Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee Aceh, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sukses melakukan pengembangan teknologi pembenihan ikan nila salin. UPT Perikanan Budidaya itu berhasil mengembangkan teknologi dengan sistem corong.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, teknologi pembenihan dengan sistem corong ini akan mampu menggenjot peningkatan produktivitas dan produksi benih nila salin.

“Perlakuan ini memungkinkan telur ikan yang berada dalam tabung corong akan mengikuti pergerakan sirkulasi air sehingga dapat mencegah antar telur lengket atau menggumpal. Presentase tingkat penetasan telur atau hatching rate (HR) pun meningkat drastis,” ujar Slamet

Kepala BPBAP Ujung Batee, Bukhari Muslim menjelaskan, cara kerja teknologi pembenihan ini yaitu memanfaatkan tabung corong dan resirkulasi air. Tabung corong berfungsi untuk menampung telur dan mengatur suhu air. Kemudian air dialirkan masuk ke dalam corong dan berfungsi untuk mengaduk telur agar tidak menumpuk di dasar tabung corong.

Untuk mencegah agar telur tidak keluar corong tapi juga tidak menggumpal, kata Bukhori, maka tekanan air diatur sedemikian rupa. Telur yang sudah menetas dan menjadi larva kemudian akan jatuh mengikuti arus air dan tertampung dalam jaring yang sudah disiapkan dalam bak penampungan larva.

“Teknologi pembenihan dengan sistem corong merupakan teknologi sederhana, namun sangat efektif dalam menaikkan tingkat penetasan telur. Bila dibandingkan teknik pembenihan umumnya, perbedaan hanya pada penambahan peralatan berupa tabung corong dan mengatur sirkulasi air. Oleh karena itu, teknologi ini sangat adaptif dan dapat diterapkan di masyarakat,” papar Bukhari.

Lebih jauh Bukhari mengatakan, untuk penerapan teknologi ini dalam skala ekonomi, pembudidaya minimal memiliki 5 tabung corong berdiameter 15 cm dan tinggi 50 cm, ditambah dengan tabung filter (waterco), jaring penampung, dan mesin pompa. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp2 juta. Dari 5 tabung corong kapasitas 5 liter per tabung tersebut, pembudidaya setidaknya dapat memproduksi sekitar 300 ribu-500 ribu benih nila salin per tahun.

BPBAP Ujung Batee sendiri saat ini memiliki sekitar 30 tabung dan mampu memproduksi  3,6 juta benih ikan nila per tahun. Strain ikan nila yang dikembangkan yaitu nila sultana dan gesit, yang di Aceh biasa disebut dengan nila payau. Sebagaimana nila salin, nila payau juga dibudidayakan di perairan payau. Benih nila payau produksi BPBAP Ujung Batee telah dimanfaatkan oleh pembudidaya ikan di berbagai wilayah di Provinsi Aceh seperti Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Aceh Jaya, Nagan Raya, Melabouh, Aceh Barat Daya, Tapak Tuan, dan  Aceh Tengah. Teknologi ini juga sudah mulai diterapkan oleh pembenih di Kota Pematang Siantar Provinsi Sumatera Utara.

Penetasan telur capai 90%

Sebagai perbandingan, nilai HR (hatching rate) untuk pembenihan dengan sistem konvensional hanya mencapai 20%-40 %. Sedangkan dengan menggunakan teknologi sistem corong, HR dapat didorong hingga mencapai 90%.

“Nilai HR sebesar ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dalam proses penetasan telur ikan nila payau,” jelas Bukhari.

Berdasarkan data KKP tahun 2011 – 2015 produksi benih ikan air tawar secara nasional mengalami kenaikan rata-rata 20,26% per tahun. Kenaikan produksi benih tersebut seiring dengan kenaikan produksi perikanan budidaya, yaitu rata-rata 19,08% dalam rentang waktu yang sama.

Produksi perikanan budidaya pada tahun 2015 mencapai 15,63 juta ton di mana dari volume produksi tersebut, budidaya air tawar menyumbang sebesar 2,81 juta ton.

Untuk memproduksi ikan air tawar sebesar itu, produksi benih ikan air tawar tahun 2015 mencapai 72,3 miliar ekor. Sedangkan untuk kebutuhan benih semua jenis ikan (tawar, payau dan laut) diproyeksikan pada tahun 2019 mencapai 141,1 miliar ekor. Produksi benih sebesar itu diharapakan dapat mendukung target produksi perikanan budidaya yang juga terus meningkat. Pada tahun 2019, produksi perikanan budidaya ditargetkan mampu mencapai 31,3 juta ton.

Dirjen Slamet berharap inovasi teknologi pembenihan dengan sistem corong ini dapat dimanfaatkan oleh para pembudidaya di berbagai wilayah di Indonesia serta dapat diadopsi untuk pembenihan jenis ikan yang lain, sehingga produksi berbagai jenis benih ikan akan terjamin dan mampu mendukung kenaikan produksi perikanan budidaya. (NS)