Indoagribiz.com. Isteri Gubernur Maluku Utara dan Walikota Tidore Kepulauan, hari ini (20/8/17) melakukan panen perdana padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1 yang telah dikembangkan oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Kelurahan Akelamo, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.

“Hari ini, kami bersama istri Gubernur Maluku Utara dan Wali Kota Tidore Kepulauan melaksanakan panen perdana padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1 yang ditanam di Kelurahan Akelamo, Kecamatan Oba Tengah. Produksi padi diperkirakan mencapai 8 ton gabah kering panen per hektare,” kata pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Profesor Totok Agung Dwi Haryanto, dalam siaran pers Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed yang diterima di Jakarta, Minggu (20/8).

Menurut dia, penanaman padi Inpago Unsoed 1 itu berorientasi pada produksi benih bersertifikat untuk mendukung penyediaan benih bersertifikat padi gogo dalam rangka pengembangan areal tanam perkebunan kelapa di Provinsi Maluku Utara.

Dia juga mengatakan bahwa peningkatan produksi padi di Indonesia sudah tidak zamannya lagi bertumpu pada padi sawah. “Alih fungsi sawah di Jawa makin menghebat. Tidak kurang dari 100 hektare per tahun sawah mengalami konversi, tidak mampu diimbangi oleh laju pencetakan sawah baru yang hanya sekitar 60 hektare setiap tahunnya,” kata Guru Besar Pemuliaan Tanaman Unsoed itu.

Menurutnya, satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah mengoptimalkan lahan-lahan kering yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, terutama di luar Jawa yang sebagian besar merupakan perkebunan untuk mendukung peningkatan produksi padi dengan penanaman padi gogo.

Sistem tersebut, katanya, tidak memerlukan biaya tinggi untuk penyiapan infrastruktur irigasi pada pencetakan sawah dan tidak mengubah secara frontal keseimbangan ekologi. “Maluku Utara merupakan salah satu daerah sentra kelapa di Indonesia selain Riau dan Sulawesi Utara. Pohon-pohon kelapa di daerah tersebut telah menurun tajam produktivitasnya karena telah melewati masa produktifnya, lebih dari 25 tahun,” kata dia.

Ia mengatakan bahwa peremajaan perlu melalui penanaman bibit kelapa varietas unggul. Menurut dia, penanaman padi gogo di antara tegakan kelapa saat kebunnya diremajakan akan menjadi sumber bahan pangan utama yang selama ini diperoleh dari daerah lain. Bahkan, hasil penjualannya akan menjadi tambahan pendapatan bagi petani.

“Penanaman padi secara terintegrasi di bawah tegakan kelapa akan meningkatkan produksi padi sekaligus kelapa karena petani akan semakin intensif merawat kebunnya. Pupuk yang diberikan kepada tanaman padi gogo juga akan semakin mendukung perkembangan dan hasil pohon kelapa,” ujar dia.

Totok mengatakan bahwa penanaman padi ladang di antara tegakan kelapa sebenarnya merupakan kebiasaan leluhur yang telah berkembang sejak zaman dahulu. “Padi lokal yang ditanam di daerah setempat, salah satunya kultivar Menyanyi, umurnya sangat dalam, mencapai 6 bulan dan hasilnya rendah, sekitar 1,5 ton per hektare, nasinya keras saat ditanak sehingga petani makin lama makin enggan menanam,” jelas dia. (MOH)

Foto : abadikini.com