Geliat Budidaya Udang Pantura Jawa

Jakarta (Indoagribiz)—– Komoditas udang (vaname) hingga saat ini masih menjadi andalan ekspor perikanan budidaya.  Lantaran potensi dan peluang pasarnya luas, sejumlah petambak udang di Pantai Utara (Pantura) Jawa pun semakin bergairah membudidaya udang melalui budidaya berkelanjutan.

Salah satu petambak udang Indramayu, Jawa Barat (Jabar), H. Maftuchin mengatakan,  di saat pendemi covid 19,  budidaya udang di Indramayu, Subang dan sejumlah daerah lainnya di Pantura Jawa berjalan cukup baik.  Petambak udang  Pantura Jawa sudah mulai tanam sejak awal tahun ini, bahkan  setiap empat bulan sekali sudah panen.

“ Kondisi kami di saat pandemi covid 19 ini memang berat, karena kami butuh modal yang tak sedikit untuk budidaya udang. Alhamdulillah saya manfaatkan kredit berbunga murah dari Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) untuk budidaya udang ,” ujar Maftuchin, di Jakarta, Minggu (17/10).

Berbekal pinjaman modal Rp 2 miliar itulah, Maftuchin  mengembangkan 18 kolam tambaknya dengan budidaya udang berkelanjutan. Tambak udang dengan padat tebar 120 ekor/meter tersebut, Agustus lalu panen sebanyak 61 ton. Panen kali ini merupakan, hasil dari tanam udang pada akhrir April lalu.

Maftuchin mengaku, di tengah pandemi covid 19 ini, dari petambak yang ada di Pantura Jawa baru sekitar 30 persennya yang sudah mulai tanam (budidaya) udang. Hal itu, dikarenakan sebagian besar petambak udang Pantura Jawa bermodal pas-pasan, sehingga tak sedikit yang terbentur permodalan untuk memulai usaha budidaya udang.

Menurut Maftuchin, karena belum semua petambak mulai tanam udang, maka pasar udang (khususnya di dalam negeri), kekurangan pasokan, sehingga harga udang dari berbagai ukuran saat ini relatif mahal. Bahkan, udang asal Indramayu dan sekitarnya yang dipasok ke Muara Baru, Jakarta Utara (Jakut) semuanya terserap pasar.

Udang ukuran 100 ekor per kg (kecil), saat ini harganya Rp 50 ribu per kg, dari sebelumnya Rp 41.500. Sedangkan udang ukuran 50 ekor per kg, harganya Rp 73 ribu per kg dari sebelumnya Rp 64.500 per kg. Udang ukuran besar, 30 ekor per kg, saat ini harganya Rp 98.000, dari sebelumnya hanya Rp 89.500.

“ Harganya naik, karena pasokan udang belum banyak. Kebutuhannya 100 ton per hari, tapi hanya mampu terisi sekitar 40-50 ton/hari. Mestinya, saat ini adalah momentum yang tepat untuk budidaya udang,” kata Maftuchin.

Selain faktor permodalan, efek pandemi covid 19 yang terjadi pada Maret 2020 lalu juga menjadi penyebab belum semuanya petambak tanam udang. Benur lokal yang dibudidaya selama pandemi covid 19, hasilnya juga kurang bagus. Begitu juga pengaruh cuaca sangat menentukan keberhasilan budidaya udang.  Artinya,  banyak faktor yang harus dilalui dalam pengembangan budidaya udang berkelanjutan ini.

Hal senada juga diungkapkan, salah satu petambak udang Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), Yanuar Toto Raharjo. Menurutnya, prospek budidaya udang Pantura Jawa cukup bagus. Pembudidaya udang Pantura Jawa, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur saat ini sudah terlihat menggeliat. Bahkan, petambak udang di Pantura Jawa sudah banyak yang menerapkan sistem klaster dengan padat tebar tinggi.

“ Selain di Pantura Jawa, petambak udang di daerah lainnya, seperti di Nusa Tanggara, Sulawesi kondisinya baik-baik saja selama pandemi covid 19. Karena mereka sudah menerapkan sistem, budidaya sesuai dengan kondisi daerahnya. Mereka sudah terapkan biosecuriti. Jadi, saya perkirakan produksinya perlahan akan naik,” kata Yanuar.

Yanuar yang juga Ketua Harian SCI Banyuwangi ini mengaku, untuk menggenjot ekspor udang 250 persen pada 2024, selain  intensifikasi diperlukan kebijakan untuk ekstensifikasi. Hal itu dikarenakan, Indonesia ini negara kepulauan, sehingga pengembangan udang bisa dilakukan di sejumlah daerah yang potensial melalui sistem klaster berkelanjutan.

Guna mewujudkan mimpi tersebut, lanjut Yanuar, harus dibarengi dengan regulasi di setiap daerah. Artinya, ada daerah tertentu yang bisa 100 persen intensif, tapi ada daerah tertentu yang diperketat sesuai carrying capacity (daya dukung).

Yanuar mengatakan, untuk menggenjot produksi udang, KKP harus melakukan sosialisasi ke masyarakat (petambak).  Khususnya untuk petambak udang tradisional yang banyak tersebar di Pantura Jawa dan daerah lainnya, harus diberi pengetahuan tambahan tentang budidaya udang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Jangan sampai, petambak udang  tradisional salah persepsi dalam memanfaatkan probiotik.

