Food Estate, Dorong Perbaikan Ekonomi Petani Sumba Tengah

Nusa Tenggara Timur (Indoagribiz).  Food estate yang dikembangkan  di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi berkah bagi petani. Bahkan,  implementasi food estate di NTT ini merupakan langkah yang tepat, karena akan menjadi prioritas kerja utama yang memiliki dampak besar terhadap perbaikan ekonomi di Sumba Tengah.

Bupati Sumba Tengah, Paulus Limu menyampaikan terimakasih atas dukungan pemerintah pusat dalam mengembangkan program jangka panjang food estate di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sejak Pak Mentan meresmikan food estate di Sumba Tengah, kami sangat apresiasi karena kebijakan ini sangat mulia dan sangat berharga dihati masyarakat Sumba Tengah, karena sebelumnya kami adalah kabupaten termiskin di Indonesia, yakni 36 persen,” kata Paulus , di Sumba Tengah, Jumat (12/2).

Menurut Paulus, food estate di Sumba Tengah terbagi menjadi 5 zona. Zona 1 ada di Desa Umbu Pabal, zona 2 di Desa Umbu Pabal Selatan, zona 3 di Desa Elu, zona 4 di Desa Makatakeri dan zona 5 di Desa Tanamodu, Kecamatan Katikutana Selatan.

Food estate di Sumba Tengah seluas 5.000 hektare (ha).  Terdiri dari, lahan sawah 3.000  ha dan lading 2.000.  “ Semuanya berjalan dengan baik,”  ujarnya.

Paulus mengatakan,  sejauh ini para petani dan masyarakat Sumba Tengah menyambut antusias kehadiran program food estate di 5 zona tersebut. Apalagi, program ini diyakini mampu menaikan taraf hidup mereka dengan mendulang hasil penen yang jauh lebih besar.

” Sejak ada food estate kami jadi lebih cepat untuk bertanam dan produksinya bagus. Artinya yang tidak terolah menjadi terolah. Kenapa? Karena mekanisasi masuk dan bantuan lainnya juga masuk,” papar Paulus.

Dominggus, salah satu petani di Desa Makatakeri menyambut antusias jalanya program jangka panjang pemerintah. Food Estate  yang telah dikembangkan tumbuh  dengan baik. Bahkan, food estate sangat berdampak terhadap roda ekonomi keluarga, karena biaya produksi bertani jauh lebih murah.

“Terimakasih kepada bapak Jokowi dan juga kepada Bapak Menteri (Syahrul Yasin Limpo) karena saya dibantu pupuk dan Alsintan (Alat mesin pertanian), sehingga bertanam dan panen jadi lebih cepat dan menghemat biaya,” katanya

Menurut Dominggus, penghematan biaya bisa dihitung dari proses tanam yang biasanya memakan waktu 2 hari menjadi 2 jam. Sebelumnya petani tak pernah menggunakan pupuk, karena terkendala biaya dan ongkos pengambilan yang sangat mahal.

“Biasanya dulu tanam memakan waktu 2 hari. Saya tak bisa apa-apa karena uang terbatas. Sekarang sudah dibantu pemerintah hanya 2 jam. Kami juga diberi bantuan pupuk. Saya berharap tahun depan food estate tetap berlanjut,” pungkas Dominggus. (ind)