kami dalam meningkatkan produksi,” kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (15/8).

Menurut Irwan, sukses tersebut berkat dukungan Kementan melalui program Upsus Pajala.”Mulai saat ini jagung menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian di Sigi sehingga jenis varietas dan teknologi yang digunakan bisa terus dikawal pemerintah,” kata Irwan.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan Mat Syukur, mengatakan sukses tersebut idealnya mendorong luas penambahan lahan tanam jagung sebagaimana lahan untuk padi yang juga bertambah .”Saya berharap LTT jagung juga meningkat,” ujar Mat Syukur.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Dedi Nursyamsi sekaligus penanggungjawab Upsus Propinsi Sulteng mengatakan wilayah Sigi sesuai untuk pengembangan jagung.”Jagung memerlukan curah hujan sekitar 100-150 mm per bulan,” ujar Dedi.

Pada wilayah yang terlalu basah, jagung rentan jamur aflatoksin dan penyakit busuk tongkol. Sebaliknya bila terlalu kering, jagung dapat kekeringan sehingga produksinya rendah.

Varietas NASA 29 sendiri yang diberi nama oleh Presiden Jokowi mempunyai potensi hasil 12,5 ton per hektare. Varietas ini bertongkol ganda sekitar 80 persen dari populasinya dan presentase ini meningkat dengan meningkatnya ketinggian lahan. Faktor inilah yang menyababkan produktivitas NASA 29 tinggi.

Menurut Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syahroni, produktivitas jagung yang tinggi hasil karya anak bangsa memang harus diapresiasi.”Cara apresiasinya dengan menyebarkan untuk masyarakat luas,” kata Syahroni.

Benih produksi lokal juga dapat mengurangi Indonesia dari ketergantungan impor benih.