Gerakkan Ekonomi Rakyat Melalui Budidaya Tambak Milenial

Situbondo (Indoagribiz). Tambak milenial atau Millenial Shrimp Farming (MSF) Situbondo merupakan program percontohan budidaya udang vaname dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang melibatkan kaum milenial. Melalui percontohan budidaya udang tersebut diharapkan akan mendorong kalangan milenial dalam membudidaya udang.

Tambak milenial yang dikembangkan Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), Situbondo ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di Desa Gundil, Kabupaten Situbondo,  Provinsi Jawa Timur.  Menurut Kepala BPBAP Situbondo, Nono Hartanto, target produksi tambak MSF di Situbondo ini sebanyak 1,5 ton per kolam atau 30 ton per hektare (ha) per siklus.

“ Kami berupaya mewujudkan usaha budidaya rakyat dalam bentuk klaster dengan skala ekonomi,” ujar Nono, dalam siaran persnya, di Situbondo, Rabu (17/3).

Menurutnya, minimal bisa dikembangkan  60 unit kolam dengan 60 pembudidaya. Melalui budidaya udang ini diharapkan dapat menjamin peningkatan kesejahteraan pembudidaya dengan pendapatan Rp 5 juta/bulan.

BPBAP Situbondo juga membentuk kelembagaan usaha profesional ( corporate farming ) dimana shareholder nya adalah rakyat  (pembudidaya), yang tergabung dalam Koperasi, BUMDES dan Swasta Profesional.

MSF  Situbondo ini menerapkan inovasi teknologi budidaya kolam bundar dengan diameter 20 m yang dapat dibongkar pasang dengan padat tebar mulai dari 250 ekor per meter2.  MSF Situbondo berinovasi melalui digitalisasi tambak yang yang meliputi penyediaan CCTV, pengukur kualitas air, automatic feeder serta ruang data.

“Inovasi yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi berbasis industri 4.0, terdapat automatic feeder, water quality monitoring, nanobuble, oksigen murni yang dilengkapi aplikasi budidaya berbasis data (smart farming), ” kata  Nono.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan,  konsep tambak milenial ini memiliki beberapa keunggulan dengan tetap  memperhitungkan keberlanjutan lingkungan dan juga keberlanjutan usaha.

Dikatakan, MSF ini memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya, konstruksi lebih murah kalau dibandingkan dengan tambak konvensional. Operasionalnya juga mudah, manajemen risikonya lebih rendah, sudah menerapkan digitalisasi data operasional, dan yang tak kalah penting, memperhitungkan keberlanjutan usaha dan lingkungan.

“ Dalam satu klasternya harus memiliki unit pengolahan limbah,  kolam tandon dan juga kolam sedimentasi,” ujar Slamet.

Seperti diketahui, program tambak milenial tersebut sejalan dengan program Menteri Trenggono, yaitu pengembangan perikanan budidaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Diperlukan pengembangan perikanan budidaya yang didukung kajian ilmiah dan perencanaan bisnis yang matang.

“Seperti kita ketahui, perikanan budidaya mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. KKP mendapat mandat untuk mengoptimalkan produksi perikanan budidata, sebanding dengan potensi yang dimiliki,” ujar Menteri Trenggono.

Menurut Menteri Trenggono, KKP fokus pada produk eskpor komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu udang, lobster dan rumput laut. Komoditas udang dipilih menjadi prioritas berdasarkan data ekspor periode 2020 dengan volume ekspor udang Indonesia mencapai 239.227 ton, dengan nilai US$ 2,04 miliar.

“Diperlukan para kaum milenial yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi terutama dalam dunia industri 4.0. Kita ini punya potensi besar, sehingga perlu kita libatkan kaum milenial untuk mengenal dan terjun langsung dalam dunia akuakultur, ” kata Menteri Trenggono. (ind)