Genjot Produksi Rumput Laut Melalui Teknik Kultur Jaringan

Jakarta (Indoagribiz).   Rumput laut sampai saat ini masih menjadi tumpuan harapan masyarakat pesisir. Khususnya, di Indonesia bagian timur, budidaya rumput laut menjadi salah satu komoditas unggulan  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang akan terus ditingkatkan produksinya. Guna mewujudkannya,  KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPBN) akan menggenjotnya dengan menerapkan teknik kultur jaringan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, sebagai salah satu bentuk dukungan untuk menyukseskan program Lumbung Ikan Nasional, KKP akan mengidentifikasi potensi pengembangan perikanan budidaya di Maluku dan Maluku Utara serta dilakukan pembangunan kampung budidaya ikan seperti kakap, kerapu hingga budidaya rumput laut. Kampung yang dibangun akan diproyeksikan menjadi pusat ekonomi berbasis kepada komoditas unggulan yang ada di wilayah tersebut.

Menurut Slamet, BPBL Ambon merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yang berperan untuk melakukan pengembangan dan pendistribusian bibit rumput laut di kawasan timur Indonesia. Kedepannya, UPT ini akan mendapatkan tugas untuk membangun kampung rumput laut di daerah Tanimbar.

“ Selain itu akan turut dibangun juga kawasan – kawasan sentra budidaya rumput laut antara lain seperti di Maluku, Papua hingga NTT yang sepenuhnya memakai bibit rumput laut hasil dari kultur jaringan dari UPT DJPB,” kata Slamet, dalam siaran pers, di Jakarta, Senin (8/2).

Saat mendampingi Menteri Kelautan dan Perikanan melakukan peninjauan ke Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon di sela kunjungan kerja dalam rangka pengembangan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN) bersama beberapa kementerian dan lembaga terkait, Slamet mengatakan,  bibit rumput laut kultur jaringan merupakan teknik rekayasa perbanyakan bibit rumput laut. Caranya adalah,  dengan pengambilan jaringan dari induk rumput laut unggul untuk dilakukan pembesaran di laboratorium guna menghasilkan bibit yang berkualitas.

Menurutnya, penggunaan bibit kultur jaringan pada kawasan sentra rumput laut diharapkan dapat mendongkrak produksi rumput laut nasional yang saat ini mencapai 10,5 juta ton menjadi 12-13 juta ton pada tahun 2024. Pada tahun 2020, KKP telah menyalurkan bantuan bibit rumput laut sebanyak 192 ton kepada pembudidaya di seluruh Indonesia.

“ Pada tahun 2021, KKP menargetkan untuk dapat kembali mendistribusikan bantuan bibit rumput laut sebanyak 200 ton serta paket bantuan kebun bibit rumput laut sebanyak 100 paket,” kata Slamet.

Slamet juga mengatakan, keberadaan BPBL Ambon sebagai UPT DJPB, selain menjadi penyokong produksi perikanan budidaya nasional, juga diharapkan dapat menjadi inkubator bisnis sekaligus menjadi penggerak ekonomi di wilayahnya. Selain itu UPT juga harus menjadi pusat layanan dan penyebaran teknologi di daerah serta dapat selalu hadir di saat masyarakat memerlukan solusi sebagai bukti kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.

“Kita harapkan perikanan budidaya tetap menjadi andalan nasional untuk dapat meningkatkan ekspor dan pendapatan masyarakat serta menyerap tenaga kerja di Indonesia,” papar Slamet.

Sementara itu, Kepala BPBL Ambon, Nur Muflich Juniyanto mengatakan, bibit rumput laut hasil kultur jaringan memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya, mutu bibit yang lebih terjamin karena sifat identik dengan induknya, tidak memerlukan lahan yang luas serta mampu menghasilkan bibit dalam jumlah besar.

“Selain itu, dengan sistem produksi kultur jaringan yang dilakukan di laboratorium, maka ketersediaan bibit dapat terjaga sepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh iklim,” kata Anto.

Menurut Anto, sepanjang tahun 2020, BPBL Ambon telah menyerahkan bantuan bibit rumput laut hasil kultur jaringan kepada masyarakat sebanyak 40 ton. “Untuk tahun 2021 selain bantuan bibit rumput laut, kami juga berencana untuk menyalurkan paket bantuan kebun bibit rumput laut kepada masyarakat,” kata Anto

BPBL Ambon berkomitmen mendukung kesuksesan program Lumbung Ikan Nasional di Maluku. “Kami siap untuk melaksanakan tugas dan mencapai target yang telah diamanahkan dengan sebaik-baiknya,” ujar  Anto.

Sementara itu Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Safri Burhanuddin mengatakan, dengan ditetapkan sebagai Lumbung Ikan Nasional, Maluku menjadi salah satu target pembangunan utama yang menjadi prioritas untuk dapat diwujudkan.

“Pendapatan masyarakat pada subsektor perikanan budidaya diproyeksikan akan lebih tinggi dari subsektor perikanan tangkap dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Lokasi pengembangan budidaya juga terus berkembang secara luas, terutama budidaya laut dengan komoditas seperti kerapu dan lobster” kata Safri.

Menurut Safri, tim teknis di daerah harus dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat, untuk itu diperlukan kompetensi yang mumpuni dari personel yang ada di lapangan.

“Pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM agar dapat diperbanyak dan dilakukan secara berkala agar mereka dapat menjadi agen perubahan untuk menggerakkan perekonomian rakyat,” pungkas Safri. (ind)