Ingin Bentuk Korporasi Tanaman Pangan, Inilah Caranya

Jakarta (Indoagribiz). Guna mentransformasikan ekonomi kawasan pedesaan, pemerintah saat ini sedang  melakukan pengembangan dengan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan membangun korporasi pertanian.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan pun fokus untuk mengembangkan Program Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan Berbasis Korporasi (Proktani) dengan membentuk Komando Strategis Penggiling (Kostraling) dan Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T).

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi mengatakan,  pada tahun 2020 Ditjen Tanaman Pangan  menargetkan kawasan korporasi tanaman pangan di 130 kabupaten. Korporasi ini untuk memperkuat kelembagaan petani melalui model bisnis yang dilakukan secara berkelompok.

“ Model korporasi tanaman pangan yang dikembangkan ini berasal dari kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang nantinya dapat membentuk badan usaha milik petani maupun perusahaan PT/CV,” kata Suwandi, dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (17/2).

Menurut Suwandi, konsep korporasi dilakukan dengan peningkatan skala usaha hulu hilir dengan teknologi dan kemitraan. Program ini diharapkan tak hanya meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani, namun juga meningkatkan komoditas berbasis ekspor.

Suwandi juga mengatakan, Kementan di bawah arahan Menteri Syahrul Yasin Limpo saat ini tengah menerapkan konsep kluster berbasis korporasi petani pada kawasan pembangunan lumbung pangan (food estate) yang ada di beberapa Provinsi. Diantaranya Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini kita kembangkan utamanya padi pada dua kabupaten, Kabupaten Belu dan Kabupaten Sumba Tengah,” ujarnya.

Nah,  untuk mendorong pengembangan food estate tersebut, lanjut Suwandi,  Kementan memberikan bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen guna meningkatkan Indek Pertanaman (IP) dan produktivitas. Kementan juga mendorong para petani untuk menggunakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Nanti, hasil gabah melalui kostraling akan digiling jadi beras, beras harus keluar sudah dengan packaging dimana packagingnya dengan kualitas yang tinggi sehingga dapat menembus pasar nasional dan bisa ekspor kedepan,” paparnya.

Seperti diketahui, food estate di Sumba Tengah terbagi menjadi 5 zona. Zona 1 ada di Desa Umbu Pabal, zona 2 di Desa Umbu Pabal Selatan, zona 3 di Desa Elu, zona 4 di Desa Makatakeri dan zona 5 di Desa Tanamodu, Kecamatan Katikutana Selatan. Tahun 2020, lahan food estate di Sumba dikembangkan di lahan 5.000 ha terdiri padi 3.000 dan jagung 2.000.  Sesuai rencana pada 2021 akan bertambah menjadi 10.000 ha.

Selanjutnya, pada tahun 2021, food estate juga akan dikembangkan di Kabupaten Belu dengan potensi lahan seluas 380 ha. Rencananya komoditas yang akan dikembangkan pada musim tanam (MT) I berupa padi seluas 350 ha dan pada MT II  berupa komoditas palawija 200 seluas ha. (ind)