“Karena penggunaan probiotik itu lebih tepat dilakukan untuk petambak udang intensif. Kalau dikembangkan di tambak tradisional akan sia-sia. Begitu juga tentang padat tebarnya, harus disesuaikan dengan daya dukung lingkungannya,” jelasnya.

Klaster Tambak Udang Berkelanjutan

Budidaya udang di Pantura Jawa sudah banyak yang memanfaatkan sistem klaster. Bahkan, klaster budidaya udang di Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jabar), yang sudah panen dan menyerap tenaga kerja bisa diaplikasi di kawasan Pantura Jawa.

“ Waktu panen, saya ke Cidaun dan saya lihat, terobosan yang dilakukan pemerintah bisa diadopsi di Pantura Jawa,” ujar Maftuchin.

Menurut Maftuchin, sudah banyak petambak Pantura Jawa yang memanfaatkan sisem klaster, dimana dalam satu kawasan tambak harus ada tandon dan instalasi pembuangan air limbah (IPAL). Hanya saja, petambak udang Pantura Jawa  modalnya pas-pasan. Sehingga, dampak pandemi covid 19 sangat dirasakan para petambak udang.

Maftuchin berkeyakinan, petambak udang Pantura Jawa bisa bangkit apabila ada stimulus dan berbagai kebijakan dari pemerintah untuk mendorong produksi. Stimulus berupa pinjaman berbunga rendah (BLU LPMUKP) yang dikembangkan KKP sangat membantu petambak. Apalagi kalau ada bantuan benur, kincir dan pakan, tentu akan mendorong semangat petambak untuk mengembangkan usahanya.

“Khususnya bantuan benur seperti yang dilakukan KKP di sejumlah daerah akan sangat membantu mereka. Begitu juga pendampingan dan pembentukan koperasi petambak udang akan membantu permodalan,” kata Maftuchin.

Optimalisasi dan Revitalisasi Tambak Rakyat

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimis target ekspor udang 250 persen pada 2024 bisa dicapai.  Guna  mencapai target tersebut, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya segera mengoptimalkan tambak rakyat yang masih idle. Tambak udang yang umumnya dikelola secara tradisional ini akan didorong menjadi tambak semi intensif dan intensif.

Menurut Menteri Trenggono, apabila dilakukan revitalisasi tambak, maka produktivitas tambak rakyat yang  semula 0,6 ton per ha/tahun  bisa meningkat  sebanyak 2 ton per ha/tahun. Artinya, dengan revitalisasi akan terjadi peningkatan produksi udang yang signifikan.

“ Kami akan membangun model tambak udang terintegrasi dengan luasan 1.000 ha. Di satu kawasan tambak ini nanti berdiri pula laboratorium, hatchery, coldstorage hingga ekosistem usaha seperti pabrik pakan, pabrik es, hingga kuliner,” jelas Menteri Trenggono.

Tambak rakyat yang masih idle tersebut, lanjut Menteri Trenggono akan dikembangkan menjadi tambak budidaya udang sistem klaster budidaya berkelanjutan seperti di Aceh Timur dan Cidaun (Jabar). Kini, tambak udang di dua daerah tersebut sudah menuai hasil dan membantu manyerap lapangan kerja masyarakat sekitar.

Hal senada diungkapkan, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu. Menurut Tebe, begitu sapaan akrab Tb Haeru, produktivitasnya tambak udang sistem klaster di Cidaun cukup bagus. Pada panen parsial mampu memproduksi udang sebanyak 5 ton dengan harga Rp 60 ribu (ukuran 80 per kg).

Klaster tambak udang vaname di Cidaun terdiri dari 15 kolam produksi, tiga tandon dan satu kolam IPAL. Tambak ini mulai beroperasi akhir tahun lalu, dengan panen pada siklus pertama kurang lebih 32 ton.  “Panen kali ini merupakan panen parsial pertama di siklus kedua,” ujarnya.

Menurut Tebe,  hasil panen total pada siklus kedua diperkirakan tak akan jauh berbeda dari hasil panen pada siklus sebelumnya, karena jumlah benur serta padat tebarnya terbilang sama. Namun,  tolok ukur produktivitas tidak hanya kuantitas udang yang dihasilkan tapi juga keberlanjutan produksi udang melalui tambak yang sudah dibangun.

“ Pemahaman masyarakat, khususnya petambak dalam melakukan budidaya udang yang baik dan ramah lingkungan sangat penting. Yang penting berkesinambungan dan masyarakatnya paham dulu cara budidaya yang baik. Pelan-pelan yang penting produktif,” kata Tebe.

Diharapkan, petambak udang lebih meningkatkan pengelolaan IPAL yang sudah dibangun sehingga aliran limbah tidak membahayakan ekosistem saat dialirkan kembali ke laut. Dalam budidaya berkelanjutan,  kelestarian ekosistem menjadi kunci utama. Alhasil, bukan hanya tambaknya saja yang berkelanjutan, tapi usahanya juga berkesinambungan. (indarto)

Sumber Foto.Dok: Indarto