Gerakkan Ekonomi Masyarakat dengan Budidaya Sistem Bioflok

Jakarta (Indoagribiz). Budidaya sistem bioflok yang hemat air dan lahan terus dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ke masyarakat. Inovasi teknologi budidaya ramah lingkungan ini  mampu menggerakkan ekonomi dan produktivitas masyarakat. Implementasi budidaya sistem bioflok ke masyarakat pun saat ini sudah mulai panen.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan,  bantuan budidaya ikan sistem bioflok dapat menjadi solusi pemenuhan pangan masyarakat Indonesia. Sesuai data sensus penduduk terakhir, ada sebanyak 271 juta jiwa penduduk  Indonesia yang harus mendapatkan asupan pangan dengan baik.

Menurut Slamet, budidaya sistem bioflok yang memiliki kelebihan seperti efisiensi pemanfaatan lahan. Limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik sehingga dapat diintergrasikan dengan tanaman seperti sayur dan buah.

“ Inovasi ini dapat menjamin ketersediaan sumber pangan bagi masyarakat,” ujar  Slamet, di Jakarta, Rabu (3/2).

Data Ditjen Perikanan Budidaya menyebutkan,  sepanjang tahun 2020 KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya  telah menyalurkan 421 paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok kepada 379 pokdakan di 32 Provinsi, 190 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Pada tahun 2021, KKP menargetkan  menyalurkan 304 paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok dengan komoditas ikan lele atau nila.

Menurut Slamet, budidaya sistem bioflok juga memiliki keunggulan lain seperti padat tebar yang lebih tinggi, masa pemeliharaan lebih singkat serta efisien dalam penggunaan air dan pemberian pakan. Berbagai kelebihan bioflok ini memberikan keuntungan yang lebih besar kepada masyarakat sekaligus menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya yang ramah lingkungan. Hal ini juga sejalan dengan arahan dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono yang mencanangkan untuk fokus pada perikanan budidaya berkelanjutan.

“Menjadi arahan dari Bapak Menteri agar KKP dapat bersinergi dengan akademisi, pemerintah daerah, kementerian/lembaga lain hingga berbagai elemen masyarakat untuk dapat membangun lokasi budidaya yang berteknologi tinggi namun ramah lingkungan, seperti membangun kampung – kampung budidaya perikanan,”  papar  Slamet.

Dikatakan, budidaya ikan sistem bioflok memiliki potensi untuk dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menerapkan teknologi budidaya, sehingga dapat menjadi bekal ilmu dalam melakukan usaha budidaya ke depan. Karena itu, selain teknologi, implementasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang wajib diterapkan.

“ Seperti penggunaan benih bermutu yang berasal dari induk unggul, pakan yang berkualitas, pengelolaan kualitas air, serta manajemen kesehatan ikan dan lingkungan juga menjadi tambahan ilmu yang penting bagi pelaku usaha budidaya,” kata Slamet.

Menurut Slamet, agar budidayanya berkelanjutan,  pelaku usaha agar memiliki manajemen serta jejaring yang kuat antar sesama pembudidaya sebagai sarana pertukaran informasi. Pelaku usaha harus memiliki jejaring dengan dinas atau penyuluh perikanan setempat untuk mendapatkan transfer teknologi yang tepat.

“Dengan sistem manajemen yang baik dan jejaring yang kuat, budidaya ikan sistem bioflok ini dapat menjanjikan keuntungan yang besar bagi pembudidaya dan berkelanjutan dari sisi usaha maupun lingkungan,” papar Slamet.

Produksi ikan lele dan nila sebagai komoditas yang dibudidayakan pada budidaya sistem bioflok terus mengalami peningkatan sejak tahun 2015-2019. Data sementara mencatat produksi ikan lele mengalami kenaikan sebesar 9.23% per tahun. Sedangkan produksi ikan nila naik rata-rata sebesar 5.59% per tahun (sumber : Satu Data KKP diolah).

Salah satu penerima bantuan budidaya ikan sistem bioflok pada tahun 2020 yakni Yayasan Insan Mandiri Denpasar cabang Lombok telah berhasil melakukan panen perdana setelah melakukan pemeliharaan selama dua bulan.

Romo Patrisius Woda Fodhi sebagai ketua yayasan menyatakan bahwa terdapat beberapa kendala dan tantangan dalam pemeliharaan seperti curah hujan yang tinggi maupun perawatan kualitas air agar lele tidak terjangit penyakit. Namun hal itu dapat diatasi dengan usaha ekstra yang dilakukan oleh pengelola dengan bimbingan dari KKP melalui Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok.

“Kami mendapatkan pendampingan dan pelatihan secara menyeluruh oleh BPBL Lombok, mulai dari persiapan, proses budidaya hingga berhasil panen. Keterampilan ini akan kami teruskan kepada anggota yayasan lain termasuk melibatkan siswa jenjang SMP dan SMA agar mereka memiliki modal ilmu untuk berwirausaha,” kata Romo Patrisius.

Sementara itu Kepala BPBL Lombok, Mulyanto mengatakan,  selain memberdayakan potensi perikanan budidaya, khususnya untuk komoditas lele dan nila, bantuan budidaya ikan sistem bioflok juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga menjadi sentra edukasi. Melalui inovasi teknologi ini,  sehingga dapat mentransfer ilmu dan teknologi kepada masyarakat lebih luas.

“ Dengan edukasi menyeluruh dari KKP serta manajemen usaha budidaya yang baik dari penerima bantuan bioflok ini diharapkan akan lebih banyak kelompok masyarakat maupun lembaga pendidikan di Nusa Tenggara Barat yang akan mendapatkan paket bantuan serupa di masa mendatang,” pungkasnya. (ind)