INDOAGRIBIZ–Indonesia dinilai membutuhkan lebih banyak pakar gambut mengingat luasan lahan tersebut di Tanah Air mencapai 20,6 juta hektare yang perlu dimanfaatkan melalui formulasi strategi yang bijaksana.

Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) Syahroni menyebutkan, Indonesia memerlukan strategi pemetaan lahan gambut yang efektif untuk kepentingan pengelolaan jutaan ha lahan gambut di Tanah Air.

“Ahli gambut untuk Indonesia idealnya memiliki ‘local knowkedge’ agar hasil rekomendasi yang diberikan dapat diterima kultur sosial setempat. Seringkali rekomendasi dari ahli luar tidak aplikatif di lapangan,” kata Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya itu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (11/3).

Menurut dia, pemahaman terhadap kondisi lokal akan menghasilkan rekomendasi yang berbeda dan lebih tepat sasaran. “Tentu pemahaman ‘local knowledge’ seorang pakar gambut akan membuatnya berbeda. Ahli gambut dari provinsi yang memiliki lahan gambut pasti lebih paham kondisi setempat,” tutur Syahroni.

Ia berharap kiprah para ahli gambut lokal semakin luas dan jumlah mereka juga semakin banyak seiring waktu, tak hanya berhenti membantu pemetaan lahan semata. “Indonesia butuh kiprah yang lebih luas. Badan Restorasi Gambut sedang mencari pakar gambut dari provinsi yang memiliki wilayah gambut,” ujar Syahroni.

Belum lama ini, metode pemetaan lahan gambut yang dibuat ilmuwan dari Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Dr Ir Muh. Bambang Prayitno, M.Agr. Sc, diadopsi oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk memetakan lahan gambut di Indonesia. Teknologi tersebut dianggap BIG dapat menjawab problem pemetaan gambut yang berlangsung selama ini.

Metode yang dibuat Bambang merupakan hasil kolaborasi dengan ilmuwan lain asal Jerman, Belanda, dan Indonesia yaitu dari Remote Sensing Solutions GmbH (RSS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Metode itu dianggap relatif paling akurat, terjangkau, dan tepat waktu untuk memetakan lahan gambut di Indonesia. (moh)