Jadi Primadona Masyarakat, Pokdakan MinaTaruna Panen Lele Bioflok

Jakarta (Indoagribiz). Panen ikan lele sistem bioflok kembali dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kali ini, panen dilakukan oleh kelompok budidaya ikan (Pokdakan) Mina Taruna, Desa Bakalan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng),  yang merupakan salah satu penerima paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok tahun 2020 melalui Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan,  sebagai salah satu favorit masyarakat, permintaan terhadap komoditas ikan lele tidak pernah surut. Hal tersebut mendorong tingginya minat masyarakat untuk melakukan usaha budidaya ikan lele, mulai dari budidaya dengan wadah ember, kolam terpal, kolam plastik, tambak,  dan aplikasi teknologi seperti bioflok.

Menurut Slamet, bantuan budidaya ikan lele sistem bioflok kepada masyarakat turut menggenjot produksi lele nasional sejak tahun 2017. KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya terus menjadikan bantuan ini sebagai salah satu program prioritas, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sumber protein.

Slamet juga mengungkapkan,  efisiensi pakan, lahan dan air menjadi keunggulan sistem bioflok yang membuat teknologi ini dapat diadopsi di berbagai lokasi di Indonesia. Berbekal kelebihan lain seperti pertumbuhan yang lebih cepat serta ikan yang lebih tahan akan penyakit, penerapan teknologi ini menjadi pilihan para pembudidaya.

“Melalui penyaluran bantuan serta pendampingan yang dilakukan oleh tim teknis serta penyuluh di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi kelompok penerima untuk dapat mandiri,” kata  Slamet, dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (9/3).

Slamet berharap,  kepada kelompok  untuk dapat meningkatkan kapasitas dan skala usaha mereka dengan menggali ilmu sebanyak banyaknya dari penyuluh maupun tim teknis agar ke depannya dapat mengembangkan usaha lebih jauh. Pengembangan usaha yang dilakukan dapat memperbesar margin keuntungan hingga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat di sekitar.  Misalnya dengan mendirikan usaha pembenihan, pembuatan pakan mandiri, atau jasa pembuatan kolam bioflok.

Sementara itu Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Rahardjo mengatakan, minat masyarakat khususnya di Jateng, untuk melakukan kegiatan usaha budidaya ikan sistem bioflok sangat tinggi, terutama untuk komoditas ikan lele. Selain permintaan akan lele yang tidak pernah surut, harga jual lele di pasaran juga relatif stabil serta memiliki pangsa pasar yang bagus.

“Kami selalu berusaha memastikan untuk setiap penerima bantuan mendapatkan bimbingan teknis hingga tuntas agar kegiatan usaha di Pokdakan dapat sukses dan berkelanjutan,” kata Sugeng.

Menurut Sugeng, pihaknya secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi yang mendalam dalam bentuk pendampingan teknis, pengawasan proses budidaya, pengendalian penyakit hingga proses panen dan kegiatan pasca panen.

“Kami akan terus kawal secara langsung maupun melalui kolaborasi dengan penyuluh setempat agar bantuan yang diberikan dapat benar benar bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Sugeng.

Ketua Pokdakan Mina Taruna, Isyanto mengatakan, budidaya ikan sistem bioflok memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan berbudidaya pada kolam besar. Dari 24.000 ekor benih ikan lele ukuran 6-7 cm dalam 8 kolam pemeliharaan yang diberikan pertengahan Desember tahun lalu, setelah masa pemeliharaan selama 2,5 bulan sudah dapat dipanen mencapai ukuran 6-8 ekor per kg sebanyak 2,7 ton.

Menurut Isyanto, dengan harga  lele Rp 17 ribu per kg,  Pokdakan mendapat keuntungan bersih sebesar Rp 13,5 juta/ siklus pemeliharaan. Selain harga, penggunaan pakan yang lebih hemat menjadi salah satu keuntungan yang paling  dirasakan pemnudidaya.

“ Dengan sistem bioflok ini dapat menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah menjadi gumpalan kecil yang bermanfaat sebagai pakan alami ikan,”  pungkas Isyanto. (ind)