INDOAGRIBIZ–Greenpeace mendesak produsen-produsen produk rumah tangga global untuk transparan tentang asal pasokan minyak kelapa sawit mereka guna memenuhi komitmen terhadap rantai pasok minyak sawit yang bersih dari deforestasi pada 2020.

“Mereka telah berulang kali berjanji untuk menghentikan penggundulan hutan untuk kelapa sawit pada 2020. Dengan waktu kurang dari dua tahun ke depan, mereka masih jauh dari jalur yang harusnya dijalani,” kata Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace untuk Indonesia Kiki Taufik, dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Sabtu (24/3).

“Beberapa merek, seperti Nestle dan Unilever, setidaknya mulai melaksanakan komitmen tersebut. Lainnya seperti PZ Cussons, Johnson & Johnson dan Kraft Heinz masih menempatkan pelanggan mereka dalam kegelapan,” lanjut Kiki.

Menurut dia, produsen merek rumah tangga besar seperti PZ Cussons, Johnson & Johnson dan Kraft Heinz menolak untuk mengatakan asal minyak kelapa sawit mereka. Padahal mereka sudah berjanji untuk berhenti membeli minyak sawit dari perusahaan-perusahaan yang menghancurkan hutan hujan tropis.

Sementara produsen merek global yang lain, seperti Nestle dan Unilever, telah membuat rantai pasok minyak sawit mereka lebih transparan.

Temuan tersebut ada dalam laporan terbaru Greenpeace International, Moment of Truth yang memperlihatkan masih banyak produsen merek rumah tangga belum memenuhi komitmen mereka terhadap rantai pasok minyak sawit yang bersih dari deforestasi pada 2020.

Padahal konsumen, lanjut Kiki, kini semakin jeli, dan mendukung produk yang berbahan baku minyak sawit bebas deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia. Bahkan siap membayar lebih bila produk tersebut tersedia di pasaran.

Pada 2010, merek-merek barang konsumen tersebut berjanji untuk menghapuskan deforestasi dari produksi minyak kelapa sawit dan komoditas utama lainnya pada 2020. Tetapi ada bukti-bukti yang makin jelas bahwa mereka akan gagal memenuhi tenggat waktu tersebut, dengan konsekuensi berbahaya bagi iklim.

Pada Januari 2018, Greenpeace International menantang 16 merek dagang terkemuka untuk mengungkapkan pemasok minyak sawit mereka, bersama dengan pabrik yang menghasilkan minyak kelapa sawit yang mereka gunakan. Hal ini akan memperlihatkan apakah mereka terus mencari sumber bahan baku dari para perusak hutan. Namun pihaknya menyatakan pula, terlepas dari komitmen perusahaan untuk mereformasi industri yang kotor ini, minyak sawit tetap merupakan komoditas berisiko tinggi.

“Merek-merek perlu transparan terkait asal minyak kelapa sawit mereka, dan berani memutuskan relasi dengan petani yang menolak untuk mengubah cara produksi yang merusak,” ujar Kiki.

Analisis data resmi pemerintah oleh Greenpeace menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan 24 juta hektare (ha) hutan hujan tropis antara 1990 dan 2015. Dalam tiga tahun terakhir sampai 2015, hutan hujan tropis seluas 146 lapangan sepak bola dihancurkan setiap jamnya.

Indonesia memiliki lebih banyak spesies yang terancam punah daripada negara lain, terutama karena penghancuran habitat mereka. Populasi orang utan Borneo telah menurun setengahnya sejak 1999 dengan lebih dari 100.000 individu hilang dalam 16 tahun terakhir.

Pada 2017, spesies baru orang utan ditemukan di Sumatera, namun sudah terancam punah. Penghancuran hutan dan lahan gambut oleh sektor perkebunan telah menciptakan kondisi untuk bencana kebakaran hutan, bahkan banyak kebakaran sengaja dibuat oleh perusahaan yang membuka lahan.

Pada 2015, Indonesia mengalami kebakaran hutan yang sangat besar, dan menyebarkan asap beracun ke sejumlah negara di Asia Tenggara, dan mengakibatkan sekitar 100.000 kematian dini. [moh]