Food Estate Bisa Diaplikasi di Indramayu

Jakarta (Indoagribiz).   Food estate yang dicanangkan pemerintah bisa diaplikasi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (Jabar). Caranya adalah dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan tanah kehutanan dengan program perhutanan sosial  yang luasnya sekitar 20.000 hektar (ha).

Ketua Pengda Wamti Kabupaten Indramayu,  Wawan Sugiarto mengatakan, food estate adalah salah satu isu yang mengemuka dalam Rakoorda ke 1 Pengda Wamti Indramayu tahun 2021.  “ Kawasan hutan di Kabupaten Indramayu, bisa dijadikan bahan dasar untuk pembangunan food estate yang menggabungkan sektor pertanian, perkebunan dan peternakan yang saling terkait, terpadu, sehingga bisa dijadikan sumber peningkatan lumbung pangan nasional,” kata Wawan, di Jakarta, Selasa (26/1).

Selain mengembangkan food estate di Indramayu, Wawan juga berharap adanya rehabilitasi jaringan irigasi pertanian. Sebab, potensi lahan sawah seluas 112.000 ha bisa  menjadikan Indramayu sebagai lumbung pangan nasional. Luasan lahan sawah ini menduduki peringkat ke 1 se Jabar. Sedangkan, luasan sawah di Jabar menempati peringkat ke 2 secara nasional.

“ Tentunya kondisi tersebut, bisa dipertahankan ketika fungsi jaringan irigasi tetap terjaga sebagai pengambil, penampung dan pembagi ke petak-petak sawah petani. Kondisi jaringan irigasi pertanian perlu mendapat rehabilitasi atau perbaikan, karena kondisi sebagian besar tidak berfungsi atau rusak, khususnya jaringan irigasi tersier,” paparnya.

Wawan juga mengungkapkan, untuk menyokong keberlanjutan pertanian juga diperlukan sarana dan prasarana produksi seperti pupuk. Sehingga, isu kekacauan distribusi pupuk bersubsidi jangan sampai terulang pada 2021. Mengingat kebutuhan  pupuk kimia sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman khususnya padi.

Pupuk kimia digunakan dan dimanfaatkan petani sesuai dosis anjuran berdasarkan spesifikasi kondisi tanah di masing-masing daerah. Namun, pola dan waktu distribusi tidak sesuai dengan jadwal tanam dan pengawasan yang lemah, sehingga sering kali distribusi pupuk di luar peruntukan dan jadwal tanam. Akibatnya terjadi kelangkaan pupuk, harga mahal dan subsidi tidak nyampe ke petani, dampaknya biaya operasional tinggi dan keuntungan berkurang.

“ Solusinya adalah merevitalisasi agen pendistribusi pupuk baik distributor maupun kios,” ujarnya.

Analisa dan diskusi, yang berkembang pada Rakoorda ke 1 Pengda Wamti Indramayu tahun 2021 juga mengemuka isu pemberdayaan petani. Dimana pemberdayaan petani selama ini masih kurang optimal. Sehingga, peril upaya peningkatan kapasitas wawasan dan pengalaman petani melalui wadah kelompok tani.

Diharapkan, dengan diberbadayakannya kelembagaan petani maka akan hadir perlindungan bagi petani, peningkatan kapasitas petani yang pada akhirnya timbul kreatifitas dan inovasi dari petani dalam upaya peningkatan usaha tani nya.  Apabila kondisi ini tercipta, maka program dan upaya peningkatan kesejahteraan petani bisa dengan mudah tercapai.

“ Untuk itu, perlu solusi optimalisasi perda perlindungan dan pemberdayaan kelompok tani,” kata Wawan.

Wawan yang juga Ketua Persatuan THLTBPP Indonesia ini mengatakan,   pendataan petani sebagai pelaku utama, database petani, lahan dan potensi pertaniannya lainya dalam setiap desa masih kurang ajeg. Hal ini akan menjadi persoalan bagi pihak yang berkepentingan untuk kepentingan yang lebih luas.

“ Karena itu, diperlukan registrasi ulang bagi pelaku utama di sektor pertanian, untuk memudahkan perhitungan program pengembangan di sektor pertanian dan lainnya,” paparnya.

Menurut Wawan, pembangunan kawasan agroindustri, potensi pertanian dan kelautan di Kabupaten Indramayu, sangat potensial untuk dikembangkan. Keberadaan industri yang mengolah hasil pertanain, peternakan dan perikanan sangat penting dilakukan. Melalui industri pengolahan inilah para pelaku usaha mendapat nilai tambah yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan para pelaku utama.

Hal yang tak kalah krusial dalam pembangunan pertanian, lanjut Wawan, adalah pembuatan kanal selatan Indramayu. Sebab,  untuk meningkatkan produktivitas pertanian diperlukan sumber air yang memadai. Apalagi di wilayah selatan Indramayu, masih kesulitan petani untuk mendapatkan air.

“ Umumnya petani di wilayah selatan Indramayu masih pertanian tadah hujan, sehingga diperlukan upaya pembuatan kanal selatan Indramayu yang menghubungkan sumber air Waduk Jadi Gede dengan Waduk Jatiluhur,” kata Wawan. (ind)